Pascagempa Flores M7,7, Layanan Air Bersih bagi Warga Nagekeo Masih Dibutuhkan
ANEWS.co, NAGEKEO - Pemenuhan air bersih menjadi salah satu bagian penting pelayanan kepada masyarakat Nagekeo setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Di Dusun Kaburea, Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowawe, PMI Kabupaten Nagekeo menyalurkan 15.000 liter air untuk memenuhi kebutuhan warga.
Air tersebut digunakan untuk MCK, memasak, mencuci, dan berbagai kebutuhan domestik lainnya.
Kebutuhan terhadap pelayanan air tidak berdiri sendiri. Gempa M7,7 berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay dengan kedalaman 15 kilometer, sementara rangkaian gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama. Hingga 3 September pukul 11.00 WITA, monitoring BMKG bahkan telah mencatat 11.704 aktivitas gempa susulan. [content.bmkg.go.id], [regional.kompas.com]
Dalam kondisi pascabencana seperti itu, kontinuitas layanan menjadi hal penting bagi masyarakat.
Surrianto, warga Kaburea, mengakui distribusi PMI memberikan manfaat langsung bagi keluarganya dan masyarakat sekitar.
"Air ini kami gunakan untuk MCK, memasak, dan kebutuhan sehari-hari. Kami berterima kasih kepada PMI yang terus membantu masyarakat," ujar Surrianto.
Sebelum penyaluran di Kaburea, operasi pelayanan air telah menjangkau sejumlah wilayah Nagekeo. Pada 3 September, PMI mendistribusikan 20.000 liter ke tiga desa, yakni Marapokot, Nggolonio, dan Aeramo. Di beberapa lokasi, sasaran penerima juga mencakup kelompok rentan seperti lansia, anak, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan ibu menyusui. [metroglobalnews.id], [metroglobalnews.id]
Pelayanan air bersih juga dilakukan melalui kerja sama kemanusiaan. CARE Indonesia bersama PMI Nagekeo dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nagekeo serta Indonesia Humanitarian Coordination Platform memulai distribusi 15.000 liter per hari pada 24 Agustus. Program tersebut dirancang berlangsung 60 hari dan ditargetkan mencapai 900.000 liter. [careindonesia.or.id], [reliefweb.int]
Ketua PMI Nagekeo Kristianus Pantaleon Jogo mengatakan organisasinya akan menyesuaikan pelayanan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.
"Selama masih dibutuhkan, kami akan berupaya memberikan pelayanan sesuai kondisi di lapangan," katanya.
Pernyataan itu menggambarkan pentingnya pemantauan kebutuhan setelah bantuan awal diberikan. Dalam layanan pascabencana, lokasi dan kebutuhan penerima dapat berubah seiring pemulihan.
Distribusi 15.000 liter di Kaburea karena itu bukan akhir dari pelayanan. PMI Nagekeo masih memantau kebutuhan warga untuk menentukan dukungan berikutnya.
Dari perspektif pelayanan publik, kesinambungan air bersih penting karena kebutuhan terhadap air berlangsung setiap hari. Tantangan pemulihan setelah bencana bukan hanya membangun kembali fasilitas yang terdampak, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memperoleh kebutuhan dasarnya selama proses tersebut berlangsung.
Post a Comment