Klinik Bergerak Sentuh Penyintas Gempa NTT
Operasi medis darurat ini difokuskan di Desa Nangadhero, sebuah kawasan di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, yang mengalami dampak struktural dan sosial cukup signifikan akibat gempa bumi. Banyak warga di kawasan ini yang memilih bertahan di tenda-tenda darurat halaman rumah karena masih didera rasa trauma terhadap potensi gempa susulan. Kondisi lingkungan tenda yang terpapar debu, angin malam, dan keterbatasan sanitasi mempercepat penurunan daya tahan tubuh para penyintas, terutama bagi kelompok anak-anak dan lansia.
Menyikapi urgensi tersebut, tim medis PMI bergerak menyusuri koridor-koridor perkampungan dari pintu ke pintu. Model pelayanan kesehatan bergerak ini didesain untuk meruntuhkan hambatan akses bagi para korban gempa. Dengan membawa logistik obat-obatan yang lengkap serta peralatan medis portabel standar kedaruratan, tim relawan PMI memberikan pelayanan komprehensif mulai dari pemeriksaan fisik, konseling medis, hingga pembagian paket suplemen penunjang imunitas tubuh secara gratis.
Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, menegaskan bahwa penanganan kesehatan pascabencana tidak boleh menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, melainkan tim medis yang harus proaktif menjemput bola. Langkah proaktif ini krusial untuk mencegah penyakit ringan berkembang menjadi kondisi kronis yang fatal akibat penanganan yang terlambat di lapangan.
"Strategi Mobile Clinic ini adalah langkah preventif sekaligus kuratif yang kami ambil untuk melindungi kesehatan masyarakat. Dalam situasi darurat, trauma dan kelelahan fisik sangat mudah memicu komplikasi penyakit seperti hipertensi dan ISPA. Kehadiran kami di depan pintu rumah mereka bukan sekadar memberikan obat, tetapi mengembalikan rasa aman dan memastikan bahwa negara serta kemanusiaan hadir di tengah-tengah masa sulit mereka," tegas Kristianus Pantaleon Jogo dalam keterangannya kepada media.
Dalam pelaksanaannya, tim kesehatan mencatat sebanyak 52 jiwa dari 20 kepala keluarga telah berhasil mendapatkan penanganan medis secara intensif. Rincian penerima manfaat terdiri atas 36 warga perempuan dan 16 warga laki-laki. Kehadiran tim medis di tengah-tengah pemukiman disambut antusias oleh warga setempat, mengingat sebagian besar dari mereka mengaku kesulitan untuk pergi ke puskesmas terdekat karena fokus tenaga mereka tersita untuk memperbaiki sisa-sisa hunian dan keterbatasan transportasi darat.
Dari diagnosis yang ditegakkan oleh dokter di lapangan, gangguan kesehatan yang banyak diderita penyintas meliputi keluhan batuk, pilek, pusing, serta pegal-pegal yang jamak ditemukan pada korban bencana akibat pola tidur yang tidak teratur dan paparan cuaca ekstrem di tenda darurat. Selain itu, penemuan kasus hipertensi pada beberapa lansia menjadi perhatian khusus bagi tim medis untuk memberikan edukasi mengenai manajemen stres pascabencana serta pembatasan konsumsi makanan tertentu selama di pengungsian.
Layanan Mobile Clinic ini rencananya akan terus dipindahkan secara berkala ke desa-desa lain di wilayah Kabupaten Nagekeo yang teridentifikasi mengalami krisis akses kesehatan serupa. Evaluasi harian dari setiap wilayah operasi akan terus dikoordinasikan secara intensif bersama puskesmas pembantu, dinas kesehatan kabupaten, serta lembaga kemanusiaan lainnya demi terciptanya peta penanganan kesehatan darurat yang solid, merata, dan berkelanjutan bagi seluruh penyintas gempa di Flores.
Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment