Rekam Jejak Gigih Priyambodo: Menjalani Panggilan Jiwa Kemanusiaan dari Bangku Sekolah hingga Purna Tugas di PMI



ANEWS.co, JEMBER - Menterengnya sinar matahari pagi pada Senin (3/8) di kawasan Jalan Srikandya, Kabupaten Jember, tidak seperti hari-hari biasanya. Halaman Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember diselimuti suasana khidmat yang bersalut rasa haru. Barisan jajaran pengurus, staf markas, jajaran Unit Donor Darah (UDD), hingga para relawan muda Korps Sukarela (KSR) berdiri tegak mengikuti jalannya upacara apel resmi.

Apel tersebut diselenggarakan khusus sebagai bentuk penghormatan terakhir secara kedinasan untuk menandai purna tugasnya Wakil Kepala Markas PMI Kabupaten Jember, Gigih Priyambodo, A.Md. Seorang pria yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung operasional dan benteng terdepan aksi kemanusiaan di wilayah Jember dan sekitarnya.

Prosesi pelepasan pejuang kemanusiaan ini dipimpin langsung oleh Ketua PMI Kabupaten Jember, Zainollah. Di atas podium apel, Zainollah menyampaikan rasa hormat dan apresiasi tertinggi atas nama seluruh keluarga besar PMI dan masyarakat Jember atas pengabdian panjang tanpa pamrih yang telah diukir oleh Gigih Priyambodo.

"Kami ucapkan beribu terima kasih atas pengabdian dan dedikasinya yang luar biasa kepada Gigih Priyambodo yang telah banyak membantu masyarakat melalui Palang Merah Indonesia, Kabupaten Jember," tegas Zainollah dengan suara penuh emosi saat memberikan amanat apel di hadapan seluruh peserta upacara.

Bagi seluruh insan palang merah di Kabupaten Jember, sosok Gigih Priyambodo bukan sekadar pejabat struktural di tingkat markas. Beliau adalah representasi hidup dari Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional: Kemanusiaan, Kesamaan, Netralitas, Kemandirian, Kesukarelaan, Kesatuan, dan Kesemestaan. Pengundurannya dari jabatan operasional menandai berakhirnya satu babak keemasan dalam sejarah tata kelola kebencanaan dan aksi kemanusiaan di markas tersebut.

Awal Mula Misi Kemanusiaan – Dari PMR Madya hingga PMR Wira

Kiprah Gigih Priyambodo di bawah panji lambang palang merah bukanlah sebuah jalan pintas atau karier yang didapatkan secara instan. Perjalanan ini adalah sebuah proses panjang yang dibentuk oleh kedisiplinan, pembelajaran terus-menerus, dan rasa empati yang sudah terpatri sejak masa kanak-kanak. Panggilan jiwa untuk mendedikasikan hidup bagi keselamatan sesama telah menyala ketika Gigih masih menempuh pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Pada usia yang masih sangat muda tersebut, Gigih memilih untuk bergabung dalam Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Madya. Di sinilah ia pertama kali mengenal nilai-nilai dasar kepalangmerahan, dasar-dasar pertolongan pertama (First Aid), sanitasi kesehatan, serta kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar. Ketika remaja seusianya menghabiskan waktu luang hanya untuk bermain, Gigih justru menyibukkan diri dengan latihan membidai fraktur, memasang perban, dan mempelajari manajemen evakuasi sederhana.

Kedisiplinan serta komitmen tinggi yang ditunjukkannya saat di PMR Madya berlanjut hingga ia menginjak jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Memasuki fase remaja akhir, Gigih mendaftarkan diri dan aktif sebagai anggota PMR Wira. Di tingkat ini, pemahamannya mengenai gerakan kepalangmerahan semakin diperdalam. Gigih tidak hanya dilatih sebagai pelaku pertolongan pertama, tetapi juga dibentuk menjadi seorang pendorong sebaya (*peer educator*) yang bertugas menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan, pencegahan donor darah remaja, serta kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah dan komunitas remaja.

Pengalaman berorganisasi di PMR Madya dan Wira membentuk karakter dasar Gigih: tenang di bawah tekanan, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, serta memegang teguh komitmen untuk selalu hadir saat sesama membutuhkan pertolongan.

Mematangkan Jiwa Kerelawanan di Korps Sukarela (KSR)

Langkah pengabdian Gigih Priyambodo semakin mantap ketika ia melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Melangkah ke dunia kampus tidak menyurutkan langkahnya di jalan kemanusiaan; justru sebaliknya, jiwa kerelawanannya memasuki fase pematangan yang sesungguhnya ketika ia resmi terdaftar sebagai anggota Korps Sukarela (KSR) Markas PMI Kabupaten Jember.

Sebagai anggota KSR, Gigih digembleng dengan kurikulum kedaruratan yang jauh lebih berat dan kompleks. KSR adalah lini terdepan PMI dalam merespons bencana alam, konflik, maupun krisis kemanusiaan. Di unit ini, Gigih mendapatkan berbagai pelatihan spesialis:

Manajemen Lapangan Kebencanaan: Pengelolaan posko, pemetaan dampak bencana, dan kaji cepat.

Pertolongan Pertama Lapangan (PPL): Penanganan korban trauma berat, triase bencana, dan pendampingan medis darurat.

Pencarian dan Pertolongan (SAR): Teknik evakuasi di medan sulit, darat, maupun perairan.

Dapur Umum dan Logistik Bencana: Tata kelola pemenuhan gizi pengungsi dan penyaluran bantuan tepat sasaran.

Perawatan Keluarga: Pelayanan kesehatan masyarakat berbasis masyarakat pascabencana.

Di KSR Markas PMI Jember, Gigih dikenal sebagai sosok relawan yang pantang mengeluh. Saat sirene tanggap darurat berbunyi — baik saat banjir luapan sungai menyapu kawasan permukiman, tanah longsor di kawasan perbukitan, hingga respons kekeringan — Gigih selalu menjadi salah satu orang pertama yang siap memikul ransel SAR dan berangkat ke lokasi kejadian.

Transformasi Karier dari Relawan Lapangan Menjadi Staf Profesional

Konsistensi, komitmen tanpa batas, serta kapasitas teknis yang terus meningkat membuat perjalanan Gigih Priyambodo dilirik oleh jajaran pengurus PMI Kabupaten Jember. Keahlian Gigih dalam membaca situasi lapangan dan mengelola sumber daya manusia relawan dinilai sebagai aset berharga bagi pengembangan organisasi PMI ke depan.

Transformasi penting dalam hidupnya pun terjadi. Dari seorang relawan berbasis kesukarelaan penuh (volunteers), Gigih diangkat menjadi staf profesional di Markas PMI Kabupaten Jember. Transisi dari peran lapangan murni menuju ranah administratif dan operasional kantor tidak mengurangi sedikit pun gairah kemanusiaannya. Justru, peran baru ini memberi Gigih wewenang dan cakupan yang lebih luas untuk merancang sistem pelayanan PMI yang lebih terstruktur dan responsif.

Sebagai staf profesional, Gigih terlibat langsung dalam:

1. Menata sistem kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat di desa-desa rawan bencana (Desa Siaga Bencana).

2. Membina jaringan PMR dan KSR di seluruh wilayah Kabupaten Jember agar memiliki standar kompetensi yang merata.

3. Membangun tata kelola logistik kebencanaan yang transparan, akuntabel, dan cepat tanggap.

4. Menjalin kemitraan strategis dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta organisasi sukarelawan lainnya.

Mengemban Amanah Strategis sebagai Wakil Kepala Markas

Puncak dari rekam jejak karier kepemimpinan Gigih Priyambodo di PMI Jember terjadi saat dirinya dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Wakil Kepala Markas PMI Kabupaten Jember, A.Md. Jabatan ini merupakan posisi puncak operasional yang menuntut kemampuan manajerial tingkat tinggi, kepemimpinan taktis, serta ketajaman diplomasi kemanusiaan.

Sebagai Wakil Kepala Markas, Gigih bertanggung jawab penuh atas kelancaran seluruh roda operasional markas sehari-hari, koordinasi lintas divisi, manajemen anggaran operasional kebencanaan, hingga pembinaan disiplin pegawai dan relawan. Di bawah kepemimpinannya, Markas PMI Kabupaten Jember berkembang menjadi salah satu markas PMI paling responsif dan modern di Jawa Timur.

Gigih memodernisasi tata kelola posko kebencanaan dengan mengintegrasikan sistem informasi berbasis digital, memperkuat armada ambulans darurat gratis untuk masyarakat tidak mampu, serta memastikan ketersediaan logistik bantuan darurat selalu dalam posisi siap pakai (ready-to-deploy) 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.

Nakhoda Tangguh dalam Manajemen Kebencanaan Regional dan Nasional

Di lingkungan internal kepalangerahan maupun di mata para pemangku kepentingan (stakeholders) kebencanaan, Gigih Priyambodo sangat disegani karena keahlian mendalamnya dalam bidang manajemen kebencanaan (*Disaster Management*). Ia bukan tipe pemimpin yang hanya duduk di belakang meja kerja yang nyaman sembari menunggu laporan.

Ketika bencana besar melanda — baik dalam skala lokal Jember, Jawa Timur, hingga krisis kebencanaan tingkat nasional — Gigih selalu terjun langsung ke garis depan. Kehadirannya di lokasi bencana memberikan rasa tenang dan kepastian bagi para relawan yang bertugas di lapangan.

Beberapa catatan aksi heroik dan taktis yang melibatkan kepemimpinan Gigih antara lain:

Penanganan Bencana Banjir Bandang dan Longsor: Mengordinasikan evakuasi ratusan warga, mendirikan dapur umum mandiri dalam waktu kurang dari dua jam sejak krisis terjadi, dan memastikan pendistribusian air bersih di area terisolasi.

Operasi Kemanusiaan Tingkat Nasional: Menerjunkan dan memimpin tim relawan PMI Jember saat memberikan bantuan kendali operasi (BKO) pada krisis bencana besar di berbagai daerah di Indonesia, seperti gempa bumi dan tsunami.

Manajemen Pandemi COVID-19: Memimpin gerakan penyemprotan disinfektan masif di fasilitas publik, pengawasan isolasi terpadu, hingga penyaluran paket sembako bagi keluarga terpapar yang mengisolasi diri.

Kepemimpinan Gigih di lapangan selalu dicirikan oleh tiga hal: kecepatan bertindak, akurasi data lapangan, dan pengutamaan keselamatan bagi relawan dan warga terdampak.


Refleksi Purna Tugas dan Warisan Kebaikan

Masa purna tugas yang resmi dimulai pada awal Agustus ini menandai berjalurnya Gigih Priyambodo dari struktur kepengurusan resmi Markas PMI Jember. Namun, apa yang telah dilakukannya selama puluhan tahun telah berakar kuat dan menjadi bagian dari pondasi markas tersebut.

Dalam upacara apel pelepasan, seluruh insan PMI memberikan penghormatan berdiri (standing ovation) sebagai simbol rasa terima kasih yang tak terhingga. Tangis haru mewarnai pelukan perpisahan antara Gigih dengan para staf senior, relawan KSR, dan adik-adik PMR yang selama ini menganggapnya sebagai sosok mentor, kakak, sekaligus ayah dalam perjuangan kemanusiaan.

Meski kini langkah formalnya telah berakhir, dedikasi, dedikasi, dan warisan kebaikan yang ditinggalkan oleh Gigih Priyambodo akan terus membimbing arah gerak PMI Jember. Beliau telah membuktikan bahwa kemanusiaan bukanlah sebuah tugas yang selesai saat jam kerja usai, melainkan sebuah identitas yang melekat seumur hidup.

Penulis: Amin 
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Rekam Jejak Gigih Priyambodo: Menjalani Panggilan Jiwa Kemanusiaan dari Bangku Sekolah hingga Purna Tugas di PMI
  • Rekam Jejak Gigih Priyambodo: Menjalani Panggilan Jiwa Kemanusiaan dari Bangku Sekolah hingga Purna Tugas di PMI
  • Rekam Jejak Gigih Priyambodo: Menjalani Panggilan Jiwa Kemanusiaan dari Bangku Sekolah hingga Purna Tugas di PMI
  • Rekam Jejak Gigih Priyambodo: Menjalani Panggilan Jiwa Kemanusiaan dari Bangku Sekolah hingga Purna Tugas di PMI
  • Rekam Jejak Gigih Priyambodo: Menjalani Panggilan Jiwa Kemanusiaan dari Bangku Sekolah hingga Purna Tugas di PMI
  • Rekam Jejak Gigih Priyambodo: Menjalani Panggilan Jiwa Kemanusiaan dari Bangku Sekolah hingga Purna Tugas di PMI

Post a Comment