Lewat Program ELECTRA, PMI Manggarai dan BMKG Gelar Lokalatih Sistem MOSAIC bagi Relawan


anews.co, Manggarai – Perubahan pola iklim global kian meningkatkan frekuensi ancaman bencana hidrometeorologi, seperti curah hujan ekstrem, banjir bandang, hingga tanah longsor. Wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu daerah yang kerap berhadapan langsung dengan dinamika cuaca tersebut. Dalam situasi darurat, keberadaan data cuaca yang akurat dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sangatlah vital. Namun, data ilmiah tersebut sering kali sulit diterjemahkan menjadi aksi penyelamatan konkret jika masyarakat di tingkat tapak tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya.

Guna menjembatani kesenjangan informasi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai mengambil langkah strategis. Pada Jumat (5/5/2026), bertempat di Aula Efata Ruteng, PMI menyelenggarakan kegiatan Lokalatih Sistem dan Platform MOSAIC BMKG. Kegiatan edukatif ini menyasar para relawan lokal, perwakilan Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) dari 7 desa/kelurahan, serta Tim Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dari 7 sekolah yang menjadi penerima manfaat program.

Pelaksanaan lokalatih ini merupakan bagian integral dari komitmen jangka panjang bertajuk Program Empowering Local Entities and Communities To Take Rapid Action (ELECTRA). Program berskala lokal ini dijalankan oleh PMI dengan dukungan penuh dari Palang Merah Amerika (American Red Cross). Tujuan utamanya adalah memperkuat sinergitas kelembagaan demi membangun ketangguhan masyarakat yang tinggal di zona rawan bencana.

Ketua PMI Kabupaten Manggarai, Ronny Kaunang, dalam sambutan pembukaannya menjelaskan bahwa di era modern ini, penanggulangan bencana tidak bisa lagi bersifat reaktif setelah peristiwa terjadi. Sebaliknya, paradigma mitigasi harus bergeser ke arah aksi dini (early action) yang berbasis pada data prakiraan cuaca yang valid.

> "Informasi bencana menjadi sangat penting dengan tingginya ancaman hidrometeorologi yang terjadi saat ini. BMKG sebagai lembaga resmi yang mengolah dan menyajikan informasi data iklim dan cuaca memegang peran yang sangat krusial. PMI merasa perlu melatih masyarakat yang ada di desa dan sekolah penerima program ELECTRA untuk membagikan informasi cuaca atau informasi perkiraan dampak yang ditimbulkan," ujar Ronny.

Ronny menambahkan bahwa pemanfaatan informasi BMKG ini sangat dinantikan oleh Tim SIBAT di tingkat desa maupun komite PRB di lingkungan sekolah. Melalui pemahaman data yang baik, warga dapat segera mengambil tindakan penyelamatan mandiri sebelum dampak buruk curah hujan tinggi—seperti banjir atau longsor—benar-benar melanda permukiman mereka.

Program inti yang dipelajari oleh para relawan dalam lokalatih ini adalah MOSAIC, sebuah akronim dari Masyarakat Indonesia Siaga dan Adaptif Informasi Cuaca. MOSAIC merupakan program orisinal besutan BMKG yang didesain khusus untuk mengedukasi masyarakat awam serta para pelaku sektor rentan (seperti pertanian dan pangan). Tujuannya agar mereka memiliki kemampuan membaca informasi cuaca dan iklim, sekaligus menerapkannya dalam langkah-langkah tanggap bencana sehari-hari.

Plt. Kepala Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega Ruteng, Dinda Surya Selviany, yang hadir langsung sebagai narasumber utama, menyambut baik kolaborasi proaktif ini. 

Menurutnya, inovasi secanggih apa pun yang diciptakan BMKG tidak akan berdampak besar tanpa adanya interaksi langsung dan pemahaman dari masyarakat selaku pengguna informasi.

Fokus Utama Edukasi Platform MOSAIC:

* Pengenalan Karakteristik Cuaca: Memahami perbedaan mendasar antara dinamika cuaca jangka pendek dan perubahan iklim jangka panjang di wilayah Manggarai.

Pengolahan Informasi Berbasis Risiko: Mengubah angka-angka teknis curah hujan (milimeter) menjadi prediksi dampak riil di lapangan.

* Pembuatan Keputusan Aksi Dini: Menentukan tindakan apa yang harus segera dihimbau kepada warga desa dan tindakan apa yang mutlak dilarang demi keselamatan bersama sebelum ancaman bahaya tiba.

"MOSAIC ini bertujuan agar masyarakat memahami peringatan dini dan informasi meteorologi. Teknik pengolahan informasi ini akan memudahkan pengambilan keputusan berbasis risiko. Sebagai contoh, ketika ada peringatan dini curah hujan tinggi yang berpotensi banjir atau longsor, pesan tersebut dapat digunakan oleh lembaga seperti Tim SIBAT desa untuk membuat keputusan informasi peringatan dini apa yang bisa dihimbau ke masyarakat," jelas Dinda Surya.

Salah satu kendala utama dalam mitigasi bencana selama ini adalah minimnya literasi informasi. Banyak kelompok relawan di tingkat desa yang terjebak pada kebiasaan sekadar meneruskan (forward) tangkapan layar atau grafis teknis dari BMKG ke grup-grup WhatsApp warga tanpa memberikan konteks lokal. Akibatnya, pesan penting tersebut sering kali diabaikan oleh masyarakat karena bahasanya dianggap terlalu rumit.

Melalui lokalatih program ELECTRA ini, pendekatan komunikasi yang kaku tersebut dirombak total. Para peserta dilatih untuk menyederhanakan bahasa ilmiah BMKG menjadi kalimat imbauan lokal yang persuasif dan mudah dimengerti tetangga sekitar.

Sebuah perubahan nyata dirasakan langsung oleh Komandan SIBAT Desa Cambir Leca, Hermene Sudanarjo.

 Ia menceritakan bagaimana pelatihan ini membuka sudut pandang baru bagi timnya dalam mengelola informasi darurat.

> "Selama ini kami hanya melihat informasi grafis yang dikirim di media sosial dan sekadar membagikannya saja ke orang lain. Saat belajar di sini, saya dan teman-teman dilatih mengolah pesan yang dikirim ke kami, selanjutnya kami bahasakan sesuai dengan kondisi riil di desa kami untuk kemudian dibagikan melalui grup WA atau kampanye keliling ke masyarakat. Kami juga sangat terbantu karena sekarang sudah bergabung langsung dalam grup WA BMKG Ruteng," ungkap Hermene dengan antusias.

Untuk memberikan pengalaman belajar yang komprehensif, kurikulum lokalatih ini tidak hanya berpusat pada pemaparan materi di dalam ruangan kelas. Para peserta diajak melakukan kunjungan lapangan langsung ke Taman Alat BMKG Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega Ruteng. Di tempat ini, para relawan diperlihatkan secara langsung instrumen-instrumen fisik yang digunakan untuk merekam kondisi atmosfer bumi.

Ketua Tim PRB SDK Narang 1, Konstantinus Pantu, berbagi pengalamannya saat meninjau langsung fasilitas pemantauan tersebut.

Ia mengaku takjub melihat bagaimana data mentah dari alam diubah hingga menjadi produk informasi yang siap konsumsi.

"Ini pengalaman yang sangat menarik karena kami berkesempatan melihat dari dekat alat-alat pemantau curah hujan, tingkat radiasi matahari, kecepatan angin, dan banyak lagi di Taman Alat. Jenis alatnya bervariasi mulai dari yang manual hingga otomatis. Pada alat manual, petugas melakukan pencatatan berkala, sementara alat otomatis langsung mengirimkan data ke ruang komputer. Di ruang pengolahan data, kami melihat sendiri cara data diolah hingga menjadi infografis untuk dibagikan di media sosial," kata Konstantinus.

Usai melakukan kunjungan lapangan, proses belajar para relawan diuji kembali. Peserta dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni kelompok desa dan kelompok sekolah, untuk menyusun laporan kunjungan ke Taman Alat. Hasil laporan ini dirancang bukan sekadar sebagai tugas kelas, melainkan sebagai materi mentah pembuatan media pembelajaran kreatif—seperti poster kampanye bulanan, papan informasi desa, hingga majalah dinding (mading) di sekolah masing-masing.

Guna memastikan bahwa ilmu yang didapat tidak menguap begitu saja, panitia menerapkan sistem evaluasi yang ketat. Seluruh peserta diwajibkan mengikuti uji awal (pre-test), uji akhir (post-test), serta menyelesaikan penugasan mandiri pasca-kegiatan.

Koordinator Lapangan (Korlap) Program ELECTRA, Tommy Hikmat, menegaskan bahwa pemantauan ketat ini sengaja dilakukan demi menjaga kualitas sumber daya manusia yang diutus oleh komunitas.

"Hal ini untuk memastikan bahwa peserta yang diutus dari desa dan sekolah benar-benar berkomitmen mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Jadi, saat kembali ke komunitas, mereka dapat membagikan pengetahuannya ke anggota kelompok SIBAT atau PRB sekolah yang lain. Materi yang didapat hari ini harus menjadi bahan kampanye keselamatan yang disuarakan setiap bulan di wilayah masing-masing," pungkas Tommy.

Melalui sinergi kuat antara misi kemanusiaan PMI Manggarai, dukungan internasional dari Palang Merah Amerika, serta keahlian teknis BMKG, masyarakat Kabupaten Manggarai kini selangkah lebih maju dalam menghadapi tantangan alam. 

Ketangguhan sejati terbukti lahir ketika data ilmiah bertemu dengan kesiapsiagaan relawan di garis depan.

Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Lewat Program ELECTRA, PMI Manggarai dan BMKG Gelar Lokalatih Sistem MOSAIC bagi Relawan
  • Lewat Program ELECTRA, PMI Manggarai dan BMKG Gelar Lokalatih Sistem MOSAIC bagi Relawan
  • Lewat Program ELECTRA, PMI Manggarai dan BMKG Gelar Lokalatih Sistem MOSAIC bagi Relawan
  • Lewat Program ELECTRA, PMI Manggarai dan BMKG Gelar Lokalatih Sistem MOSAIC bagi Relawan
  • Lewat Program ELECTRA, PMI Manggarai dan BMKG Gelar Lokalatih Sistem MOSAIC bagi Relawan
  • Lewat Program ELECTRA, PMI Manggarai dan BMKG Gelar Lokalatih Sistem MOSAIC bagi Relawan

Post a Comment