HEADLINE
Dark Mode
Large text article

Dua Bulan Tinggal di Tenda, Warga Panti Wae Peca Mulai Bangkit



ANEWS.co, MANGGARAI – Warga Panti Asuhan Wae Peca perlahan mulai bangkit setelah melewati masa-masa sulit pascagempa Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Setelah hampir dua bulan tinggal di tenda akibat retakan pada bangunan panti, para penghuni kini berusaha membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri, dan semangat menjalani aktivitas sehari-hari.

Proses pemulihan tersebut mendapatkan dukungan melalui layanan Dukungan Psikososial (Psychosocial Support/PSS) dan Promosi Kesehatan (Promkes) yang diberikan kepada pengasuh serta anak-anak di bawah naungan Yayasan Sesamamu, Panti Asuhan Wae Peca.

Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Di balik retakan bangunan dan perubahan rutinitas, terdapat dampak psikologis yang sering kali tidak terlihat. Rasa takut, kecemasan, dan kekhawatiran akan gempa susulan menjadi pengalaman yang masih dirasakan sebagian penghuni panti hingga saat ini.

Koordinator layanan PSS, Roberta M. Mutis, menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui dua kelompok berbeda. Kelompok pertama terdiri atas para pengasuh dan orang dewasa, sedangkan kelompok kedua melibatkan anak-anak dan remaja yang didampingi relawan.

Melalui diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD), ditemukan sejumlah persoalan psikologis yang masih membekas pada warga panti.

“Dalam pelaksanaannya, PSS dibagi menjadi dua kelompok. Saya mendampingi orang dewasa atau pengasuh, sedangkan kelompok anak-anak didampingi oleh relawan. Saat FGD, ada beberapa temuan yang saya dapat, seperti pengaruh trauma dan rasa takut yang menyebabkan aktivitas yang biasa dilakukan, seperti olahraga dan kegiatan lainnya, menjadi berkurang,” jelas Roberta.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa masih memengaruhi kehidupan sehari-hari. Aktivitas yang sebelumnya berjalan normal berubah karena munculnya kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Para pengasuh yang telah berkeluarga juga menghadapi tekanan tersendiri. Selain memikirkan keselamatan penghuni panti, mereka turut memikirkan kondisi keluarga serta rumah yang mereka tinggali.

Sebagian warga mengaku masih merasa waswas ketika memasuki bangunan yang mengalami kerusakan. Pengalaman tidur di tenda selama berminggu-minggu membuat mereka membutuhkan waktu untuk benar-benar merasa aman kembali.

Meski demikian, di tengah situasi tersebut terdapat hal positif yang membantu masyarakat bertahan. Salah satunya adalah kebiasaan berdoa bersama yang terus dilakukan selama masa pemulihan.

“Menariknya, dengan adanya kebiasaan berdoa bersama, rasa takut dan trauma yang dirasakan masyarakat perlahan mulai membaik,” kata Roberta.

Selain mendampingi orang dewasa, perhatian juga diberikan kepada anak-anak dan remaja yang menjadi kelompok rentan dalam situasi bencana.

Sebanyak 23 anak dan remaja mengikuti layanan psikososial yang dirancang dengan pendekatan menyenangkan. Kegiatan meliputi permainan kelompok, bernyanyi, bergoyang, hingga psikoedukasi mengenai langkah perlindungan diri saat terjadi gempa.

Relawan pendamping, Lediana Jelihat, mengatakan metode tersebut dipilih agar anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka dengan lebih nyaman.

“Kami memberikan layanan kepada anak-anak dan remaja yang berjumlah 23 orang. Kegiatan yang dilaksanakan berupa ekspresi kreatif dalam bentuk permainan, bernyanyi, dan bergoyang, hingga psikoedukasi melalui lagu tentang cara melindungi diri saat terjadi gempa,” ujarnya.

Melalui aktivitas tersebut, anak-anak memperoleh ruang untuk kembali berinteraksi, tertawa, dan merasakan suasana yang lebih positif setelah menjalani masa-masa penuh ketidakpastian.

Selain layanan psikososial, warga panti juga mendapatkan edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Materi ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan guna mencegah penyakit.

Ketua Yayasan Sesamamu, Pater Rafael Mesi, SVD, mengungkapkan bahwa pengalaman pascagempa menjadi salah satu fase paling berat yang pernah dialami warga panti.

“Awalnya kami merasakan trauma karena bangunan retak, yang mengharuskan kami tidur di tenda selama dua bulan, sejak 18 Agustus sampai 9 Oktober. Kami merasa takut dan trauma karena masih terjadi gempa susulan,” ungkapnya.

Menurutnya, kehadiran layanan psikososial menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi seluruh penghuni panti.

“Kami mengucapkan terima kasih yang mendalam yang telah menghadirkan layanan healing therapy dan Promkes di sini. Sejak gempa terjadi, baru kali ini kami mendapatkan kegiatan seperti ini,” tuturnya.

Pemulihan pascabencana memang membutuhkan waktu. Namun melalui dukungan sosial, penguatan psikologis, dan edukasi kesehatan, warga Panti Asuhan Wae Peca kini perlahan mulai melangkah menuju kehidupan yang lebih tenang dan penuh harapan.

Penulis: Edho
Editor: Redaksi

Post a Comment