Sinergi Lintas Sektor Beri Layanan Psikososial Anak Gempa di Manggarai
Layanan kemanusiaan yang berpusat di tenda darurat utama ini melibatkan perwakilan dari Universitas Indonesia (UI) sebanyak dua orang personel, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA), serta jajaran relawan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai. Kehadiran tim gabungan ini dirancang khusus untuk mengisi kekosongan ruang edukasi dan hiburan bagi anak-anak yang terpaksa berhenti bersekolah sejak hari pertama pascabencana terjadi di wilayah tersebut.
Pendekatan emosional dilakukan secara humanis, ramah, dan menyenangkan agar seluruh peserta dapat mengekspresikan perasaan mereka dengan bebas. Suasana riang gembira sengaja diciptakan untuk membangun kembali semangat, rasa percaya diri, serta memupuk rasa aman di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian. Interaksi interpersonal yang hangat dari para fasilitator terbukti mampu mengalihkan perhatian anak-anak dari rasa takut yang sempat membayangi hari-hari mereka di tenda penampungan.
Praktisi Psikologi sekaligus perwakilan tim pendamping, Yuliana Rosna S.Psi, menjelaskan bahwa efektivitas program ini terletak pada metode pengelompokan yang terstruktur. Tim memisahkan seluruh anak-anak berdasarkan kategori usia mereka agar stimulus yang diberikan tepat sasaran dan sesuai dengan kapasitas perkembangan motorik maupun kognitif masing-masing kelompok umur. Respons yang ditunjukkan oleh para peserta pun menjadi sangat aktif dan penuh keceriaan karena materi permainan yang disajikan tidak monoton.
"Metodenya dalam bentuk permainan dan dihari terakhir kita libatkan ibu-ibu juga. Langkah ini sangat efektif yaitu pembagian permainan anak berdasarkan usia sehingga respon anak sangat aktif dan ceria," ujar Yuliana Rosna S.Psi saat diwawancarai di sela-sela aktivitas pendampingan pada posko utama pengungsian Kabupaten Manggarai.
Jadwal pelaksanaan intervensi psikososial support ini disusun secara berkala dan rutin sebanyak dua kali dalam sehari. Sesi pertama dilaksanakan pada pagi hari tepat setelah anak-anak selesai menyantap sarapan pagi bersama keluarga mereka di pengungsian. Sementara itu, sesi kedua kembali digelar pada sore hari sesaat setelah anak-anak beristirahat dan bangun dari tidur siang mereka. Pengaturan waktu yang disiplin ini bertujuan untuk membentuk rutinitas baru yang positif dan produktif bagi anak-anak selama berada di lingkungan darurat.
Kolaborasi tiga instansi ini menegaskan bahwa penanganan dampak bencana tidak boleh hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik, penyaluran logistik makanan, atau pemenuhan kebutuhan medis semata. Pemulihan aspek mental, ketahanan emosional, dan stabilitas kondisi psikologis para korban, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, merupakan pilar yang sama pentingnya dalam manajemen krisis kebencanaan yang holistik.
Melalui komitmen bersama ini, diharapkan ketakutan yang dialami oleh anak-anak dapat bertransformasi menjadi energi positif untuk bangkit kembali. Pendampingan psikososial support yang berkelanjutan di Kabupaten Manggarai ini diproyeksikan akan terus berjalan hingga kondisi lingkungan dinyatakan benar-benar aman dan aktivitas persekolahan formal dapat diaktifkan kembali oleh pemerintah daerah setempat. Koordinasi fungsional dengan elemen lingkungan seperti tokoh masyarakat setempat terus dibangun secara sinergis untuk memperkuat ekosistem perlindungan anak yang berkelanjutan selama masa darurat ini berlangsung di wilayah terdampak. Langkah taktis ini diambil demi menjamin rasa aman kolektif secara menyeluruh bagi semua warga pengungsian.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment