BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan Pertanian: Indeks Air Tanah Jawa Timur Agustus 2026 Masuk Kategori Kurang



ANEWS.coNGANJUK — Ancaman kekeringan pertanian kian nyata membayangi wilayah Jawa Timur di pertengahan tahun 2026. Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis iklim terkini yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Jawa Timur diprediksi mengalami penurunan drastis cadangan air tanah selama periode Agustus 2026. 

Kondisi ini berpotensi memicu tekanan hebat pada sektor pertanian, khususnya pada lahan-lahan yang menggantungkan pasokan air sepenuhnya dari curah hujan atau lahan tadah hujan.

Pengukuran tingkat kecukupan air untuk kebutuhan pemeliharaan tanaman tersebut dihitung melalui pemodelan Indeks Ketersediaan Air Tanah (ATi). Metode ini mengintegrasikan berbagai variabel iklim dan kondisi fisika tanah guna memberikan gambaran akurat mengenai kapasitas tanah dalam menyokong pertumbuh-tumbuhan di tengah puncak musim kemarau.

Metode Neraca Air Thornthwaite dan Mather

Dalam menetapkan tingkat kerentanan pasokan air bagi sektor pertanian, BMKG memanfaatkan kalkulasi ilmiah berbasis metode neraca air Thornthwaite dan Mather. Pemodelan ini menghitung secara presisi rasio antara air yang masuk ke dalam sistem tanah dan air yang keluar menuju atmosfer.

Nilai Indeks Ketersediaan Air Tanah (ATi) tersebut kemudian diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama guna memudahkan pemetaan risiko di lapangan:

  • Kategori Cukup: Nilai ATi berada di atas 60 persen (>60%), menandakan cadangan air tanah sangat memadai untuk menopang pertumbuhan tanaman tanpa perlu intervensi irigasi tambahan secara masif.

  • Kategori Sedang: Nilai ATi berkisar antara 40 hingga 60 persen (40–60%), mengindikasikan ketersediaan air mulai terbatas dan memerlukan pemantauan berkala pada fase-fase kritis pertumbuhan tanaman.

  • Kategori Kurang: Nilai ATi berada di bawah 40 persen (<40%), menandakan tanah telah kehilangan sebagian besar kelembabannya sehingga berisiko tinggi memicu kelayuan permanen pada tanaman jika tidak segera mendapat pasokan irigasi buatan.

Secara teknis, besaran angka ATi dipengaruhi oleh tiga faktor utama yang saling berkaitan. Pertama, intensitas curah hujan sebagai satu-satunya pasokan air alami. Kedua, karakteristik fisika tanah yang menentukan Kapasitas Lapang (KL) atau kemampuan spesifik jenis tanah dalam menyimpan serta menahan air. Ketiga, laju evapotranspirasi, yakni akumulasi penguapan air dari permukaan tanah dan penguapan melalui jaringan tanaman yang didorong oleh tingginya suhu udara, kelembaban yang rendah, serta kecepatan angin di musim kemarau.

Dominasi Kondisi Kering di Jawa Timur

Hasil analisis spasial untuk prediksi bulan Agustus 2026 menunjukkan gambaran yang memprihatinkan bagi kawasan sentra pangan di Jawa Timur. Sebagian besar daerah di provinsi ini secara merata telah memasuki klasifikasi ketersediaan air tanah kategori kurang (<40%). Penurunan signifikan ini merupakan konsekuensi langsung dari bertahannya puncak musim kemarau yang menguras cadangan air tanah secara terus-menerus tanpa adanya imbalan curah hujan yang memadai.

Wilayah yang masih mencatatkan ketersediaan air tanah dalam kategori sedang hingga cukup (40–80%) terhitung sangat terbatas. Wilayah bernilai positif ini umumnya hanya terkonsentrasi di kawasan dataran tinggi, lereng pegunungan, serta beberapa zona mikro yang secara topografis masih sesekali mendapatkan pasokan hujan lokal akibat dinamika atmosfer lokal.

Menanggapi fenomena penurunan ketersediaan air tanah ini, Forecaster BMKG Nganjuk, Yaris, memberikan penjelasan rinci mengenai situasi iklim yang sedang berlangsung serta dampaknya terhadap tutupan lahan pertanian di Jawa Timur, khususnya di wilayah Nganjuk dan sekitarnya.

"Berdasarkan kalkulasi Indeks Ketersediaan Air Tanah (ATi) menggunakan metode neraca air Thornthwaite dan Mather untuk periode Agustus 2026, mayoritas wilayah Jawa Timur memang didominasi oleh kategori kurang atau berada di bawah 40 persen. Kondisi ini secara langsung mencerminkan penurunan signifikan cadangan air di dalam tanah akibat minimnya intensitas curah hujan serta tingginya laju evapotranspirasi di puncak kemarau," ungkap Yaris.

Yaris menggarisbawahi bahwa wilayah-wilayah yang berlokasi di dataran rendah dan kawasan terpapar kemarau panjang harus meningkatkan kewaspadaan ekstra. Tanpa adanya tata kelola air yang cermat, risiko kegagalan panen (puso) dapat meningkat secara signifikan.

"Kondisi kering ini memicu peningkatan risiko kekeringan pertanian yang cukup tinggi, terutama bagi para petani yang menggarap lahan tadah hujan. Area yang memiliki kategori air tanah sedang hingga cukup saat ini sifatnya sangat terbatas dan hanya bertahan di wilayah pegunungan atau daerah yang mendapatkan luapan hujan lokal. Oleh karena itu, langkah antisipasi harus segera diterapkan di tingkat tapak," tambah Yaris Forecaster BMKG Nganjuk.

Mitigasi Risiko dan Strategi Adaptasi Pertanian

Menghadapi tingginya potensi krisis air pertanian sepanjang Agustus 2026, BMKG mengimbau dinas terkait, instansi pengelola sumber daya air, serta para kelompok tani untuk segera mengambil tindakan adaptif. Pengelolaan sektor pertanian selama masa kritis ini tidak lagi bisa menggunakan pola konvensional, melainkan harus berbasis pada data data meteorologi dan hidrologi yang presisi.

Beberapa langkah strategis dan rekomendasi taktis yang perlu segera direalisasikan di lapangan meliputi:

  1. Efisiensi dan Penghematan Air Irigasi:
    Pengelola irigasi dan petani diharapkan menerapkan skema giliran air (pola penterjalan irigasi) secara ketat. Penggunaan metode irigasi hemat air seperti intermittent irrigation (irigasi berselang) atau sistem irigasi tetes amat disarankan untuk meminimalkan pembuangan air yang sia-sia di saluran pembawa.

  2. Penyesuaian Waktu dan Pola Tanam:
    Para petani yang berada di wilayah berstatus ATi kurang (<40%) diimbau untuk tidak memaksakan diri menanam komoditas tanaman pangan yang membutuhkan konsumsi air tinggi, seperti padi rekayasa basah. Mengubah pola tanam ke komoditas palawija (jagung, kedelai, kacang hijau) atau tanaman hortikultura yang lebih hemat air menjadi pilihan paling rasional untuk mengamankan pendapatan petani.

  3. Pemanfaatan Varietas Toleran Kekeringan:
    Penggunaan benih unggul yang memiliki ketahanan alami terhadap stres cekaman air (drought-tolerant varieties) perlu diperluas. Varietas ini memiliki sistem perakaran yang lebih dalam serta efisiensi fisiologis yang tinggi dalam memanfaatkan kelembaban tanah yang terbatas.

  4. Optimalisasi Penampungan Air dan Pompanisasi:
    Pemerintah daerah bersama kelompok tani perlu mengoptimalkan pemanfaatan embung, sumur dalam, serta jaringan pompanisasi darurat untuk mendistribusikan air dari sumber-sumber air permukaan yang masih tersisa menuju lahan terancam.

Melalui sinergi antara pemantauan data iklim BMKG, respons cepat pemerintah daerah, serta kesadaran adaptif dari para petani, dampak negatif dari penurunan ketersediaan air tanah di Jawa Timur pada Agustus 2026 ini diharapkan dapat ditekan sekecil mungkin, sehingga ketahanan pangan daerah tetap terjaga kokoh di tengah terpaan puncak kemarau.

Penulis: Amin 
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan Pertanian: Indeks Air Tanah Jawa Timur Agustus 2026 Masuk Kategori Kurang
  • BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan Pertanian: Indeks Air Tanah Jawa Timur Agustus 2026 Masuk Kategori Kurang
  • BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan Pertanian: Indeks Air Tanah Jawa Timur Agustus 2026 Masuk Kategori Kurang
  • BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan Pertanian: Indeks Air Tanah Jawa Timur Agustus 2026 Masuk Kategori Kurang
  • BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan Pertanian: Indeks Air Tanah Jawa Timur Agustus 2026 Masuk Kategori Kurang
  • BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan Pertanian: Indeks Air Tanah Jawa Timur Agustus 2026 Masuk Kategori Kurang

Post a Comment