HEADLINE
Dark Mode
Large text article

Krisis Air Bersih di Dusun Wetok Picu Gangguan Kesehatan Warga Pascagempa

ANEWS.co, MANGGARAI - Keterbatasan air bersih Dusun Wetok menjadi persoalan utama yang dihadapi masyarakat pascagempa di Desa Langkas, Kecamatan Cibal. Kondisi tersebut terungkap dalam asesmen lapangan yang dilakukan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) bersama tim pelayanan kesehatan (Yankes) pada 17 Oktober 2026.

Asesmen dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan masyarakat sekaligus memetakan kebutuhan mendesak yang perlu ditindaklanjuti. Selain pelayanan kesehatan, tim meninjau kondisi lingkungan, sanitasi, akses air bersih, serta tempat tinggal sementara yang masih digunakan warga.

Dalam kegiatan tersebut, tim menemukan banyak warga yang harus berjuang mendapatkan kebutuhan dasar. Salah satunya Gabriel Namput (67), warga yang setiap hari berjalan menuju sumber mata air demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Gabriel harus menempuh perjalanan sekitar dua kilometer sambil membawa jerigen melewati bukit terjal dan jalan berbatu. Aktivitas tersebut dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore.

“Setiap hari di pagi dan sore hari saya harus menggendong tiga buah jerigen melewati bukit selama dua jam perjalanan untuk mendapatkan air bersih di sumber mata air. Rasa lelah dan capek itu sudah biasa bagi kami, keluarga di rumah juga membutuhkan air,” ujar Gabriel.

Temuan lapangan menunjukkan persoalan air bersih tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memengaruhi kondisi kesehatan warga. Keterbatasan air membuat masyarakat kesulitan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan.

Dokter Lilis Wijaya, SP.KKLP., MKM menjelaskan bahwa pelayanan yang diberikan dalam kegiatan tersebut meliputi pendaftaran, pemeriksaan kesehatan, hingga pemberian obat sesuai kebutuhan pasien.

Dari hasil pemeriksaan, tim menemukan hipertensi dan myalgia sebagai keluhan yang paling banyak dialami warga.

“Temuan yang paling tinggi itu adalah hipertensi dan myalgia yang dipicu oleh aktivitas masyarakat yang sering jalan kaki di bebatuan sehingga muncul kesemutan pada kaki dan pinggang,” terang Dokter Lilis.

Menurutnya, kondisi geografis yang mengharuskan warga berjalan jauh untuk memperoleh air menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan masyarakat.

Selain itu, keterbatasan air bersih juga menyebabkan masyarakat menghadapi tantangan dalam menjaga sanitasi. Risiko penyakit dapat meningkat ketika kebutuhan dasar seperti mencuci tangan, membersihkan peralatan makan, maupun menjaga kebersihan lingkungan tidak dapat dilakukan secara optimal.

Dokter Lilis berharap dukungan berbagai pihak dapat membantu menghadirkan layanan kesehatan berkelanjutan serta solusi penyediaan air bersih bagi masyarakat.

“Saya merasa kasihan dengan keadaan di sini. Harapan saya semoga ada keberlanjutan dan peningkatan layanan kesehatan serta ketersediaan air bersih dari komunitas dan lembaga-lembaga yang peduli dengan masyarakat di sini,” katanya.

Selain menemukan masalah kesehatan fisik, tim asesmen juga menemukan warga yang masih tinggal di hunian darurat sederhana. Keterbatasan ruang, minimnya sirkulasi udara, serta kondisi lingkungan yang kurang memadai berpotensi memicu masalah kesehatan baru.

Dokter Magdalena Dos Santos Belo dari IFRC menjelaskan bahwa asesmen dilakukan untuk memastikan dukungan kemanusiaan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Tujuan dari asesmen ini adalah agar kita bisa mengetahui apa yang diperlukan untuk ditindaklanjuti terutama dalam kesehatan masyarakat sehingga tindakan yang diambil bisa tepat sasaran,” jelasnya.

Dalam asesmen tersebut, kebutuhan air bersih menjadi persoalan yang paling sering disampaikan warga.

Menurut Dokter Magdalena, keterbatasan air bersih juga berkaitan dengan munculnya penyakit tertentu. Kondisi kekeringan menimbulkan debu yang dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Selain itu, masih banyak warga yang tinggal berdesakan di tenda-tenda kecil akibat keterbatasan terpal dan hunian layak. Situasi tersebut menyebabkan sirkulasi udara kurang baik dan berpotensi memicu batuk maupun sesak napas.

Salah seorang warga, Herlina Sin (39), mengaku masih tinggal di posko darurat setelah rumahnya rusak akibat gempa.

“Saat diperiksa tadi saya punya keluhan mual-mual, pusing, sakit pada bagian lutut dan demam sehingga dokter memberikan saya obat,” ungkapnya.

Kondisi tersebut juga dibenarkan Martinus K. Roli dari Puskesmas setempat. Ia menyebut banyak warga mengalami batuk dan demam pascagempa.

“Harapan saya semoga peningkatan layanan kesehatan dan ketersediaan air bersih bisa memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di Dusun Wetok,” katanya.

Asesmen yang dilakukan IFRC dan tim kesehatan memberikan gambaran bahwa air bersih dan kesehatan merupakan dua kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan. Ketika akses air bersih terbatas, risiko gangguan kesehatan akan meningkat. Sebaliknya, perbaikan akses air bersih dapat menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan masyarakat dan mendukung pemulihan warga pascabencana.

Air bersih bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan fondasi bagi kesehatan, sanitasi, dan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, hasil asesmen ini diharapkan menjadi dasar bagi berbagai pihak untuk memperkuat layanan kesehatan sekaligus mempercepat pemenuhan akses air bersih bagi warga Dusun Wetok.

Penulis: Edho 

Editor: Redaksi

Post a Comment