Yuli Arinta Dampingi Relawan PMI Pascagempa Flores Lewat Dukungan Psikososial
ANEWS.co, MANGGARAI - Di tengah berbagai upaya kemanusiaan pascagempa Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT), perhatian publik umumnya tertuju kepada masyarakat yang kehilangan rumah, akses layanan dasar, maupun sumber penghidupan. Namun di balik setiap bantuan yang disalurkan, terdapat para relawan dan staf kemanusiaan yang bekerja tanpa henti untuk memastikan kebutuhan warga tetap terpenuhi.
Mereka hadir di lokasi terdampak sejak hari-hari awal bencana. Mereka membantu distribusi bantuan, mendukung pelayanan kesehatan, menyediakan akses air bersih dan sanitasi, melakukan asesmen kebutuhan masyarakat, hingga menjadi penghubung berbagai layanan kemanusiaan di lapangan. Namun di balik peran tersebut, mereka juga menghadapi tekanan fisik dan emosional yang tidak selalu terlihat.
Kondisi itulah yang mendorong PMI Pusat menghadirkan layanan dukungan psikososial bagi staf dan relawan PMI yang terlibat dalam respons Gempa Flores. Untuk wilayah Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat, program ini difasilitasi oleh Yuli Arinta Dewi, S.P., S.Psi., M.Si., Fasilitator Dukungan Kelompok PMI yang juga merupakan relawan PMI Provinsi Jawa Tengah sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, bersama Noviyanti dari PMI Jakarta Timur.
Kehadiran Yuli dan Noviyanti bukan untuk membawa bantuan logistik ataupun melakukan asesmen kerusakan. Mereka hadir untuk menjalankan misi yang sering kali tidak terlihat tetapi sangat penting dalam operasi kemanusiaan, yaitu mendengarkan para penolong.
Ketika Penolong Juga Membutuhkan Pertolongan
Dalam setiap bencana, relawan sering dipersepsikan sebagai sosok yang selalu kuat dan siap membantu siapa saja. Mereka menjadi tempat warga mencari bantuan, bertanya, bahkan mencurahkan keluh kesah.
Namun sebagai manusia, relawan juga dapat mengalami kelelahan, kecemasan, tekanan emosional, dan beban psikologis akibat situasi yang mereka hadapi selama bertugas.
Berhari-hari berada di lapangan membuat mereka tidak hanya menyaksikan kerusakan fisik akibat gempa, tetapi juga berinteraksi langsung dengan berbagai cerita kehilangan yang dialami masyarakat. Dalam kondisi tertentu, mereka harus mengambil keputusan cepat, bekerja dalam keterbatasan sumber daya, dan tetap menjaga kualitas pelayanan meskipun kondisi fisik mulai menurun.
Situasi semacam itu tidak selalu mudah dihadapi.
Karena itulah PMI Pusat melaksanakan Layanan Dukungan Psikososial dalam bentuk sesi dukungan kelompok bagi staf dan relawan PMI di tujuh kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Sikka pada 12–24 Oktober 2026.
Program tersebut menjadi bagian dari komitmen PMI untuk memastikan bahwa mereka yang membantu masyarakat juga mendapatkan dukungan yang memadai selama menjalankan tugas kemanusiaan.
Menjangkau Relawan dari Desa hingga Lokasi Pelayanan
Rangkaian kegiatan diawali pada 12 Oktober 2026 melalui koordinasi bersama Kepala Markas PMI Manggarai dan Koordinator Lapangan PMI Provinsi NTT.
Selanjutnya pada 13 Oktober, Yuli dan Noviyanti memberikan sesi dukungan kelompok kepada relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Desa Lemarang dan Desa Para Lando, Kabupaten Manggarai.
Keesokan harinya, kegiatan berlanjut kepada relawan Water, Sanitation and Hygiene (WASH) yang bertugas memberikan pelayanan air bersih, sanitasi, dan higiene di Camp WASH PMI Desa Bajak.
Pada 15 Oktober, sesi diberikan kepada staf dan relawan PMI Kabupaten Manggarai. Program kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Manggarai Timur pada 17 Oktober dan Kabupaten Manggarai Barat pada 19 Oktober 2026.
Di setiap lokasi, pendekatan yang digunakan tidak berfokus pada ceramah satu arah. Sebaliknya, peserta diberikan ruang untuk berbicara mengenai pengalaman mereka selama penugasan dan berbagi cerita dengan sesama relawan.
Mendengarkan Sebelum Memberi Solusi
Sebagai psikolog sekaligus fasilitator dukungan kelompok, Yuli memahami bahwa tidak semua persoalan membutuhkan jawaban atau solusi instan.
Sering kali, seseorang hanya membutuhkan kesempatan untuk didengar.
Karena itu, sesi yang difasilitasinya dirancang sebagai ruang aman yang memungkinkan peserta berbagi pengalaman secara sukarela tanpa tekanan.
Dalam sesi-sesi tersebut, berbagai cerita muncul. Ada relawan yang mengungkapkan kelelahan akibat jam pelayanan yang panjang. Ada yang bercerita tentang tantangan koordinasi di lapangan. Ada pula yang mengungkapkan tekanan saat harus menghadapi kebutuhan masyarakat yang sangat besar dengan sumber daya yang terbatas.
Selain mendengarkan pengalaman peserta, fasilitator juga memberikan psikoedukasi mengenai pengelolaan stres, pentingnya menjaga waktu istirahat, membangun komunikasi yang sehat, serta memperkuat dukungan sosial antarrekan kerja.
Pendekatan yang digunakan bersifat aman, sukarela, dan saling menghargai. Para peserta tidak diwajibkan menceritakan pengalaman yang membuat mereka tidak nyaman.
Sebaliknya, setiap peserta memiliki kebebasan untuk menentukan sejauh mana mereka ingin berbagi cerita.
Mengapa Dukungan Psikososial Penting?
Dalam operasi kemanusiaan modern, kesehatan mental relawan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan pelayanan.
Relawan yang mengalami kelelahan berkepanjangan berisiko mengalami penurunan konsentrasi, kesulitan mengambil keputusan, dan berkurangnya kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi yang terus berubah.
Sebaliknya, relawan yang memperoleh dukungan memadai cenderung memiliki daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan serta mampu menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Karena itu, dukungan psikososial tidak lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan, melainkan bagian penting dari pengelolaan sumber daya manusia dalam operasi kemanusiaan.
Program seperti yang dilakukan PMI di Flores membantu organisasi mengenali kebutuhan relawan sejak dini, termasuk kebutuhan istirahat, pengaturan beban kerja, penguatan koordinasi, hingga layanan dukungan lanjutan apabila diperlukan.
Menjaga Keberlanjutan Misi Kemanusiaan
Selain memberikan dukungan kelompok kepada relawan, tim fasilitator juga berdiskusi dengan Pengurus PMI Kabupaten Manggarai Barat pada 19 Oktober 2026.
Dalam diskusi tersebut muncul pemahaman bahwa dukungan psikososial sebaiknya diberikan tidak hanya setelah masa penugasan berakhir, tetapi juga selama masa tanggap darurat masih berlangsung.
Pendekatan ini dinilai penting karena pada fase itulah tekanan pekerjaan berada pada tingkat tertinggi.
Melalui pemantauan kondisi staf dan relawan secara berkala, organisasi dapat merespons kebutuhan mereka lebih cepat sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Bagi Yuli Arinta Dewi, menjaga kesejahteraan relawan berarti menjaga keberlanjutan pelayanan kemanusiaan itu sendiri.
Sebab di balik setiap bantuan yang sampai kepada masyarakat, terdapat orang-orang yang bekerja dalam diam untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Melalui layanan dukungan psikososial ini, PMI Pusat ingin mengirimkan pesan sederhana namun penting: mereka yang setiap hari mendengar kesulitan orang lain juga membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan mereka.
Dan di tengah berbagai tantangan pascagempa Flores, kehadiran ruang untuk didengar bisa menjadi dukungan yang sama berharganya dengan bantuan kemanusiaan lainnya.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
