HEADLINE
Dark Mode
Large text article

Di Tengah Ribuan Pelajar, 428 Remaja Ini Memilih Belajar Menolong Sesama


ANEWS.co, MALANG – Sebanyak 428 anggota Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Madya dan Wira mengikuti Uji Kecakapan PMR Kabupaten Malang yang diselenggarakan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang di SMK Widya Dharma Turen, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya PMI Kabupaten Malang dalam mengukur, mengevaluasi, sekaligus menstandarisasi kemampuan anggota PMR di berbagai bidang kepalangmerahan.

Di saat berbagai tantangan kesehatan, sosial, dan kebencanaan semakin kompleks, kebutuhan akan generasi muda yang memiliki kepedulian, pengetahuan, dan keterampilan kemanusiaan menjadi semakin penting. Karena itu, Uji Kecakapan PMR tidak hanya dipandang sebagai kegiatan evaluasi tahunan, melainkan juga investasi jangka panjang dalam menyiapkan kader-kader muda yang mampu menjadi pelopor kemanusiaan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah di Kabupaten Malang yang telah menjalani pembinaan PMR secara berkelanjutan. Mereka mengikuti berbagai tahapan pengujian sesuai bidang yang diminati, mulai dari sanitasi kesehatan, pertolongan pertama, donor darah, pendidikan remaja sebaya, kesiapsiagaan bencana, kepemimpinan hingga kepalangmerahan.

Bagi PMI Kabupaten Malang, keberhasilan pembinaan PMR tidak hanya diukur dari kemampuan peserta menjawab pertanyaan atau menyelesaikan simulasi. Lebih dari itu, keberhasilan sesungguhnya terletak pada sejauh mana para anggota PMR mampu menerapkan ilmu yang dipelajari untuk membantu sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Uji Kecakapan Sebagai Tolok Ukur Pembinaan PMR

Kegiatan dibuka oleh Wakil Ketua PMI Kabupaten Malang, Aprillijanto, SE., MM. yang hadir mewakili Ketua PMI Kabupaten Malang.

Dalam sambutannya, Aprillijanto menegaskan bahwa seluruh peserta harus memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai momentum untuk mengukur kemampuan sekaligus meningkatkan kualitas diri.

"Uji kecakapan ini menjadi tolok ukur bagi adik-adik PMR untuk mengetahui sejauh mana pemahaman terhadap materi yang selama ini dipelajari. Ikuti setiap tahapan dengan sungguh-sungguh dan jadikan ini sebagai bagian dari proses belajar," kata Aprillijanto.

Menurutnya, kemampuan yang dimiliki anggota PMR merupakan aset penting yang tidak hanya bermanfaat di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat digunakan saat masyarakat membutuhkan bantuan.

Ia menilai PMR memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda karena organisasi tersebut mengajarkan nilai kepedulian, disiplin, kerja sama, dan semangat kesukarelaan.

Dalam kesempatan tersebut, Aprillijanto juga memberikan motivasi kepada peserta agar terus mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

"Anggota PMR adalah orang-orang pilihan yang mendapatkan hidayah untuk mengenal dunia kepalangmerahan. Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama," ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan harapan PMI agar anggota PMR tidak berhenti pada tahap memahami teori, tetapi juga menumbuhkan komitmen kemanusiaan yang dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Tujuh Bidang Menjadi Fokus Pengujian

Dalam pelaksanaan Uji Kecakapan PMR Kabupaten Malang tahun 2026, peserta mengikuti tujuh bidang kecakapan yang telah disiapkan panitia.

Bidang Sanitasi Kesehatan (Sankes) menjadi bidang dengan jumlah peserta terbesar, yakni 213 orang. Selanjutnya bidang Pertolongan Pertama (PP) diikuti oleh 95 peserta, Kepalangmerahan sebanyak 70 peserta, Ayo Siaga Bencana (ASB) sebanyak 16 peserta, Donor Darah sebanyak 14 peserta, Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) sebanyak 11 peserta, dan Kepemimpinan sebanyak sembilan peserta.

Dominasi peserta pada bidang kesehatan menunjukkan bahwa isu kesehatan masih menjadi perhatian utama di kalangan anggota PMR.

Pada bidang Sanitasi Kesehatan, peserta diuji terkait perilaku hidup bersih dan sehat, kesehatan lingkungan, sanitasi dasar, hingga pemahaman mengenai gizi. Sementara pada bidang Pertolongan Pertama, peserta harus menunjukkan kemampuan menangani korban kecelakaan, melakukan pembidaian, hingga memahami sistem triase.

Di bidang Donor Darah, peserta mendapatkan materi tentang pelayanan donor darah, persyaratan donor, serta pentingnya menjaga ketersediaan darah bagi masyarakat. Sedangkan bidang Ayo Siaga Bencana berfokus pada kesiapsiagaan menghadapi potensi risiko bencana yang bisa terjadi kapan saja.

Seluruh proses pengujian melibatkan fasilitator PMI Kabupaten Malang bersama relawan yang telah memiliki pelatihan spesialisasi sesuai bidang masing-masing.

Keterlibatan tenaga berpengalaman tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan penilaian berjalan objektif, profesional, dan sesuai dengan standar pembinaan PMR.

Mengapa Pembinaan PMR Menjadi Penting

Keberadaan PMR selama ini memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda.

Di tengah era digital yang menghadirkan berbagai tantangan sosial baru, organisasi seperti PMR menjadi ruang pembelajaran yang mendorong remaja untuk tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Melalui berbagai kegiatan, anggota PMR belajar tentang kesehatan, pertolongan pertama, donor darah, kesehatan remaja, mitigasi bencana, hingga kepemimpinan.

Kemampuan tersebut bukan sekadar pengetahuan tambahan. Dalam berbagai situasi, keterampilan dasar yang dimiliki anggota PMR dapat menjadi faktor penting yang membantu menyelamatkan nyawa, mempercepat penanganan korban, atau meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan.

Karena itulah PMI Kabupaten Malang terus memperkuat pembinaan PMR melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan.

Uji Kecakapan PMR menjadi salah satu instrumen evaluasi yang memungkinkan organisasi mengetahui perkembangan kemampuan peserta sekaligus menentukan strategi pembinaan berikutnya.

Marcelinho Belajar Menjadi Penolong Pertama

Di balik pelaksanaan kegiatan tersebut terdapat banyak cerita dari peserta yang merasakan manfaat langsung dari proses pembelajaran yang diikuti.

Salah satunya datang dari Marcelinho, anggota PMR Wira dari SMKN 2 Turen yang mengikuti bidang Pertolongan Pertama.

Baginya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru yang sangat berharga karena memungkinkan dirinya memahami lebih dalam bagaimana penanganan korban dilakukan dengan benar.

"Saya mendapatkan pengalaman baru terutama tentang pembidaian dan penanganan korban menggunakan sistem triase. Materi ini sangat menarik karena bisa digunakan dalam situasi nyata," katanya.

Marcelinho mengaku materi yang diterimanya membuat dirinya lebih memahami pentingnya ketepatan dalam memberikan pertolongan kepada korban.

Ia berharap ilmu tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman saat mengikuti kegiatan saja.

"Semoga apa yang saya pelajari hari ini bisa bermanfaat dan membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan," ujarnya.

Pelajaran Gizi dan Kesehatan yang Menginspirasi Ayu

Manfaat kegiatan juga dirasakan Ayu dari SMK Widya Dharma yang mengikuti bidang Sanitasi Kesehatan.

Meskipun menjalani berbagai tahapan pengujian yang cukup padat, Ayu merasa kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan.

"Kegiatannya seru dan menyenangkan walaupun cukup melelahkan. Saya dapat banyak pengetahuan baru," katanya.

Menurut Ayu, salah satu materi yang paling berkesan adalah pembahasan mengenai gizi.

"Saya jadi lebih memahami tentang gizi dan pentingnya menjaga kesehatan. Materi yang diberikan mudah dipahami dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Ia menilai pemahaman mengenai kesehatan perlu diberikan lebih luas kepada remaja karena berkaitan langsung dengan kualitas hidup dan masa depan mereka.

Ayu berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai ruang belajar bagi anggota PMR.

"Semoga tahun depan kegiatan seperti ini bisa diadakan lagi karena sangat bermanfaat bagi kami," katanya.

Putri Menemukan Pengetahuan dan Persahabatan Baru

Sementara itu, Putri dari SMK PGRI Sumbermanjing Wetan yang mengikuti bidang kesehatan remaja mengaku mendapatkan pengalaman yang tidak kalah berharga.

Selain memperoleh pengetahuan baru, ia juga dapat berinteraksi dengan anggota PMR dari berbagai sekolah.

"Saya senang karena bisa belajar banyak hal baru dan bertemu teman-teman dari sekolah lain," kata Putri.

Menurutnya, suasana kebersamaan selama kegiatan menjadi salah satu hal yang paling menyenangkan.

Di samping itu, banyak materi yang sebelumnya belum pernah ia pelajari.

"Banyak informasi yang sebelumnya belum saya ketahui, dan di sini saya bisa mempelajarinya. Kegiatannya sangat bermanfaat," ujarnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kegiatan PMR bukan hanya membangun kompetensi individu, tetapi juga memperkuat jejaring sosial antarpelajar.

Ketika Donor Darah Menjadi Pelajaran Tentang Kemanusiaan

Cerita lainnya datang dari Josse, anggota PMR Wira dari SMAN 1 Turen yang memilih bidang Donor Darah.

Ia mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pelayanan donor darah yang selama ini dianggap sederhana.

"Ternyata donor darah tidak sesederhana yang saya bayangkan. Ada banyak hal yang harus dipahami agar proses donor darah berjalan aman dan sesuai prosedur," katanya.

Menurut Josse, pengetahuan tersebut membuka pemahamannya mengenai pentingnya proses donor darah dalam membantu pasien yang membutuhkan transfusi.

Ia berharap kegiatan mendatang semakin inovatif sehingga peserta dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik.

"Saya berharap ke depan kegiatan seperti ini bisa dibuat lebih menantang dan semakin menarik untuk diikuti," ujarnya.

Menyiapkan Generasi Masa Depan yang Peduli

Lebih dari sekadar mengukur kemampuan peserta, Uji Kecakapan PMR Kabupaten Malang sesungguhnya merupakan proses panjang dalam membangun generasi muda yang peduli, tanggap, dan berjiwa kemanusiaan.

Melalui berbagai materi yang dipelajari, anggota PMR tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga memahami makna kepedulian sosial dan pentingnya membantu sesama tanpa membedakan latar belakang.

Di tengah berbagai perubahan sosial yang berlangsung cepat, nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, solidaritas, dan kesukarelaan menjadi semakin penting untuk dijaga.

Karena itu, pembinaan PMR memiliki arti strategis dalam menyiapkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kepedulian terhadap masyarakat.

PMI Kabupaten Malang berharap seluruh peserta mampu membawa ilmu dan pengalaman yang diperoleh ke lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Dengan demikian, semangat kemanusiaan yang tumbuh melalui kegiatan ini tidak berhenti di ruang pengujian, melainkan terus hidup dalam berbagai aksi nyata yang memberikan manfaat bagi sesama.

Penulis: M Alfin Fikri
Editor: Redaksi
Post a Comment