Menanamkan Toleransi Sejak Dini, Siswa MI Sabilul Falah Bangil Edukasi Warga Lewat Pawai Budaya
Rombongan pawai memulai perjalanannya dari area Perum Grand Kencana dan berakhir di halaman utama MI Sabilul Falah Bangil. Sepanjang rute, para siswa mempraktikkan langsung esensi kebhinekaan dengan mengenalkan kekayaan tradisi Indonesia kepada masyarakat setempat. Layanan edukasi ini menampilkan parade ragam pakaian adat Nusantara, atribut kebudayaan daerah, hingga bentangan poster kreatif yang menyuarakan pentingnya merawat persatuan nasional di tengah perbedaan.
Selain pelestarian warisan fisik, fokus utama dari kampanye publik ini adalah mengenalkan empat indikator penting moderasi beragama kepada anak-anak dan warga sekitar. Keempat pilar tersebut meliputi penguatan komitmen kebangsaan, penumbuhan sikap toleransi antarumat, pencegahan aksi kekerasan, serta sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal.
Suasana edukasi di sepanjang jalur pawai semakin hidup berkat unjuk ketangkasan dari tim Ekstrakurikuler Pencak Silat Pagar Nusa MI Sabilul Falah Bangil. Penampilan para pendekar muda ini menjadi instrumen efektif madrasah untuk melestarikan seni bela diri asli Indonesia, sekaligus membentuk karakter siswa yang disiplin, tangguh, berani, dan berakhlakul karimah di tengah kehidupan bermasyarakat.
Keberhasilan program layanan pendidikan luar kelas ini tidak lepas dari perhatian dan dukungan penuh jajaran pimpinan wilayah. Kehadiran Lurah Gempeng, Dedy Satria Nugraha, S.STP., M.AP., bersama Ketua Yayasan Sabilul Falah Gempeng, Drs. Abdurrahman TM., M.Pd.I., M.Pd., yang memberangkatkan langsung peserta pawai, memperkuat komitmen strategis dalam mengawal kualitas pendidikan karakter anak bangsa.
Dalam arahan strategisnya, Lurah Gempeng menekankan pentingnya sinergi antara wawasan budaya dan pendidikan nilai demi membentengi mentalitas generasi muda di masa depan. Beliau mengapresiasi model kokurikuler madrasah yang mampu mengemas pengenalan nilai luhur Pancasila ke dalam aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak.
“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Melalui kegiatan seperti ini mereka belajar mencintai budaya Indonesia, menghargai perbedaan, dan memperkuat semangat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Dedy Satria Nugraha dalam sambutannya, Jumat (21/8/2026).
Senada dengan hal itu, pihak yayasan juga menegaskan arah kebijakan lembaga yang akan terus menyeimbangkan capaian akademis formal dengan pembentukan karakter santri yang religius dan nasionalis. Puncak aksi kokurikuler ini membuktikan bahwa madrasah kini telah menjadi ruang inkubasi sosial yang aman bagi anak-anak untuk belajar berkolaborasi, membangun kepercayaan diri, menghargai perbedaan suku, serta menjaga harmoni sosial demi keutuhan bangsa.
Penulis: F. Ahmad
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment