Menembus Langit Sengari: Kisah Evakuasi Udara PMI Selamatkan Korban Kritis Gempa Flores
Akses darat yang lumpuh total akibat timbunan longsor dan retakan tanah sedalam dua meter memaksa Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Tim SAR Gabungan mengambil jalur langit. Ini adalah satu-satunya cara menyelamatkan nyawa para korban yang berada dalam kondisi kritis.
Begitu pintu helikopter terbuka, aksi penyelamatan langsung berjalan cepat. Sejumlah relawan PMI bersama personel TNI bergerak taktis menggotong tandu melintasi tanah kering. Di atas tandu tersebut, terbaring beberapa warga dengan cedera kepala berat dan patah tulang terbuka akibat tertimpa material beton saat gempa mengguncang.
"Kami berpacu dengan waktu. Dalam kondisi jalan darat yang terputus total, evakuasi udara adalah urat nadi terakhir bagi korban dengan status triase merah," ujar Koordinator Lapangan Tim Kesehatan PMI, dr. Aris Nugroho, di lokasi evakuasi, Rabu (19/8/2026).
Dokter Aris menambahkan bahwa proses stabilisasi pasien dilakukan secara intensif di dalam tenda darurat sebelum mereka dinyatakan layak untuk diterbangkan.
"Jika kita terlambat mengevaluasi pasien dengan pendarahan dalam atau trauma kepala, risikonya adalah fatalitas. Jalur udara ini memangkas waktu tempuh yang tadinya belasan jam menjadi hanya 20 menit menuju rumah sakit rujukan," jelasnya menekankan pentingnya kecepatan aksi penanganan.
Di sudut lapangan, tangis haru keluarga pecah saat helikopter kembali mengangkasa membawa korban luka berat menuju fasilitas medis yang lebih lengkap di pusat kota. Sektor infrastruktur yang lumpuh total memang menjadi tantangan terbesar dalam operasi kemanusiaan kali ini.
Meski demikian, kehadiran helikopter evakuasi ini memberikan secercah harapan bagi ratusan warga Sengari yang sempat merasa terisolasi dari dunia luar selama berhari-hari. PMI menegaskan bahwa penerbangan logistik dan evakuasi medis akan terus disiagakan selama jalur darat belum berhasil dibersihkan oleh alat berat.
Penulis: Benhil M.
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment