Surabaya Makin Panas! Ini Langkah Darurat PMI dan Dinkes Cegah KLB
anews.co, Surabaya - Suhu udara di Kota Surabaya dalam beberapa tahun terakhir terasa kian menyengat. Perubahan iklim ekstrem bukan lagi sekadar isu global di atas kertas, melainkan ancaman nyata yang menyentuh kulit warga Kota Pahlawan. Fenomena gelombang panas (heatwave) dan ketidakpastian cuaca memicu pergeseran pola penyakit yang berpotensi melahirkan Kejadian Luar Biasa (KLB).
Menanggapi situasi darurat ini, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya mengambil langkah proaktif. Mereka menyelenggarakan "Pelatihan Surveilans Berbasis Masyarakat" sebagai benteng pertahanan pertama dalam memperkuat sistem ketahanan kesehatan kota.
Acara yang berlangsung di Kampi Hotel Tunjungan ini dirancang untuk membekali para relawan PMI dan Kader Surabaya Hebat (KSH) dengan kemampuan deteksi dini. Pelatihan intensif ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai dari Senin, 18 Mei 2026 hingga Kamis, 21 Mei 2026.
Ancaman Baru di Balik Cuaca Ekstrem Surabaya
Perubahan iklim tidak hanya mencairkan es di kutub, tetapi juga mengubah peta persebaran penyakit di tingkat lokal. Surabaya, sebagai kota metropolitan dengan padatnya aktivitas urban, sangat rentan terhadap dampak kenaikan suhu ini.
Pergeseran Pola Penyakit Menular dan Tidak Menular
Selama ini, masyarakat hanya fokus pada penyakit musiman klasik seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) saat musim hujan atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) saat musim kemarau. Namun, panas ekstrem membawa variabel baru dalam dunia epidemiologi. Kenaikan suhu mempercepat siklus replikasi virus dan memperluas wilayah jelajah vektor pembawa penyakit seperti nyamuk dan tikus.
Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Moch. Ashadi M., S.Kep., Ners, memberikan peringatan keras mengenai realitas baru ini saat membuka acara pada Senin, 18 Mei 2026.
"Tantangan kesehatan di dunia saat ini tidak hanya berkutat pada Penyakit Menular (PM) dan Penyakit Tidak Menular (PTM). Dampak dari panas ekstrem kini juga menjadi ancaman nyata yang harus kita waspadai bersama," ujar Ashadi saat memberikan sambutan.
Bahaya Sengatan Panas (Heatstroke)
Selain memicu penyakit menular, cuaca ekstrem secara langsung mengancam fisik manusia melalui dehidrasi massal, heat exhaustion, hingga heatstroke (sengatan panas) yang bisa berujung pada kematian. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan (outdoor) menjadi sasaran utama yang membutuhkan pengawasan ketat secara berkala.
Mengapa Harus Surveilans Berbasis Masyarakat?
Sistem kesehatan modern tidak akan pernah cukup jika hanya mengandalkan fasilitas kesehatan formal seperti rumah sakit atau puskesmas. Ketika seorang pasien tiba di rumah sakit dengan gejala wabah, artinya infeksi tersebut sudah menyebar luas di lingkungan tempat tinggalnya. Di sinilah pentingnya sistem deteksi dini dari level akar rumput.
[Ancaman Kesehatan/Gejala di RT/RW]
│
▼
[Kader Surabaya Hebat (KSH) / Relawan] ──► (Deteksi Dini & Laporan Cepat)
│
▼
[Puskesmas & Dinkes Surabaya] ───────────► (Tindakan Pencegahan KLB)
Gotong Royong Sebagai Kunci Pengontrolan Wabah
Dinkes Surabaya menyadari keterbatasan personel lapangan mereka. Oleh karena itu, sinergi dengan Kader Surabaya Hebat (KSH) dari wilayah padat penduduk seperti Kecamatan Tambaksari dan Kecamatan Sawahan menjadi langkah strategis. KSH merupakan mata dan telinga pemerintah yang berinteraksi langsung dengan warga setiap hari.
Ashadi melanjutkan penjelasannya dengan menegaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat adalah kunci utama agar Surabaya tidak kecolongan oleh serangan wabah.
"Dinkes tidak bisa bekerja sendirian. Peran KSH sangat dibutuhkan untuk menyaring ancaman atau potensi KLB yang ada di Surabaya," tambah Ashadi.
Belajar dari Kasus Nyata di Lapangan
Pentingnya penanganan dari tingkat bawah didukung oleh fakta historis penanganan krisis. Anggi Ardiyansah, Staf Divisi Kesehatan Sosial PMI Pusat, memaparkan pandangannya mengenai dari mana sebuah krisis kesehatan sebenarnya bermula.
"KLB itu bermula di masyarakat, dari tingkat RT/RW. Oleh karena itu, pihak yang paling efektif untuk bisa mengendalikannya pertama kali juga dari masyarakat itu sendiri. PMI bukan apa-apa tanpa adanya peran serta dari masyarakat," jelas Anggi.
Sebagai contoh nyata, PMI mengacu pada pengalaman berharga saat membantu menangani krisis kesehatan besar, salah satunya adalah KLB Rabies di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada kasus tersebut, keterlambatan laporan dari warga membuat virus menyebar cepat. Namun, ketika masyarakat mulai dilatih untuk mengenali gejala hewan penular rabies secara mandiri dan melakukan penanganan pertama, kurva kasus berhasil ditekan secara drastis. Sinergi lintas pihak inilah yang ingin diadopsi dan diimplementasikan di Surabaya demi meminimalisir dampak fatal di masyarakat.
Transformasi Peran PMI: Lebih dari Sekadar Donor Darah
Selama ini, stigma yang melekat di benak masyarakat awam adalah PMI hanya bertugas mengelola Unit Transonfusi Darah (UTD) dan mengumpulkan kantong darah. Melalui pelatihan ini, PMI Kota Surabaya ingin mendobrak stereotip lama tersebut.
Menegakkan Prinsip Kemanusiaan
PMI memiliki mandat internasional yang luas dalam hal kesiapsiagaan bencana, di mana wabah penyakit dan perubahan iklim termasuk di dalamnya. Sekretaris PMI Kota Surabaya, dr. Muhlas Udin, M.Kes., meluruskan pandangan keliru mengenai ruang lingkup kerja organisasi kemanusiaan ini.
"PMI tidak hanya mengurusi donor darah. Kalau ada orang bilang, 'PMI kok ngurusi perubahan iklim?', ya karena PMI menerapkan Prinsip Dasarnya, yang salah satunya adalah Kemanusiaan," tegas dr. Muhlas.
Dengan memegang teguh prinsip tersebut, PMI memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah dalam mitigasi segala bentuk bencana, baik bencana alam struktural maupun bencana non-alam seperti penyebaran penyakit akut dan kronis.
Integrasi dengan Program Kampung Pancasila
Pelatihan surveilans ini tidak dirancang sebagai proyek satu kali selesai. PMI dan Dinkes Surabaya menginginkan sebuah sistem berkelanjutan yang melekat pada struktur sosial yang sudah ada di kota. Salah satunya adalah menyelaraskan gerakan ini dengan program lokal bentukan pemerintah.
Muhlas berharap para peserta tidak hanya menyerap materi di dalam ruangan hotel, melainkan langsung bergerak turun ke lapangan setelah pelatihan berakhir.
"Mudah-mudahan kegiatan ini bisa diimplementasikan di masyarakat Kota Surabaya, dan sejalan dengan 'Program Kampung Pancasila' yang ada di Kota Surabaya," tutur dr. Muhlas penuh harap.
Integrasi dengan "Kampung Pancasila" dinilai sangat tepat karena program tersebut mengedepankan nilai-nilai ketahanan sosial, toleransi, dan gotong royong warga, yang menjadi modal utama dalam menghadapi krisis kesehatan.
![]() |
| PMI dan Dinkes dan peserta Foto Bersama usai pembukaan |
Langkah Proaktif Menuju Surabaya Kota Tangguh
Melalui pelatihan intensif yang mempertemukan birokrat kesehatan, lembaga kemanusiaan, dan aktivis kampung ini, Surabaya sedang membangun cetak biru (blueprint) pertahanan kesehatan yang baru. Ketika kota-kota lain mungkin masih gagap menghadapi perubahan suhu udara yang ekstrem, Surabaya memilih untuk mencetak ratusan "agen intelijen kesehatan" di tingkat RT dan RW.
Sesi pembukaan pelatihan tersebut diakhiri dengan optimisme tinggi, ditandai dengan sesi foto bersama antara perwakilan PMI, Dinkes, serta seluruh peserta dari KSH dan relawan. Mereka berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas kesehatan kota.
Dokter Muhlas memberikan pernyataan penutup yang merangkum esensi dari seluruh gerakan darurat ini.
"Pelatihan ini menjadi salah satu langkah proaktif untuk melindungi Surabaya dari dampak perubahan iklim yang kian nyata," tutup Muhlas.
Dengan modal sosial berupa gotong royong warga yang kuat, kesiapsiagaan materi dari PMI, serta dukungan regulasi dari Dinas Kesehatan, Kota Surabaya optimistis mampu menghadapi tantangan perubahan iklim global dan mencegah potensi KLB sebelum sempat meluas.
Penulis: Pungki & Ina
Editor: Redaksi
Baca Juga:


Post a Comment