Selamatkan Mangrove Pasca-Tsunami, Abdul Hadi Raih Penghargaan Kalpataru 2026
anews.co, Jakarta – Dedikasi tanpa pamrih selama lebih dari satu dekade akhirnya membuahkan pengakuan tertinggi di tingkat nasional. Abdul Hadi, putra terbaik asal Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, resmi dianugerahi Penghargaan Kalpataru 2026. Apresiasi tertinggi di bidang lingkungan hidup ini diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup (KLH), Moh Jumhur Hidayat, dalam sebuah seremoni khidmat di Jakarta pada Kamis (11/6/2026).
Abdul Hadi sukses membawa pulang piala Kalpataru untuk kategori Pengabdi Lingkungan. Penghargaan ini menjadi bukti nyata atas kegigihan, ketulusan, serta konsistensinya dalam menyelamatkan dan memulihkan ekosistem mangrove di pesisir Aceh yang sempat hancur lebur akibat bencana dahsyat gempa dan tsunami pada tahun 2004 silam.
Jejak Langkah Abdul Hadi: Memulihkan Luka Pesisir Pasca-Tsunami
Tragedi tsunami 2004 tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Aceh, tetapi juga merusak benteng hijau pertahanan pesisir bumi Serambi Mekah. Menyaksikan kawasan pantai tempat tinggalnya menjadi kumuh dan rentan terhadap abrasi, Abdul Hadi tergerak untuk mengambil tindakan nyata.
Sejak tahun 2012, pria yang kini menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Aceh Jaya sekaligus Ketua Yayasan Aceh Jaya Mangrove Institute (AMI) ini mulai menginisiasi gerakan restorasi. Langkah awalnya tidaklah mudah.
Ia harus berhadapan dengan keterbatasan sarana, bibit, hingga tantangan untuk meyakinkan masyarakat sekitar mengenai pentingnya mengembalikan kelestarian rawa yang telanjur rusak.
Dengan modal ketekunan, Abdul Hadi menyulap kawasan rawa yang kumuh menjadi ekosistem mangrove yang kembali asri. Tidak berhenti pada penanaman pohon semata, ia berhasil mengintegrasikan aspek lingkungan dengan potensi ekonomi daerah melalui konsep ekowisata Mangrove.
Pendekatan berkelanjutan ini terbukti berhasil meloloskan namanya ke dalam posisi tiga besar penilaian ketat tingkat nasional hingga akhirnya resmi dinobatkan sebagai pemenang utama.
“Penghargaan ini sepenuhnya untuk masyarakat Aceh, khususnya masyarakat Aceh Jaya. Semoga dengan adanya pengakuan ini, kita semua bisa semakin termotivasi dalam menjaga alam sekitar. Mari kita pelihara alam ini agar menjadi investasi terbaik bagi masa depan anakucu kita,” ujar Abdul Hadi dengan penuh haru setelah menerima piala penghargaan.
Kalpataru 2026: Mengubah Aksi Akar Rumput Menjadi Gerakan Massal
Kementerian Lingkungan Hidup memberikan penghargaan Kalpataru 2026 kepada total 16 individu dan kelompok terpilih dari seluruh penjuru nusantara. Dalam sambutannya, Menteri LH Moh Jumhur Hidayat menekankan bahwa kata Kalpataru diambil dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti "pohon harapan" dan "pohon kehidupan".
Jumhur menegaskan bahwa seluruh penerima penghargaan tahun ini merupakan pahlawan garis depan yang telah memberikan teladan nyata di luar batas tugas biasa demi kelestarian alam Indonesia.
"Kita terus berutang semangat kepada mereka yang telah mengabdikan seluruh hidupnya demi lingkungan hidup. Apresiasi tertinggi negara ini menjadi bukti sahih bahwa aksi lokal yang dimulai dari akar rumput mampu membawa dampak ekologis masif dan diakui secara nasional," tutur Jumhur.
Transformasi Regulasi Menuju Keberlanjutan Lintas Generasi
Untuk menjawab tantangan zaman, KLH melakukan langkah strategis melalui transformasi sistem penghargaan ini. Perubahan tersebut diatur secara resmi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Nomor 15 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pemberian Penghargaan Kalpataru.
Melalui regulasi baru ini, Kalpataru kini dibagi ke dalam tiga kategori payung utama yang mencakup spektrum pejuang lingkungan secara lebih luas:
- Kalpataru Adya: Berfokus pada para pionir atau perintis gerakan lingkungan.
- Kalpataru Lestari: Ditujukan bagi individu atau kelompok yang berhasil menjaga konsistensi gerakan lingkungan dalam jangka panjang.
- Kalpataru Yuvan: Kategori khusus yang didedikasikan untuk mengapresiasi para pejuang lingkungan dari generasi muda.
“Kebijakan baru ini sengaja kami rancang untuk memperluas partisipasi aktif masyarakat. Kami ingin memperkuat keberlanjutan gerakan lingkungan lintas generasi, memastikan bahwa tongkat estafet penjaga bumi ini terus bersambung ke tangan anak-anak muda kita,” tambah Jumhur.
Daftar Lengkap Penerima Penghargaan Kalpataru 2026
![]() |
| Abdul Hadi saat menerima penghargaan Kalpataru 2026 |
Restorasi mangrove di Aceh merupakan satu dari sekian banyak potret perjuangan luar biasa para pahlawan lingkungan di Indonesia. Berikut adalah daftar lengkap 16 penerima Penghargaan Kalpataru 2026 di berbagai kategori:
1. Kalpataru Adya (Kategori Perintis & Pengabdi Lingkungan)
- Kategori Perintis Lingkungan:
- Ananto Isworo (DI Yogyakarta)
- Wibi Nugraha (Sumatera Utara)
- Jamaluddin (Sulawesi Selatan)
- Kategori Pengabdi Lingkungan:
- Abdul Hadi (Aceh)
- Taufik Ismail (Kalimantan Timur)
2. Kategori Penyelamat & Pembina Lingkungan
- Kategori Penyelamat Lingkungan:
- Pejuang Muda Wija To Cerekang (Sulawesi Selatan)
- Yayasan Pelestarian Flora dan Fauna Bangka Belitung / ALOBI (Kepulauan Bangka Belitung)
- Kategori Pembina Lingkungan:
- Komang Astika (Bali)
- Miswanto (Kepulauan Riau)
- Shanty Meta Febrinalisa (DKI Jakarta)
3. Kalpataru Lestari (Keberlanjutan Jangka Panjang)
- Bening Saguling Foundation (Jawa Barat)
- Agus Bei (Kalimantan Timur)
- Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih (Bali)
- Wutmaili Romuty (Maluku)
- Kelompok Tani Hutan Sadar Sendiri (Papua)
4. Kalpataru Yuvan (Pejuang Muda)
- Marsella Wahyu Muntia (Jawa Tengah)
Sinergi Ekonomi dan Ekologi untuk Masa Depan Bumi
![]() |
| Abdul Hadi bersama trophy Kalpataru 2026 |
Perjalanan Abdul Hadi di Aceh memberikan sebuah pelajaran berharga bagi dunia ekologi modern: menjaga kelestarian alam tidak harus mengorbankan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Ketika rawa kumuh diubah menjadi kawasan hijau yang produktif, ekosistem tersebut tidak hanya menjadi pelindung alami dari bencana abrasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru lewat sektor wisata yang berkelanjutan.
Pemerintah melalui KLH berharap momentum Kalpataru 2026 ini tidak berhenti pada acara seremonial semata. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengubah kekaguman publik terhadap 16 profil pejuang lingkungan ini menjadi sebuah gerakan massal yang diadopsi oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Menjaga bumi bukan hanya tugas pemerintah atau segelintir lembaga, melainkan kewajiban kolektif demi keberlangsungan hidup manusia lintas generasi.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:



Post a Comment