Terima Kasih PMI, Rasa Cemas Keadaan Saudara Saya Akhirnya Hilang


ANEWS.coENDE — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Ende bergerak cepat mengatasi kendala komunikasi yang dialami para pengungsi terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 Laut Flores. Melalui Subdivisi Restoring Family Links (RFL) atau Pemulihan Hubungan Keluarga, PMI mengaktifkan posko layanan telepon darurat gratis di wilayah pedalaman Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Langkah taktis ini diambil menyusul terjadinya kerusakan infrastruktur komunikasi di berbagai titik lapangan pascabencana. Putusnya jaringan seluler dalam beberapa hari terakhir sempat membuat ratusan warga di posko pengungsian terisolasi secara informasi, serta memicu kepanikan massal akibat kehilangan kontak dengan sanak saudara mereka di luar wilayah.
Berdasarkan data terkini di lapangan, operasional RFL PMI yang berlangsung sejak tanggal 5 hingga 7 September 2026 ini menyasar posko-posko pengungsian terpencil. Tiga titik utama yang menjadi fokus pelayanan meliputi Posko Pengungsi Dusun Nioniba, Posko Pengungsi Dusun Gola 1, dan Posko Pengungsi Dusun Gola 2 yang berada di bawah administrasi Desa Kebirangga, Kecamatan Maukaro. Kehadiran tim relawan ini menjadi secercah harapan bagi warga yang didera ketidakpastian.
Kepala Markas PMI Kabupaten Ende, Allan Senda, menegaskan bahwa kehadiran tim RFL merupakan kebutuhan yang sangat mendesak demi menjaga stabilitas psikologis warga terdampak di tengah situasi darurat bencana. Guncangan gempa yang kuat tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga meruntuhkan akses komunikasi yang krusial bagi kehidupan sosial warga.
"Kerusakan infrastruktur komunikasi akibat gempa magnitudo 7,7 di Laut Flores ini menjadi tantangan besar bagi kami semua di lapangan. Banyak penyintas yang mengalami kecemasan akut bukan hanya karena trauma guncangan gempa susulan, melainkan karena mereka sama sekali tidak tahu bagaimana nasib keluarga mereka di daerah lain," kata Allan Senda saat dikonfirmasi dari posko utama, Senin (7/9/2026).
Allan menambahkan, respons cepat penugasan para relawan RFL ini bertujuan memutus rantai kepanikan psikologis tersebut secepat mungkin. Kecepatan bertindak dalam menyebarkan tim ke area terdampak menjadi prioritas utama organisasi kemanusiaan ini.
"Kami menerjunkan tim khusus ke Desa Kebirangga karena kawasan ini sempat mengalami blank spot parah pascabencana. Dengan fasilitas telepon darurat gratis ini, kami berharap jalinan komunikasi antar-keluarga dapat segera pulih, sehingga warga bisa merasa lebih tenang di pengungsian dan fokus pada pemulihan fisik mereka," tutur Allan Senda menjelaskan.
Dalam operasi kemanusiaan tiga hari tersebut, PMI Ende menerjunkan tiga personel relawan RFL yang berkompetensi tinggi dan berpengalaman, yakni Ian Dato, Astin Aga, dan Dewa Wero. 
Menggunakan perangkat komunikasi berbasis satelit dan jaringan darurat portabel, ketiga relawan ini menyisir tenda-tenda pengungsian guna memberikan kesempatan bagi warga untuk melakukan panggilan keluar tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Hingga masa operasional berakhir pada Senin siang, tercatat sebanyak 27 jiwa penerima manfaat di Desa Kebirangga berhasil terhubung kembali dengan keluarga mereka di luar daerah. Secara terperinci, layanan ini dimanfaatkan oleh 12 warga dari Dusun Gola 1, 5 warga dari Dusun Gola 2, serta 10 warga dari Dusun Nioniba. Angka ini mencerminkan betapa besarnya ketergantungan warga terhadap akses komunikasi darurat di masa kritis.
Salah satu penerima manfaat, Hildegardis A. Aba (32), warga Dusun Gola 1, Desa Kebirangga, mengaku sangat terpukul pascagejala gempa karena tidak bisa menghubungi saudara kandungnya yang menetap di Kota Ende. Putusnya kontak membuat malam-malam di tenda pengungsian terasa sangat panjang dan mencekam.
"Sejak kejadian gempa, saya sama sekali tidak bisa menghubungi saudara saya di Ende. Jaringan telepon mati total di sini, sehingga saya merasa sangat cemas dan ketakutan memikirkan keadaan mereka di sana," ungkap Hildegardis dengan mata berkaca-kaca mengingat masa-masa sulit itu.
Rasa frustrasi yang dialaminya selama berhari-hari seketika sirna begitu tim relawan PMI mendatangi posko tempatnya bernaung dan menyodorkan fasilitas telepon gratis. Melalui sambungan telepon darurat tersebut, Hildegardis akhirnya dapat mendengar suara kerabatnya dan memastikan mereka dalam kondisi selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.
"Ketika PMI memberikan layanan telepon gratis ini, saya merasa sangat bahagia dan senang karena akhirnya bisa bertanya kabar langsung dengan saudara saya. Kami semua menangis lega di telepon. Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PMI atas layanan yang diberikan ini. Rasa cemas dan khawatir atas keberadaan saudara saya akhirnya hilang setelah bisa mengetahuinya secara langsung," ujar Hildegardis penuh syukur.
Selain fokus pada pemulihan hubungan keluarga melalui RFL, PMI Kabupaten Ende didukung oleh Markas Pusat PMI juga terus menyalurkan bantuan kemanusiaan terintegrasi ke posko-posko pengungsian di Pulau Flores. 
Pendistribusian bantuan berupa logistik makanan, tenda darurat untuk belajar, obat-obatan, air bersih, serta layanan dukungan psikososial (PSP) terus diperluas guna menjamin kelayakan hidup para korban selama masa tanggap darurat berlangsung. Upaya multi-sektor ini diharapkan mampu memulihkan kondisi fisik dan mental masyarakat Flores secara perlahan namun pasti.
Penulis: Amin 
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Terima Kasih PMI, Rasa Cemas Keadaan Saudara Saya Akhirnya Hilang
  • Terima Kasih PMI, Rasa Cemas Keadaan Saudara Saya Akhirnya Hilang
  • Terima Kasih PMI, Rasa Cemas Keadaan Saudara Saya Akhirnya Hilang
  • Terima Kasih PMI, Rasa Cemas Keadaan Saudara Saya Akhirnya Hilang
  • Terima Kasih PMI, Rasa Cemas Keadaan Saudara Saya Akhirnya Hilang
  • Terima Kasih PMI, Rasa Cemas Keadaan Saudara Saya Akhirnya Hilang

Post a Comment