Jejak Pengabdian Sutamar di PMI Jatim





ANEWS.co, SURABAYA – Bagi sebagian santri yang menimba ilmu di lingkungan pondok pesantren, agenda latihan berpidato atau muhadhoroh di hadapan banyak orang mungkin sering dianggap sebagai sebuah tantangan mental yang cukup mendebarkan. Rasa gugup dan canggung kerap menyelimuti para santri muda saat harus berdiri tegak di atas panggung. Namun, bagi Sutamar, pria kelahiran Jember tahun 1959 yang akrab disapa Tamar, tradisi mingguan di pesantren tersebut justru menjadi salah satu momen paling krusial dalam pembentukan jati dirinya. .. Pelajaran berharga yang diperolehnya puluhan tahun silam itu kini menjelma menjadi modal sosial utama yang mengiringi perjalanan panjang hidup dan pengabdiannya di dunia kemanusiaan.


"Saya sering tampil berpidato di depan teman-teman. Seminggu sekali kami mendapat giliran," kenang Pak Tamar saat berbincang hangat di Kantor PMI Provinsi Jawa Timur, Jalan Karangmenjangan No. 22, Surabaya.

Meneropong Jejak Pesantren: Gemblengan Mental dan Karakter

Kenangan manis masa muda di pesantren itu seolah tak pernah pudar dalam ingatan Tamar. Saat menempuh pendidikan di tingkat Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Baitul Arkom, Balung, Kabupaten Jember, ia tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang mendasar.   Di sana, ia menyerap pelajaran tafsir, akidah, usuludin, tata bahasa Arab (nahwu), hingga kisah-kisah keteladanan dan sejarah perjuangan dalam Perang Badar serta Perang Uhud.

Namun, di samping pengayaan literasi keagamaan tersebut, keberanian serta kepercayaan diri Tamar untuk tampil dan berbicara secara artikulatif di hadapan publik ditempa secara konsisten melalui muhadhoroh. Sebuah proses gemblengan berkala yang tanpa ia sadari kala itu, ternyata menjadi kawah candradimuka dalam membentuk kematangan komunikasinya sebelum memasuki dunia kerja.

Keberanian menyampaikan gagasan, ketenangan saat berinteraksi dengan publik, serta kemampuan mengolah emosi diri menjadi nilai tambah yang sangat berharga di kemudian hari.

Persimpangan Karier: Dari Dunia Santri Menuju Ketelitian Administrasi

Selepas menyelesaikan pendidikan di lingkungan pesantren dan melanjutkan jenjang sekolah menengah atas di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) hingga lulus pada tahun 1979, Sutamar memasuki babak baru yang cukup kontras. Dunia yang ia geluti kemudian tidak lagi berkutat pada hafalan kitab atau pelajaran keagamaan semata, melainkan dihadapkan pada tumpukan angka dan ketelitian administrasi ekonomi.

Di SMEA, Tamar digembleng dengan berbagai materi kurikulum teknis yang ketat. Ia harus menguasai tata buku keuangan, mekanisme debit-kredit, penyusunan laporan neraca, prinsip-prinsip ekonomi perusahaan, keahlian menulis cepat stenografi, hingga pemahaman dasar mengenai hukum pidana serta hukum perdata.

.

"Sekolah SMEA waktu itu memang penuh pelajaran hitung-hitungan," ujar Pak Tamar sembari tersenyum mengenang perjalanannya beradaptasi dengan materi administrasi yang presisi.

Kombinasi unik antara karakter santri yang memiliki basis moral kuat dengan keterampilan administrasi keuangan yang tertata rapi inilah yang kelak membentuk profil Sutamar sebagai sosok staf operasional yang sangat andal, teliti, dan berdedikasi tinggi.

Langkah Awal PengabdianEmpat Dekade di PMI Jawa Timur

Perjalanan panjang pengabdiannya di organisasi kemanusiaan terdepan Indonesia dimulai pada kurun waktu antara tahun 1980 hingga 1982. Ketika itu, ia resmi menjadi bagian dari Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Timur. Pada masa awal tugasnya, markas PMI Jawa Timur masih bertempat di kantor lama yang berlokasi di Jalan Kalibokor, Surabaya.

Tamar mengenang bahwa pada masa tersebut, posisi jabatan Sekretaris PMI Jawa Timur dipegang oleh Siswo Haryoko, seorang mantan Bupati Kediri yang memiliki ikatan emosional tersendiri dengan daerah asal Pak Tamar karena istrinya berasal dari Jember.

Sejak saat itu, hari-hari Pak Tamar diwarnai dengan kerja-kerja pelayanan publik. Lebih dari empat dekade atau 46 tahun berlalu, laju waktu ternyata sama sekali tidak mengikis semangat pengabdiannya. Mengemban amanah di Bidang Umum PMI Jawa Timur, kini ia tetap disibukkan dengan agenda-agenda krusial yang membutuhkan tingkat ketelitian tinggi.

Mengelola Penghargaan Pendonor Darah: Ketelitian di Balik Angka Kemanusiaan

Salah satu tugas besar yang saat ini tengah digarap oleh Pak Tamar adalah penyusunan dan verifikasi data calon penerima penghargaan Donor Darah Sukarela (DDS) Tahun 2026. Penganugerahan penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi tertinggi dari negara dan organisasi kepada para pahlawan kemanusiaan yang telah secara konsisten menyumbangkan darah mereka demi menyelamatkan jiwa sesama. Acara pengagungan para pendonor sukarela tersebut dijadwalkan akan diserahkan secara resmi pada September mendatang.

Tanggung jawab mengolah data ribuan pendonor dari berbagai daerah tentu membutuhkan fokus dan presisi tanpa kompromi. Untuk periode tahun 2026 ini, tercatat sebanyak 650 pendonor akan menerima penganugerahan penghargaan atas kedermawanan mereka melakukan 75 kali donor darah. Sementara itu, sebanyak 412 pendonor berhak memperoleh penghargaan tertinggi atas pencapaian 100 kali donor darah, serta 1.988 pendonor akan menerima PIN penghargaan atas dedikasi 50 kali donor darah.

Proses rekapitulasi data ini melibatkan koordinasi yang intensif dengan jaringan PMI di tingkat daerah. Hampir seluruh PMI Kabupaten dan Kota di wilayah Provinsi Jawa Timur telah merampungkan dan mengirimkan data usulan penerima penghargaan tersebut. Hanya Kabupaten Sumenep yang saat ini masih dalam tahap penuntasan proses administratif, sedangkan Kota Batu pada tahun ini tercatat belum memiliki kandidat penerima penghargaan.

Di balik lembaran berkas dan ketepatan data ribuan pendonor darah tersebut, ada ketelitian jemari Pak Tamar yang bekerja tanpa lelah guna memastikan setiap pahlawan kemanusiaan mendapatkan apresiasi yang tepat dan bermakna.

Nilai-Nilai Santri sebagai Kompas Kehidupan

Bagi Sutamar, bekerja di lingkungan Palang Merah Indonesia selama puluhan tahun bukanlah sekadar menjalankan kewajiban rutinitas pekerjaan harian atau sekadar menyelesaikan urusan administrasi teknis. Lebih dari itu, ada pilar nilai dan kompas moral yang senantiasa ia pegang teguh sejak masih menimba ilmu di bangku pesantren.

Nilai-nilai tersebut mencakup kedisiplinan dalam menjalankan amanah, keberanian untuk menyampaikan pendapat demi kebaikan bersama, serta keikhlasan yang mendalam dalam melayani sesama manusia tanpa membeda-bedakan.

Muhadhoroh yang dahulu ia jalani setiap pekan semasa menjadi santri di Pondok Pesantren Baitul Arkom ternyata bukan sekadar latihan mengolah kata atau menguasai panggung pidato. Latihan rutin itu adalah sebuah proses panjang pembentukan karakter, mentalitas pelayanan, dan kepekaan empati sosial. Karakter yang tangguh, jujur, dan rendah hati itulah yang hingga hari ini tetap menjadi bahan bakar utama yang mengiringi setiap langkah pengabdian Pak Tamar di PMI Provinsi Jawa Timur.

Melalui kisah Tamar, kita belajar bahwa keahlian teknis yang dipadukan dengan nilai-nilai ketulusan dan gemblengan karakter masa muda mampu melahirkan dedikasi tanpa batas. Sebuah pengabdian panjang selama 46 tahun yang membuktikan bahwa melayani kemanusiaan adalah panggilan jiwa yang tak pernah padam oleh waktu.


Penulis: Amin 
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Jejak Pengabdian Sutamar di PMI Jatim
  • Jejak Pengabdian Sutamar di PMI Jatim
  • Jejak Pengabdian Sutamar di PMI Jatim
  • Jejak Pengabdian Sutamar di PMI Jatim
  • Jejak Pengabdian Sutamar di PMI Jatim
  • Jejak Pengabdian Sutamar di PMI Jatim

Post a Comment