Tiga Bulan Tanpa Hujan, Warga Sambimulyo dan Sambirejo Andalkan Bantuan Air PMI
Kemarau El Nino 2026 landa Banyuwangi, warga Sambimulyo & Sambirejo andalkan pasokan air bersih tangki PMI
ANEWS.co BANYUWANGI – Ancaman krisis air bersih akibat fenomena iklim El Nino kuat kini nyata menghantui wilayah Kabupaten Banyuwangi pada pertengahan tahun 2026. Berdasarkan data pemetaan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi, sebanyak 11 kecamatan di daerah berjuluk Sun Rise of Java ini telah resmi ditetapkan masuk dalam zona risiko tinggi bencana kekeringan ekstrem. Situasi darurat ini dipicu oleh musim kemarau panjang yang datang jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penyusutan debit air tanah secara drastis bahkan dilaporkan mulai membuat sumur-sumur galian milik warga di beberapa desa mengering total. Kondisi tersebut memaksa jajaran pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan bergerak cepat mendistribusikan bantuan air bersih guna mencegah terjadinya krisis sosial-ekonomi yang jauh lebih meluas.
Dampak dari musim kemarau El Nino ini secara nyata mulai memicu krisis pasokan air bersih konsumsi di Kabupaten Banyuwangi. Dua wilayah pedesaan, yakni Desa Sambirejo dan Desa Sambimulyo yang terletak di wilayah administratif Kecamatan Bangorejo, merupakan sebagian kecil wilayah dengan potensi risiko kekeringan sangat tinggi. Kini, warga di kedua desa tersebut harus berjuang ekstra keras setiap hari hanya untuk mendapatkan beberapa liter air guna memenuhi kebutuhan domestik yang paling mendasar.
Fenomena iklim global ini biasanya memicu penurunan drastis volume air tanah yang mengakibatkan sumur-sumur tradisional andalan warga mengalami penurunan debit air secara berkala hingga berujung kering kerontang. Menyadari kondisi yang kian mencekam dan mengancam keselamatan sanitasi warga, aparat pemerintahan desa mengambil langkah taktis. Sesuai dengan surat permohonan darurat yang diajukan oleh Kepala Desa melalui Ketua PMI Kecamatan Bangorejo, pihak Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banyuwangi langsung merespons cepat panggilan kemanusiaan tersebut. Mereka menyalurkan bantuan air bersih menggunakan armada truk tangki langsung ke titik pemukiman warga terdampak.
Langkah taktis penanganan bencana kekeringan ini berjalan secara terstruktur di lapangan. Mulai tanggal 22 Juli 2026, PMI Kabupaten Banyuwangi sudah menurunkan secara penuh Tim Distribusi Air Bersih ke lokasi wilayah terdampak parah.
Sasaran operasional awal difokuskan di lingkungan Dusun Kedungrejo, Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo. Tidak berhenti sampai di situ, pergerakan kemanusiaan ini berlanjut pada keesokan harinya, tepat pada hari Kamis, 23 Juli 2026.
Armada truk tangki air bersih milik PMI kembali bergerak menyisir jalanan berdebu menuju Dusun Kedungrejo, Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, demi menyuplai kebutuhan air yang kian menipis.
Kehadiran bantuan armada tangki air ini membawa secercah harapan di tengah tanah yang mulai retak akibat cuaca ekstrem.
Andik Santoso, Kepala Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, memberikan gambaran utuh mengenai kondisi memprihatinkan yang sedang mendera lingkungan warganya saat ini.
Ia menuturkan bahwa ketiadaan hujan dalam waktu lama telah memotong jalur pasokan air alami ke sumur-sumur gali milik penduduk setempat.
"Memasuki musim kemarau tahun ini, sudah tiga bulan lamanya wilayah kami sama sekali tidak ada hujan turun. Dampak langsungnya sangat memukul aktivitas harian penduduk di mana debit air di sumur-sumur warga terus merosot tajam hingga sebagian besar di antaranya mulai mengering total tanpa sisa," ungkap Andik Santoso saat mendampingi proses pembagian air di Dusun Kedungrejo pada Kamis (23/7/2026).
Andik Santoso memaparkan bahwa kondisi alam yang gersang selama satu triwulan terakhir ini secara otomatis membuat masyarakat mengalami kesulitan besar untuk memperoleh akses air bersih yang aman guna keperluan memasak, minum, dan mencuci. Situasi pelik ini dirasakan kian mendesak karena saat ini Desa Sambimulyo tengah mengemban amanah sebagai lokasi pengabdian masyarakat.
"Apalagi saat ini ada rombongan mahasiswa dari Universitas Airlangga atau UNAIR yang lagi melaksanakan kegiatan program Kuliah Kerja Nyata atau KKN di desa kami. Tentu saja, kebutuhan air bersih domestik di lingkungan desa kami menjadi melonjak naik secara signifikan dibanding hari biasa," kata sang Kepala Desa menambahkan.
Meskipun demikian, dengan hadirnya bantuan dari organisasi kemanusiaan ini, beban berat yang dipikul warga desa seketika berkurang. Antrean jeriken warga terbayar lunas dengan kucuran air bersih dari tangki PMI.
"Dengan adanya intervensi bantuan distribusi air bersih dari pihak PMI Kabupaten Banyuwangi ini, seluruh lapisan masyarakat kami merasa sangat bersyukur karena akhirnya mereka bisa mencukupi kembali kebutuhan air untuk keperluan domestik harian. Semua pasokan air bersih yang dikirimkan ini pun langsung ditampung di dalam tandon-tandon air umum yang sebelumnya memang sudah disiapkan dengan baik oleh pihak BPBD Kabupaten Banyuwangi," jelas Andik Santoso penuh rasa terima kasih.
Di tingkat manajemen operasi bencana, pergerakan armada tangki di lapangan disinkronkan langsung dengan pusat komando logistik daerah.
Drs. Sutiyono, Kepala Markas PMI Kabupaten Banyuwangi, menegaskan bahwa penanganan krisis ini dilakukan melalui skema kolaborasi lintas sektoral yang kuat.
PMI Kabupaten Banyuwangi telah melakukan koordinasi dan komunikasi intensif dengan jajaran BPBD serta Perusahaan Daerah Air Minum atau PUDAM Banyuwangi. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan gelombang permintaan pasokan dari beberapa wilayah yang dilaporkan sudah mulai menunjukkan indikasi kekeringan parah.
"Kami terus memperbarui data koordinasi di lapangan secara berkala. Saat ini, wilayah yang sudah masuk dalam kategori mendesak dan mengalami kekeringan adalah wilayah Kecamatan Bangorejo serta Kecamatan Cluring. Menanggapi kondisi tersebut, PMI telah membentuk Tim Distribusi Bantuan Air Bersih khusus. Tim ini beranggotakan para relawan terlatih dan staf profesional Markas PMI Kabupaten Banyuwangi," tutur Drs. Sutiyono saat dikonfirmasi mengenai peta pergerakan bantuan logistik.
Ia menerangkan bahwa mobilitas operasional tim lapangan didukung penuh oleh fasilitas kendaraan penunjang yang andal untuk menembus medan pedesaan yang kering.
"Tim lapangan kami lengkapi dengan sarana prasarana yang siap pakai berupa satu unit armada Tangki Air dengan kapasitas volume mencapai 5.000 liter. Ke depan, bantuan air bersih ini akan terus kami salurkan secara simultan sebagai langkah darurat utama. Komitmen kami adalah menjamin kebutuhan dasar hidup masyarakat luas tetap terpenuhi sepanjang musim kemarau ini," urai Sutiyono dengan tegas.
Selain fokus pada distribusi tandon umum, pihak PMI juga membuka ruang pelayanan yang fleksibel dan humanis sesuai dinamika di lapangan.
"Kami sangat memahami bahwa kondisi infrastruktur di setiap rukun tetangga tidaklah sama. Apabila di suatu lingkungan desa ternyata belum atau tidak menyediakan fasilitas tandon air bersama, maka tim relawan lapangan PMI juga sudah siap untuk membagikan dan mendistribusikan air bersih tersebut secara langsung dari rumah ke rumah warga terdampak agar pelayanan merata," ucapnya memaparkan solusi teknis lapangan.
Drs. Sutiyono juga menyelipkan pesan edukasi dan imbauan penting bagi seluruh elemen masyarakat Banyuwangi agar lebih bijak dalam menghadapi siklus iklim ekstrem ini.
"Kami mengimbau dengan sangat agar masyarakat bisa menggunakan air secara hemat dan bijaksana, serta memprioritaskannya hanya untuk pemenuhan kebutuhan yang sifatnya darurat dan mendasar saja. Kami juga meminta kepada para pengurus RT, RW, maupun kepala desa untuk segera memberikan laporan tertulis atau lisan jika ada wilayah baru yang mulai mengalami kekeringan. Pelaporan cepat sangat penting agar langkah penanganan dan mobilisasi tangki air dari kami bisa dilakukan dengan lebih cepat dan tepat sasaran," pungkasnya di akhir wawancara.
Berdasarkan laporan mutakhir dari posko data kemanusiaan PMI Banyuwangi, grafik pemutakhiran harian menunjukkan hasil yang nyata. Hingga hari kedua pelaksanaan operasi darurat kemanusiaan ini, PMI Kabupaten Banyuwangi tercatat telah sukses menyalurkan akumulasi total sebanyak 10.000 liter air bersih siap pakai bagi warga pedesaan di wilayah Kecamatan Bangorejo.
Pasokan air dalam jumlah besar tersebut didistribusikan secara proporsional ke dua desa yang menjadi titik terparah bencana kekeringan ini. Berdasarkan rincian data demografi penerima manfaat, di wilayah Desa Sambimulyo, krisis pasokan air bersih akibat kemarau panjang ini berdampak langsung pada kehidupan 640 jiwa yang tersebar di dalam 160 Kepala Keluarga (KK). Sementara itu, untuk wilayah Desa Sambirejo, tercatat sebanyak 285 jiwa dari total 75 Kepala Keluarga (KK) yang kini kelangsungan aktivitas sanitasi domestiknya bergantung penuh pada jadwal kedatangan armada truk tangki air bersih PMI. Sinergi berkelanjutan antara relawan, pemerintah, dan warga diharapkan mampu menjaga ketahanan air di Banyuwangi selama El Nino 2026 berlangsung.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment