Dari Belik hingga Tangki Kemanusiaan: Menjemput Asa di Tengah Perbukitan
Sebelum krisis mencapai puncaknya, bayang-bayang kesulitan air sudah menyelimuti keseharian Pardi. Sumur gali tua yang berada di dekat rumahnya—yang selama musim hujan menjadi tumpuan utama kehidupan—mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Debit airnya berangsur menyusut hingga akhirnya berhenti menyembur total. Ketika dasar sumur mengering dan hanya menyisakan tanah retak berdebu, penderitaan Pardi pun dimulai.
Demi menyambung napas dapur dan memenuhi kebutuhan dasar, Pardi terpaksa meretas jalanan terik menyusuri perbukitan sejauh kurang lebih dua kilometer. Tujuannya satu: sebuah belik—mata air kecil di dasar tanah yang tersembunyi di ceruk perbukitan. Langkah demi langkah ia lewati di bawah sengatan matahari. Setibanya di lokasi, dengan penuh ketelatenan dan kesabaran, jemari tuanya merakit timba sederhana untuk menyiduk air yang keluar menetes demi menetes. Perjalanan pulang mengangkut beban air menjadi ujian fisik tersendiri bagi tubuhnya yang tak lagi muda.
Namun, daya tahan alam ada batasnya. Ketika kekeringan parah benar-benar melanda, belik yang menjadi tumpuan Pardi pun mulai menyerah. Ketersediaan air kian menipis, membuat krisis air bersih menyentuh level yang mengkhawatirkan bagi warga setempat. Rasa cemas sempat menggelayuti Pardi dan Mariyem saat persediaan air di rumah benar-benar menyentuh titik terendah.
Di tengah titik nadir tersebut, raungan mesin truk tangki milik Palang Merah Indonesia (PMI) pecah di jalanan perbukitan. Momen kedatangan bantuan logistik air bersih ini menjadi oase yang paling dinanti. Saat petugas PMI mulai membentangkan selang dan mengalirkan air jernih ke wadah penampungan, rasa lega terpancar jelas dari raut wajah Pardi dan Mariyem. Pasokan air tersebut menghentikan sejenak langkah lelah Pardi dari perjuangan panjang menjemput air ke dasar bukit.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment