Unesa Kenalkan Seni Karawitan Guna Tekan Kecanduan Gawai Anak
Intervensi layanan publik ini sengaja menyasar anak-anak usia dini karena kelompok ini merupakan yang paling rentan terhadap paparan teknologi tanpa batas.
Dengan menggandeng Sanggar Yayasan Rumah Budaya Harmini Parni sebagai mitra lokal, posko pelatihan disulap menjadi ruang berekspresi yang aman bagi 15 siswa Madrasah Ibtidaiyah. Melalui pengenalan instrumen karawitan, anak-anak diajak melatih kepekaan motorik dan kerja sama tim.
Komposisi suara dari kenong, saron, dan gong yang dimainkan secara bersama-sama menuntut konsentrasi tinggi, sehingga secara tidak langsung mengalihkan fokus pikiran mereka dari stimulasi instan yang biasa didapatkan dari aplikasi gawai.
Dampak positif dari program kemitraan ini mulai terlihat dari perubahan perilaku harian para peserta yang mulai menikmati interaksi sosial secara fisik.
Seni karawitan terbukti tidak hanya berfungsi sebagai warisan leluhur yang statis, melainkan tumbuh menjadi instrumen terapi sosial yang efektif bagi anak-anak perdesaan.
Transformasi budaya ini memberikan contoh nyata kepada masyarakat luas bahwa kearifan lokal mampu menjadi benteng pertahanan moral dan kesehatan mental anak di tengah gempuran modernisasi yang serba digital.
Kerja sama lintas disiplin ilmu dalam menghadirkan solusi bagi masyarakat ini mendapat perhatian khusus dari otoritas akademik yang mengawal jalannya program di lapangan.
Koordinator Program Studi S1 Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) FBS Unesa, Dr. Welly Suryandoko, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata pengabdian kelembagaan terhadap kebutuhan riil publik.
"Kegiatan dua hari ini adalah kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Ada dua prodi, yakni Prodi S1 Pendidikan Seni Sendratasik dan Prodi S3 Pendidikan Seni dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya," tutur Welly menjabarkan keterlibatan timnya.
Secara makro, perumusan program ini selaras dengan garis kebijakan strategis Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam mendorong pelestarian kebudayaan nasional yang berdampak pada kemandirian masyarakat desa. Data serta hasil evaluasi dari Desa Serag ini diproyeksikan menjadi model percontohan nasional untuk mempertemukan seni kultural dengan metode pengembangan sosial bagi kelompok rentan anak-anak.
Koordinator Prodi, Dr. Welly Suryandoko, S.Pd., M.Pd., menggarisbawahi bahwa arah kebijakan kampus akan selalu menitikberatkan pada keberlanjutan aksi nyata di tengah masyarakat.
"Melalui kegiatan tersebut, Unesa tidak hanya mendorong pelestarian seni tradisional, tetapi juga berupaya mempertemukan seni dan budaya dengan potensi pengembangan masyarakat desa. Kegiatan karawitan menjadi salah satu bentuk pengenalan seni yang diharapkan dapat tumbuh menjadi aktivitas berkelanjutan di lingkungan masyarakat," pungkas Welly menutup pemaparannya.
Penulis: Ega Pratama
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment