Saat Para Penolong Bencana Juga Butuh Ruang untuk Didengar
ANEWS.co, MANGGARAI - Dukungan psikososial PMI menjadi salah satu fokus penting dalam respons kemanusiaan pascagempa Flores di Nusa Tenggara Timur. Di tengah berbagai upaya membantu masyarakat terdampak bencana, Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat juga memberikan perhatian khusus kepada staf dan relawan yang selama ini berada di garis depan pelayanan kemanusiaan.
Melalui program Layanan Dukungan Psikososial berupa sesi dukungan kelompok, PMI Pusat menjangkau staf dan relawan PMI di tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Sikka. Kegiatan berlangsung pada 12 hingga 24 Oktober 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga kesejahteraan para petugas kemanusiaan selama menjalankan respons bencana.
Di lapangan, relawan dan staf PMI tidak hanya menghadapi tantangan teknis, tetapi juga tekanan psikologis yang muncul akibat intensitas pekerjaan, tingginya kebutuhan masyarakat, serta kondisi darurat yang berlangsung dalam waktu panjang. Karena itu, perhatian terhadap kondisi mental para penolong menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari respons kemanusiaan.
Penolong Juga Manusia
Selama masa tanggap darurat, fokus publik sering tertuju kepada korban bencana. Namun di balik setiap distribusi bantuan, pelayanan kesehatan, penyediaan air bersih, maupun dukungan kemanusiaan lainnya, terdapat relawan dan staf yang bekerja dalam tekanan tinggi.
Untuk wilayah Manggarai Raya yang meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat, kegiatan difasilitasi oleh Yuli Arinta Dewi, S.P., S.Psi., M.Si., relawan PMI Jawa Tengah yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, bersama Noviyanti dari PMI Jakarta Timur.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan koordinasi bersama Kepala Markas PMI Manggarai dan Koordinator Lapangan PMI Provinsi NTT pada 12 Oktober 2026.
Selanjutnya, sesi dukungan kelompok diberikan kepada relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Desa Lemarang dan Desa Para Lando pada 13 Oktober 2026.
Program berlanjut kepada relawan Water, Sanitation and Hygiene (WASH) di Camp WASH PMI Desa Bajak pada 14 Oktober 2026 dan diteruskan kepada staf serta relawan PMI Kabupaten Manggarai pada 15 Oktober 2026.
Kegiatan kemudian berpindah ke Kabupaten Manggarai Timur pada 17 Oktober dan Kabupaten Manggarai Barat pada 19 Oktober.
Mengelola Tekanan di Tengah Penugasan
Dalam sesi dukungan kelompok, peserta memperoleh ruang yang aman untuk berbagi pengalaman selama bertugas di lapangan.
Berbagai pengalaman yang muncul berkaitan dengan kelelahan fisik dan emosional, keterbatasan sumber daya, koordinasi di lapangan, hingga tantangan memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak gempa.
Selain mendengarkan pengalaman para peserta, fasilitator juga memberikan psikoedukasi mengenai pengelolaan stres, pentingnya menjaga waktu istirahat, komunikasi yang mendukung, serta membangun dukungan sosial di antara sesama relawan.
Pendekatan yang digunakan bersifat sukarela, aman, dan menghargai kenyamanan peserta. Tidak ada kewajiban untuk menceritakan pengalaman yang dianggap terlalu pribadi atau membuat tidak nyaman.
Mengapa Dukungan Psikososial Penting?
Dalam operasi kemanusiaan, keberhasilan pelayanan tidak hanya ditentukan oleh logistik dan sumber daya, tetapi juga kesiapan fisik serta mental para petugas yang menjalankannya.
Dukungan psikososial menjadi instrumen penting untuk mencegah kelelahan berkepanjangan yang dapat memengaruhi kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Program seperti ini juga membantu organisasi mengidentifikasi kebutuhan relawan sejak dini, baik terkait kebutuhan istirahat, penyesuaian beban kerja, penguatan koordinasi, maupun layanan pendampingan lanjutan.
Karena itu, dukungan psikososial kini semakin dipandang sebagai bagian dari sistem perlindungan bagi para pekerja kemanusiaan.
Menjaga Keberlanjutan Misi Kemanusiaan
Selain mendampingi relawan, tim fasilitator juga berdiskusi dengan pengurus PMI Kabupaten Manggarai Barat pada 19 Oktober 2026.
Diskusi tersebut menghasilkan pemahaman bersama bahwa dukungan kepada staf dan relawan perlu dilakukan bukan hanya setelah masa penugasan selesai, tetapi juga selama tanggap darurat berlangsung.
Langkah tersebut memungkinkan organisasi merespons kebutuhan relawan secara lebih cepat sebelum tekanan berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Melalui program ini, PMI Pusat ingin memastikan bahwa mereka yang setiap hari hadir membantu masyarakat juga mendapatkan perhatian yang sama.
Sebab dalam setiap operasi kemanusiaan, relawan bukan hanya penolong bagi orang lain. Mereka juga manusia yang membutuhkan ruang untuk didengarkan, diperhatikan, dan didukung agar tetap mampu menjalankan misi kemanusiaan secara berkelanjutan.
Penulis: Edho
Editor: Redaksi
