PMI Dirikan Tenda Darurat Siswa di Boleng
ANEWS.co, MANGGARAI BARAT – Sektor pendidikan di wilayah pelosok Nusa Tenggara Timur saat ini tengah menghadapi tantangan berat pascabencana alam. Aktivitas belajar mengajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Boleng, yang terletak di Desa Golo Ketak, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, belum dapat berlangsung secara normal setelah gempa berdampak pada bangunan sekolah. Gempa bumi yang berulang kali mengguncang kawasan tersebut tidak hanya merusak fasilitas fisik sekolah, tetapi juga menyisakan trauma psikologis mendalam di kalangan warga sekolah.
Meskipun secara kasat mata struktur utama bangunan sekolah dinilai masih berdiri dan dapat digunakan, hasil pemeriksaan mandiri memperlihatkan sejumlah kerusakan ditemukan pada bangunan sekolah. Retakan dan penurunan tanah di beberapa titik dinilai terlalu berisiko untuk diabaikan. Kondisi tersebut membuat guru dan siswa belum berani melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam gedung demi menghindari potensi bahaya fatal yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Marcelinus Jehani, seorang guru Bahasa Inggris di SMPN 4 Boleng, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kondisi riil ruang kelas tempat anak-anak biasanya menuntut ilmu. Ia memaparkan bahwa ancaman keruntuhan akibat kerusakan fisik tersebut sangat nyata di depan mata mereka.
“Pada beberapa ruang pada bangunan milik sekolah mengalami penurunan, dimana ada beberapa ubin yang ambruk dan pecah. Dinding pada ruangan laboratorium juga mengalami retak,” ujar Marcelinus Jehani saat merinci tingkat kerusakan fasilitas sekolah tersebut.
Kerusakan pada sarana prasarana penunjang praktikum seperti laboratorium tentu mengganggu jalannya kurikulum pembelajaran. Namun, kendala fisik itu rupanya masih kalah besar dibandingkan dengan kendala psikologis yang saat ini menggelayuti pikiran para siswa dan tenaga pendidik. Menurut Marcelinus salah seorang guru, para guru dan siswa masih mengalami trauma akibat gempa. Ketakutan kolektif ini kian diperparah oleh situasi alam yang belum sepenuhnya stabil, di mana kekhawatiran juga semakin besar karena gempa susulan masih terjadi hampir setiap hari.
“Kami masih trauma, apalagi gempa susulan masih sering terjadi. Kami tidak bisa menjamin apakah bangunan ini masih akan tetap berdiri jika gempa kembali terjadi,” katanya dengan nada cemas.
Situasi darurat yang diselimuti rasa takut ini berdampak langsung pada proses belajar mengajar bagi 83 siswa kelas 1 hingga 3 SMP. Meskipun tidak ada siswa maupun guru yang menjadi korban dalam kejadian gempa, kerugian sosial yang dialami masyarakat Boleng tetaplah besar. Kondisi diperumit karena sejumlah siswa terdampak karena rumah mereka mengalami kerusakan akibat guncangan gempa yang sama. Anak-anak ini harus menghadapi kenyataan pahit di mana tempat tinggal dan tempat belajar mereka sama-sama dalam kondisi tidak aman.
Demi menyelamatkan masa depan akademik para pelajar, pihak sekolah sebenarnya telah kembali melaksanakan kegiatan belajar sejak Senin. Namun, dalam pelaksanaannya di lapangan, kegiatan belum berjalan efektif seperti kondisi normal. Interaksi belajar mengajar di bawah ancaman gempa susulan membuat durasi pertemuan terpaksa dipangkas demi keselamatan. Siswa saat ini masuk mulai pukul 07.15 hingga 11.00 WITA, lebih singkat dibandingkan jadwal sebelumnya yang berlangsung hingga sekitar pukul 12.25 WITA.
Pembatasan waktu ini diakui membuat guru kesulitan menyampaikan materi secara tuntas, namun keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama di atas segalanya. Sambil menanti asesmen resmi mengenai kelayakan bangunan kelas, warga sekolah kini menaruh harapan besar pada pemanfaatan ruang belajar darurat di ruang terbuka yang difasilitasi oleh lembaga kemanusiaan di Manggarai Barat.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Post a Comment