Lewat NGOPI MANTAB, PMI Papua Gulirkan Gerakan GERBANG TERANG


ANEWS.co, Papua – Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Papua membuat terobosan baru dalam dunia kemanusiaan dengan meluncurkan gerakan GERBANG TERANG (Gerakan Membangun Terumbu Karang). Program pelestarian lingkungan ini diresmikan di tengah pelaksanaan forum interaktif NGOPI MANTAB (Ngobrol Pintar Masyarakat Aman dan Tangguh Bencana) Edisi 1 Papua yang digelar langsung di kawasan pesisir pantai Papua. Selasa, (16/6)
Melalui aksi nyata ini, PMI Papua memperluas spektrum kerja kemanusiaannya. Mereka tidak hanya berfokus pada penanganan tanggap darurat pascabencana konvensional seperti ambulans dan kantong darah, melainkan beralih ke arah mitigasi bencana jangka panjang yang berbasis pada pemulihan ekosistem laut (ecosystem-based disaster risk reduction).

Membangun Benteng Biru: Solusi Alami Pengikis Abrasi

Wilayah pesisir Papua dianugerahi garis pantai yang sangat panjang dan kekayaan biota laut yang melimpah. Namun, di balik keindahan tersebut, masyarakat pesisir setiap hari dihadapkan pada ancaman nyata seperti abrasi pantai yang agresif, gelombang pasang ekstrem akibat perubahan iklim, hingga ancaman tersembunyi berupa bencana tsunami.
Gerakan GERBANG TERANG hadir untuk menjawab tantangan geografis tersebut. Fokus utama dari gerakan ini adalah restorasi wilayah perairan dangkal lewat teknik transplantasi terumbu karang.

Karang Sebagai Infrastruktur Alami

Ketua PMI Provinsi Papua, Zakius Degei, S.T., dalam sambutan resminya saat membuka acara, menegaskan bahwa menjaga kelestarian alam dan menyelamatkan jiwa manusia adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. 
Konsep mitigasi bencana modern harus mulai mengadopsi apa yang sudah disediakan oleh alam, bukan sekadar bertumpu pada proyek fisik infrastruktur keras yang kaku.
"Mitigasi bencana tidak selalu harus berupa pembangunan dinding beton yang kaku di tepi pantai. Tuhan telah menyediakan infrastruktur terbaiknya, yaitu terumbu karang. Terumbu karang yang sehat adalah benteng alami—sebuah Benteng Biru—yang mampu meredam energi ombak hingga lebih dari 90 persen sebelum menyentuh bibir pantai," papar Zakius Degei di hadapan puluhan peserta yang hadir.

Zakius menegaskan,

 “Menyelamatkan nyawa manusia tidak bisa dipisahkan dari upaya kita menyelamatkan alam tempat manusia itu hidup. Menanam karang adalah misi kemanusiaan yang komprehensif; melindungi jiwa dari bencana sekaligus menjaga masa depan.”

Zakius juga menambahkan bahwa aksi transplantasi karang ini merupakan investasi jangka panjang demi keselamatan generasi mendatang di tanah Papua. 
"Dengan melakukan transplantasi terumbu karang, kita sedang membangun benteng perlindungan hidup bagi anak cucu kita di masa depan. Anggaplah setiap struktur karang yang kita turunkan ke dasar laut sebagai bentuk investasi cinta kita untuk keselamatan tanah Papua," tambahnya penuh semangat.

Sinergi Lintas Sektor dan Dukungan Agenda Global SDGs

Gerakan GERBANG TERANG bukan hanya sekadar aksi menanam karang lokal, melainkan juga bagian dari komitmen nyata PMI Papua dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan global, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 14 mengenai Pelestarian dan Pemanfaatan Berkelanjutan Ekosistem Laut.

Kolaborasi Bersama Dinas Kelautan dan Perikanan

Langkah inovatif PMI Papua ini mendapatkan apresiasi tinggi dari institusi pemerintah daerah. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua, Ir. Iman Djuniawal, yang hadir sebagai narasumber utama, menyatakan bahwa inisiatif yang diambil oleh organisasi kemanusiaan seperti PMI ini merupakan lompatan besar yang sangat membantu tugas-tugas pemerintah dalam menjaga kelestarian laut.
"Kami dari dinas memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PMI Papua. Merawat terumbu karang bukan sekadar urusan estetika bawah laut atau pariwisata semata. Ini adalah tentang menjaga rumah bagi ikan-ikan yang menjadi sumber pangan utama dan mata pencaharian nelayan kita di bumi Cenderawasih," kata Ir. Iman Djuniawal.
Iman menjelaskan bahwa kerusakan terumbu karang akan langsung menghantam ekonomi masyarakat pesisir karena komoditas tangkapan laut pasti menurun drastis. Sinergi ini diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan lokal secara mandiri.

Paradigma Baru Mitigasi Menurut BPBD Provinsi Papua

Apresiasi senada juga datang dari pihak otoritas penanggulangan bencana daerah. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua, Barkah Wisnu Raditya, S.T., M.Si., menyatakan dukungannya terhadap forum dialog interaktif dan implementasi gerakan GERBANG TERANG ini.
"Ini adalah sebuah paradigma baru dalam mitigasi bencana di Papua. Selama ini kita terlalu sering berpikir tentang pembangunan struktural seperti tanggul laut. Apa yang diinisiasi oleh PMI dengan konsep 'Benteng Biru' ini membuktikan bahwa pendekatan ekosistem jauh lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan," tutur Barkah Wisnu Raditya.
Menurut Barkah, BPBD siap mengawal dan mengintegrasikan program restorasi karang ini ke dalam rencana induk kesiapsiagaan bencana daerah tingkat provinsi.

Antusiasme Peserta: Melawan Hujan Demi Komitmen Bersama

Meskipun pada awal pembukaan acara wilayah pesisir Papua sempat diguyur hujan deras, hal tersebut sama sekali tidak menyurutkan semangat para peserta. Forum NGOPI MANTAB Edisi 1 ini berjalan sangat dinamis dan interaktif. Berbagai pertanyaan, masukan, dan ide-ide segar saling bertukar antara narasumber dan audiens yang hadir di lokasi.

Keterlibatan Unsur Pentaheliks dalam Acara

Keberhasilan pelaksanaan kegiatan dialog interaktif ini didukung oleh keterwakilan unsur-unsur penting di masyarakat secara masif. Berdasarkan data panitia, forum ini dihadiri oleh lebih dari 70 orang peserta yang merupakan perwakilan resmi dari 42 instansi. Komposisi peserta meliputi:
  • Sektor Akademisi: Pakar kelautan dari Universitas Cenderawasih (UNCEN), termasuk Dr. Yunus P. Paulangan, S.Kel., M.Si. yang bertindak sebagai narasumber ilmiah.
  • Dunia Usaha: Pengusaha lokal yang peduli pada isu kelestarian lingkungan pesisir.
  • Media Massa: Jurnalis dari berbagai media cetak, elektronik, dan daring.
  • Masyarakat Lokal: Perwakilan nelayan tradisional dari desa-desa pesisir pantai serta jajaran aparat kampung setempat.
  • Internal PMI: Pengurus PMI Kabupaten, PMI Kota, Tenaga Sukarela (TSR), Korps Sukarela (KSR), hingga anggota Palang Merah Remaja (PMR).
Acara ini juga dikawal langsung oleh jajaran internal inti pengurus pimpinan wilayah, di antaranya Sekretaris PMI Papua dr. Raflus Doranggi, M.H., Wakil Sekretaris Ibu Ratna Fakhiri, SP., Bendahara Esron Siahaan, serta Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya (PSD) Bapak Djimmy Douw.
praktek pengikatan bibit karang dipandu dari UNCEN

Suara dari Akar Rumput: Harapan Nelayan Tradisional

Keterlibatan langsung masyarakat lokal (terutama para nelayan) menjadi ruh utama dari gerakan GERBANG TERANG. 
Keberlanjutan terumbu karang hasil transplantasi nantinya akan sangat bergantung pada pengawasan masyarakat adat dan nelayan di sekitar pantai.
Seorang nelayan lokal yang menjadi salah satu peserta forum, yang meminta identitasnya tidak disebutkan demi kenyamanan, mengungkapkan rasa haru dan optimisme besarnya terhadap program kerja bentukan PMI ini.
"Awalnya kami bingung kenapa orang-orang memakai seragam PMI datang ke pantai bukan bawa ambulans, malah membahas karang laut. Tapi setelah mendengar penjelasan dari bapak ketua dan para narasumber, kami baru sadar bahwa kalau karang kami rusak, ombak besar langsung hantam rumah kami di pinggir pantai dan ikan-ikan pun hilang jauh ke tengah laut," aku nelayan tersebut dengan jujur.
Ia menambahkan bahwa seluruh perwakilan desa nelayan yang hadir merasa sangat dihargai karena dilibatkan sejak awal perencanaan. 
"Kami sangat senang dan berterima kasih. Kami siap menjaga media transplantasi karang yang akan ditanam nanti. Ini demi masa depan anak-anak kami agar tetap bisa melaut dengan aman," pungkasnya.

Penandatanganan Komitmen Bersama GERBANG TERANG

Sebagai puncak dari forum dialog interaktif NGOPI MANTAB tersebut, seluruh elemen yang hadir—mulai dari pejabat pemerintah provinsi, akademisi, pimpinan lembaga sosial, perwakilan media, hingga masyarakat adat pesisir—berkumpul bersama untuk melakukan prosesi penandatanganan dokumen komitmen bersama.
Dokumen kesepahaman bersama tersebut menandai dimulainya gerakan GERBANG TERANG secara masif di tanah Papua. Isinya memuat poin-poin pakta integritas untuk menghentikan aktivitas penangkapan ikan menggunakan bahan peledak atau racun yang merusak karang, serta kewajiban bersama untuk melakukan monitoring berkala terhadap laju pertumbuhan karang yang telah ditransplantasikan.
Dengan ditutupnya forum ini menggunakan pekikan khas persaudaraan PMI, "Siamo Tutti Fratelli!" (Kita Semua Bersaudara) dan salam adat Papua "Wa Wa Wa", gerakan GERBANG TERANG resmi berjalan sebagai tonggak sejarah baru aksi kemanusiaan hijau di ujung timur Indonesia.
Penulis: Amin 
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Lewat NGOPI MANTAB, PMI Papua Gulirkan Gerakan GERBANG TERANG
  • Lewat NGOPI MANTAB, PMI Papua Gulirkan Gerakan GERBANG TERANG
  • Lewat NGOPI MANTAB, PMI Papua Gulirkan Gerakan GERBANG TERANG
  • Lewat NGOPI MANTAB, PMI Papua Gulirkan Gerakan GERBANG TERANG
  • Lewat NGOPI MANTAB, PMI Papua Gulirkan Gerakan GERBANG TERANG
  • Lewat NGOPI MANTAB, PMI Papua Gulirkan Gerakan GERBANG TERANG

Post a Comment