Jejak Pengabdian Sutamar di PMI Jatim

ANEWS.co, SURABAYA – Bagi sebagian santri yang menimba ilmu di lingkungan pondok pesantren, agenda latihan berpidato atau muhadhoroh di hadapan banyak orang mungkin sering dianggap sebagai sebuah tantangan mental yang cukup mendebarkan
"Saya sering tampil berpidato di depan teman-teman. Seminggu sekali kami mendapat giliran," kenang Pak Tamar saat berbincang hangat di Kantor PMI Provinsi Jawa Timur, Jalan Karangmenjangan No. 22, Surabaya
.
Meneropong Jejak Pesantren: Gemblengan Mental dan Karakter
Kenangan manis masa muda di pesantren itu seolah tak pernah pudar dalam ingatan Tamar
Namun, di samping pengayaan literasi keagamaan tersebut, keberanian serta kepercayaan diri Tamar untuk tampil dan berbicara secara artikulatif di hadapan publik ditempa secara konsisten melalui muhadhoroh
Keberanian menyampaikan gagasan, ketenangan saat berinteraksi dengan publik, serta kemampuan mengolah emosi diri menjadi nilai tambah yang sangat berharga di kemudian hari
Persimpangan Karier: Dari Dunia Santri Menuju Ketelitian Administrasi
Selepas menyelesaikan pendidikan di lingkungan pesantren dan melanjutkan jenjang sekolah menengah atas di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) hingga lulus pada tahun 1979, Sutamar memasuki babak baru yang cukup kontras
Di SMEA, Tamar digembleng dengan berbagai materi kurikulum teknis yang ketat
"Sekolah SMEA waktu itu memang penuh pelajaran hitung-hitungan," ujar Pak Tamar sembari tersenyum mengenang perjalanannya beradaptasi dengan materi administrasi yang presisi
.
Kombinasi unik antara karakter santri yang memiliki basis moral kuat dengan keterampilan administrasi keuangan yang tertata rapi inilah yang kelak membentuk profil Sutamar sebagai sosok staf operasional yang sangat andal, teliti, dan berdedikasi tinggi
Langkah Awal PengabdianEmpat Dekade di PMI Jawa Timur
Perjalanan panjang pengabdiannya di organisasi kemanusiaan terdepan Indonesia dimulai pada kurun waktu antara tahun 1980 hingga 1982
Tamar mengenang bahwa pada masa tersebut, posisi jabatan Sekretaris PMI Jawa Timur dipegang oleh Siswo Haryoko, seorang mantan Bupati Kediri yang memiliki ikatan emosional tersendiri dengan daerah asal Pak Tamar karena istrinya berasal dari Jember
Sejak saat itu, hari-hari Pak Tamar diwarnai dengan kerja-kerja pelayanan publik
Mengelola Penghargaan Pendonor Darah: Ketelitian di Balik Angka Kemanusiaan
Salah satu tugas besar yang saat ini tengah digarap oleh Pak Tamar adalah penyusunan dan verifikasi data calon penerima penghargaan Donor Darah Sukarela (DDS) Tahun 2026
Tanggung jawab mengolah data ribuan pendonor dari berbagai daerah tentu membutuhkan fokus dan presisi tanpa kompromi
Proses rekapitulasi data ini melibatkan koordinasi yang intensif dengan jaringan PMI di tingkat daerah
Di balik lembaran berkas dan ketepatan data ribuan pendonor darah tersebut, ada ketelitian jemari Pak Tamar yang bekerja tanpa lelah guna memastikan setiap pahlawan kemanusiaan mendapatkan apresiasi yang tepat dan bermakna
Nilai-Nilai Santri sebagai Kompas Kehidupan
Bagi Sutamar, bekerja di lingkungan Palang Merah Indonesia selama puluhan tahun bukanlah sekadar menjalankan kewajiban rutinitas pekerjaan harian atau sekadar menyelesaikan urusan administrasi teknis
Nilai-nilai tersebut mencakup kedisiplinan dalam menjalankan amanah, keberanian untuk menyampaikan pendapat demi kebaikan bersama, serta keikhlasan yang mendalam dalam melayani sesama manusia tanpa membeda-bedakan
Muhadhoroh yang dahulu ia jalani setiap pekan semasa menjadi santri di Pondok Pesantren Baitul Arkom ternyata bukan sekadar latihan mengolah kata atau menguasai panggung pidato
Melalui kisah Tamar, kita belajar bahwa keahlian teknis yang dipadukan dengan nilai-nilai ketulusan dan gemblengan karakter masa muda mampu melahirkan dedikasi tanpa batas
Post a Comment