Kisah Mahasiswi Pendonor Pemula di CREVO FAIR UMPO: Lawan Takut Jarum Suntik demi Kemanusiaan



ANEWS.coPONOROGO - Suasana riuh dan penuh semangat tampak menyelimuti kawasan Panggung Ekraf, Mixzone Creative Hub (MCH) Ponorogo. Ratusan mahasiswa berkumpul dalam ajang akbar CREVO FAIR UMPO yang digawangi oleh Divisi Sertifikasi Profesi Kewirausahaan Universitas Muhammadiyah Ponorogo (SERKWU UMPO). Acara yang mengusung tema besar "Gelar Produk Mahasiswa: Inovasi Hari Ini, Inspirasi Masa Depan!" ini menjadi panggung pembuktian bagi berbagai produk bisnis kreatif, teknologi mutakhir berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga rencana bisnis digital rancangan para mahasiswa. Namun, di sudut lain area pameran, terdapat pemandangan menarik yang menyedot perhatian, yakni deretan bed tempat tidur medis tempat berlangsungnya aksi sosial donor darah hasil kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Ponorogo.
Aksi donor darah di tengah-tengah pameran wirausaha ini melahirkan banyak cerita humanis yang menggugah emosi. Di sinilah tempat di mana nilai kemanusiaan diuji langsung lewat tindakan nyata. Banyak di antara para pendonor merupakan mahasiswa muda yang belum pernah mendonorkan darah sama sekali seumur hidup mereka. Ketakutan terhadap jarum suntik yang panjang berkecamuk dengan rasa empati yang besar untuk membantu sesama yang sedang sakit.

Perjuangan Melawan Fobia Jarum Demi Membantu Sesama

Salah satu kisah perjuangan melawan rasa takut datang dari Fitri Sukma Ayu L., seorang mahasiswi aktif Program Studi Akuntansi semester 6 di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Mahasiswi yang merantau jauh dari kawasan Pelabuhan Merak ini mengaku bahwa dirinya harus mengumpulkan keberanian besar sebelum melangkahkan kaki ke meja pendaftaran tim medis PMI Ponorogo.
"Berhubung ini adalah pengalaman pertama kali bagi saya untuk donor darah, rasanya benar-benar campur aduk antara takut, tegang, sekaligus sangat penasaran atau excited. Jujur, hal utama yang paling saya takuti sejak awal adalah ukuran jarum suntiknya. Saya sempat mengira kalau jarum donor darah yang besar itu akan terasa sangat menusuk dan menyakitkan di lengan. Tetapi setelah giliran saya tiba dan jarum mulai dimasukkan, ternyata rasanya tidak terlalu sakit seperti yang saya bayangkan di pikiran selama ini," kata Fitri dengan raut wajah lega setelah kantong darahnya terisi penuh.
Bagi Fitri, dorongan untuk membantu orang lain mengalahkan fobia pribadinya terhadap jarum medis.
Ia menyadari bahwa di balik rasa sakit yang hanya sesaat, ada kehidupan orang lain yang mungkin bisa terselamatkan melalui tetesan darah yang ia berikan hari itu.
"Harapan saya yang paling utama adalah semoga setelah mendonorkan darah ini tubuh saya bisa menjadi jauh lebih sehat, dan yang terpenting darah ini benar-benar bisa bermanfaat langsung untuk menyelamatkan orang lain di luar sana. Setelah tahu bahwa prosesnya aman dan tidak seseram bayangan saya, target saya berikutnya adalah mulai rutin mendonorkan darah secara berkala ke depannya," tambah Fitri optimistis.

Momen Menegangkan Pendonor Pemula Melawan Pandangan Blur

Kisah yang tidak kalah dramatis dan penuh perjuangan juga dialami oleh Liana, mahasiswi Jurusan Akuntansi semester 7 yang bertempat tinggal di kawasan Perumahan Sukajaya, Bekasi. Datang dengan niat tulus untuk ikut serta dalam aksi sosial kampus, Liana harus melewati momen menegangkan ketika kondisi fisiknya sempat mengalami syok ringan akibat rasa cemas yang berlebihan di depan meja medis.
"Ini benar-benar pengalaman pertama saya sepanjang hidup. Sejak awal melihat ukuran jarum donor yang panjang, mental saya langsung turun karena berpikir ini pasti rasanya akan sangat sakit sekali. Ketakutan saya makin menjadi-jadi ketika petugas medis PMI memberi tahu bahwa struktur pembuluh darah di lengan saya tergolong kecil. Alhasil, saya langsung merasa semakin gugup di tempat," kenang Liana menceritakan detik-detik mendebarkan sebelum darahnya diambil.
Rasa gugup yang memuncak tersebut akhirnya berdampak pada respons fisik Liana saat kantong darah mulai dipasang oleh petugas medis. 
Ia sempat mengalami penurunan tekanan darah sesaat yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran di area panggung hub tersebut.
"Saat proses pengambilan darah sedang berjalan, petugas sempat bertanya kepada saya apakah kepala saya terasa pusing atau perut terasa mual. Saya jawab tidak mual, tetapi tiba-tiba saja pandangan mata saya berubah menjadi kabur dan blur, semuanya terasa gelap. Saya langsung panik dan bilang ke petugasnya, 'Mata saya blur, Pak!'. Beruntung, kakaknya langsung sigap meminta saya untuk berbaring lurus secara rileks agar aliran darah kembali lancar," urai Liana detail mengenai pengalaman klinis pertamanya.
Berkat kesigapan, keramahan, dan profesionalisme tim medis PMI Kabupaten Ponorogo yang berjaga di lokasi, kondisi darurat ringan yang dialami oleh mahasiswi asal Bekasi tersebut dapat tertangani dengan sangat cepat dan aman sesuai SOP medis.
"Setelah ditidurkan beberapa saat, lama-kelamaan saya mulai sadar penuh dan penglihatan saya kembali cerah seperti semula. Sekarang kondisi saya sudah membaik dan sudah bisa duduk normal kembali untuk memulihkan tenaga. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar sampai akhir. Namun, untuk pengalaman berikutnya, saya rasa lebih baik saya langsung datang ke kantor pusat PMI saja karena suasananya di sana pasti lebih proper, tenang, dan jauh lebih nyaman dibandingkan di tengah acara ramai seperti ini, sehingga bisa meminimalkan risiko pusing akibat bising," tutur Liana mengevaluasi pengalamannya.
Meski sempat mengalami momen menegangkan hingga pandangannya mengabur, Liana sama sekali tidak menyesali keputusannya. 
Ia justru merasa bangga karena telah berhasil menaklukkan ketakutan terbesar dalam dirinya demi misi kemanusiaan universal.
"Saya memiliki golongan darah O. Saya sangat berharap darah yang saya donorkan dengan penuh perjuangan hari ini bisa disalurkan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh tim medis, khususnya untuk membantu adik-adik kecil atau pasien mana pun yang sedang mengalami kekurangan darah kritis di luar sana," pungkas Liana dengan nada haru.

Apresiasi Tinggi dari Pihak PMI Ponorogo

Keberanian luar biasa yang ditunjukkan oleh para mahasiswa pendonor pemula seperti Fitri dan Liana di ajang CREVO FAIR UMPO ini menuai pujian dan apresiasi yang sangat tinggi dari jajaran pengurus Palang Merah Indonesia Kabupaten Ponorogo. Kehadiran generasi muda yang peduli dinilai menjadi pilar utama pemenuhan stok darah di tingkat daerah.
Mewakili Ketua PMI Kabupaten Ponorogo, Luhur Karsanto melalui petugas donor darah dilapangan, Taufikurrahman menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Ponorogo yang telah menyukseskan program donor darah ini di tengah kesibukan pameran bisnis mereka.
"Kami dari pihak PMI sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap panitia penyelenggara CREVO FAIR UMPO serta seluruh rekan-rekan mahasiswa yang telah sukarela mengantre untuk mendonorkan darahnya hari ini. Langkah nyata ini menjadi bukti sahih bahwa mahasiswa UMPO tidak hanya memiliki keunggulan kompetitif di bidang inovasi teknologi, bisnis digital, dan kewirausahaan baru, tetapi mereka juga dibekali dengan hati nurani, empati, serta kepedulian sosial yang luar biasa tinggi terhadap sesama manusia yang sedang berjuang keras demi kesembuhan di rumah sakit," tegas Taufikurrahman dalam pernyataan resminya di lokasi.
Taufikurrahman juga menambahkan bahwa pasokan darah yang berhasil dikumpulkan dari lingkungan kampus ini akan langsung dibawa ke laboratorium PMI untuk disaring dan disalurkan secara higienis ke berbagai fasilitas kesehatan yang membutuhkan di seluruh wilayah Ponorogo dan sekitarnya.

Sinergi Inovasi Bisnis dan Kepedulian Sosial Kampus

Keberhasilan integrasi antara pameran bisnis dan aksi donor darah ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi pihak manajemen universitas. 
Ketua Divisi Sertifikasi Profesi Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Yusuf Arif, M.M., menegaskan bahwa kegiatan pameran ini merupakan muara akhir dari program pendampingan kewirausahaan yang dijalani oleh mahasiswa selama enam bulan penuh, baik di dalam kelas (in class) maupun mentoring luar kelas.
"Produk-produk yang dipamerkan hari ini, mulai dari packing yang bagus hingga desain yang kreatif, adalah hasil pendampingan mentor selama setengah tahun. Namun, yang membuat kami sangat bangga adalah komitmen sosial mereka. Ide awal dari teman-teman panitia untuk menggandeng PMI ternyata disambut dengan antusiasme yang sangat luar biasa oleh para mahasiswa. Kami ingin menanamkan pola pikir bahwa menjadi wirausaha sukses masa depan tidak boleh membuat mereka melupakan nilai-nilai kemanusiaan," kata Yusuf Arif menjelaskan esensi utama dari pameran CREVO FAIR tersebut.
Acara akbar yang dibuka langsung oleh perwakilan jajaran rektorat dan Wakil Rektor II UMPO ini juga turut dimeriahkan dengan agenda penilaian Idol Entrepreneur Award, sesi talkshow edukatif, serta didukung penuh oleh jajaran sponsor lokal seperti Al-Fath, Nibras House, Freeland, Alfachia Journey, Apotek Safa Marwa, dan mitra-mitra strategis lainnya yang berkomitmen membangun kemandirian bangsa lewat pemuda berkarakter sosial tinggi.
Penulis: Amin 
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Kisah Mahasiswi Pendonor Pemula di CREVO FAIR UMPO: Lawan Takut Jarum Suntik demi Kemanusiaan
  • Kisah Mahasiswi Pendonor Pemula di CREVO FAIR UMPO: Lawan Takut Jarum Suntik demi Kemanusiaan
  • Kisah Mahasiswi Pendonor Pemula di CREVO FAIR UMPO: Lawan Takut Jarum Suntik demi Kemanusiaan
  • Kisah Mahasiswi Pendonor Pemula di CREVO FAIR UMPO: Lawan Takut Jarum Suntik demi Kemanusiaan
  • Kisah Mahasiswi Pendonor Pemula di CREVO FAIR UMPO: Lawan Takut Jarum Suntik demi Kemanusiaan
  • Kisah Mahasiswi Pendonor Pemula di CREVO FAIR UMPO: Lawan Takut Jarum Suntik demi Kemanusiaan

Post a Comment