Tembus Hambatan Listrik Padam demi Data Korban Gempa di Manggarai
Langkah cepat ini diambil karena melihat kondisi di lapangan yang cukup mengkhawatirkan. Banyak warga terdampak yang masih mendirikan tenda darurat di lokasi-lokasi yang dinilai tidak aman dan rawan terhadap ancaman gempa susulan. Menyadari risiko tersebut, Pemerintah Desa berkolaborasi erat dengan PMI untuk mendata seluruh warga yang terdampak, tingkat kerusakan rumah tinggal, jumlah kepala keluarga (KK), total jumlah jiwa, sekaligus mendistribusikan bantuan pangan darurat kepada masyarakat secara merata.
Proses pendataan intensif ini dilaporkan telah berlangsung selama dua hari, terhitung sejak tanggal 18 hingga 19 Agustus 2026. Dalam pelaksanaannya, agenda krusial ini tidak hanya melibatkan perangkat pemerintah desa, tetapi juga menggerakkan unit Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) yang bersiaga di tiap desa. Sinergi ini bertujuan utama untuk memetakan secara akurat sebaran para pengungsi, baik mereka yang menempati titik pengungsian aman yang telah disepakati bersama, maupun warga yang memilih melakukan pengungsian mandiri di sekitar lingkungan desa dan kelurahan mereka masing-masing.
Sembari melakukan verifikasi data dari rumah ke rumah, Tim SIBAT bersama jajaran pemerintah desa juga menyalurkan bantuan sembako berupa beras. Bantuan logistik utama ini diketahui bersumber langsung dari Istana Kepresidenan Republik Indonesia untuk meringankan beban pangan warga yang kehilangan mata pencaharian akibat bencana. Selain bantuan dari pihak Istana, solidaritas dari lembaga swasta lokal juga mulai mengalir. Salah satunya datang dari Apotek Rajawali Ruteng yang berkontribusi nyata menyalurkan bantuan kesehatan berupa paket obat-obatan, bubur instan, serta pampers untuk kebutuhan bayi di posko pengungsian.
Dari hasil pendataan sementara, tim mencatat adanya urgensi pemenuhan fasilitas logistik non-pangan. Banyak sekali masyarakat yang dilaporkan sangat membutuhkan perlengkapan tenda baku dan kebutuhan penunjang sanitasi lainnya. Jenis kebutuhan pengungsi yang paling mendesak di lapangan saat ini meliputi terpal, posko pelayanan tenaga medis, paket kebersihan (hygiene kit), kebutuhan khusus bayi (baby kit), pampers bayi, pasokan sembako susulan, hingga persediaan obat-obatan generik.
"Masyarakat sangat membutuhkan terpal untuk mendirikan tenda," jelas Lukas Kasman selaku aparat desa yang bergabung dalam tim Sibat saat memberikan keterangan resmi terkait situasi terkini di area pengungsian.
Menurut penjelasan lebih lanjut dari Lukas, kondisi riil di beberapa titik pengungsian menunjukkan potret yang cukup memprihatinkan karena keterbatasan material pelindung. Ada beberapa titik lokasi di mana pengungsi hanya bisa pasrah mengandalkan keteduhan pohon besar untuk melindungi diri mereka dari terik matahari dan angin malam. Beberapa tenda pengungsian darurat yang didirikan secara swadaya oleh masyarakat pun dinilai sama sekali tidak layak huni. Tidak sedikit pula warga yang memilih tetap bertahan di dalam rumah mereka yang sudah retak dan rawan roboh hanya karena mereka tidak memiliki lembaran terpal untuk membangun tempat berlindung sementara di zona terbuka.
"Ditenda yang tidak layak huni itu juga ada banyak anak-anak dan bayi," lanjut Lukas mengekspresikan kekhawatirkan tim relawan terhadap potensi penurunan status kesehatan kelompok rentan tersebut.
Kendati demikian, proses kemanusiaan di lapangan tidak berjalan mulus. Selama masa pendataan berlangsung, para personel PMI yang bertugas mengalami beberapa kendala teknis yang cukup berat di sektor infrastruktur. Salah satu hambatan utama adalah lumpuhnya jaringan aliran listrik secara total di wilayah terdampak. Akibat matinya daya listrik tersebut, tautan (link) sistem pendataan digital berbasis daring yang biasa dioperasikan oleh PMI sama sekali tidak bisa diakses maupun digunakan. Faktor eksternal ini menyebabkan proses kompilasi dan input data belum dapat diselesaikan secepat target awal. Hambatan tersebut kian diperparah dengan situasi psikologis tim dan warga yang terus dibayangi oleh guncangan gempa susulan yang masih kerap terjadi secara berkala.
Menyikapi situasi darurat ini, Tim SIBAT dan pihak PMI segera mengambil langkah alternatif agar pemetaan korban tidak terhenti di tengah jalan. Proses pendataan taktis dialihkan sepenuhnya menggunakan sistem manual berbasis kertas. Di sisi lain, demi menjaga keselamatan para relawan, proses validasi data akhir terpaksa ditunda hingga keadaan alam membaik. Di sela-sela proses tersebut, Tim SIBAT juga gencar melakukan sosialisasi edukasi agar warga selalu waspada, segera berlindung, dan mendirikan tenda hanya di tempat-tempat terbuka yang sudah dinyatakan aman dari risiko runtuhan bangunan.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment