Menembus Ombak Demi Sebuah Harapan: Menyapa Warga Terisolasi Dusun Lewar Pasca-Gempa
ANews.co, MANGGARAI - Di atas lautan Reok Barat yang bergolak, tiga perahu kecil membelah ombak tinggi pada Selasa (22/9/2026) pagi. Di dalamnya, 20 personel relawan kemanusiaan menggenggam erat tepian perahu, saling menguatkan di tengah deru angin dan kecemasan. Mereka tidak sedang melakukan perjalanan biasa. Ada misi suci yang dibawa: menyapa warga Dusun Lewar, Desa Lemarang, Kabupaten Manggarai, yang terisolasi dan trauma usai diguncang gempa bumi sejak pertengahan Agustus lalu.
Bagi warga Dusun Lewar, jarak menuju peradaban terasa sangat jauh. Tak ada jalan mulus untuk kendaraan. Setelah berjam-jam dihantam gelombang laut, para tim relawan harus memikul puluhan kilogram paket bantuan dan berjalan kaki menyusuri pantai berbatu licin sejauh 7 kilometer. Selama dua jam menembus terik dan pijakan terjal, keringat membasahi tubuh mereka. Namun, lelah seketika luruh saat jejak kaki rombongan disambut tawa dan tatapan rindu dari warga yang menanti di pesisir pantai.
Gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) Lewar yang retak akibat gempa mendadak menjadi oasis kehangatan. Di sana, 283 jiwa dari 76 Kepala Keluarga berkumpul. Kepala Desa Lemarang, Kornelis Erdian Osong, tak mampu menyembunyikan rasa harunya atas kedatangan tim relawan.
"Perjalanan ke tempat kami ini sangat berat, gelombang tinggi dan harus jalan kaki di bebatuan pantai. Tapi dengan saling menguatkan, teman-teman relawan akhirnya sampai. Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat kami," ujar Kornelis.
Tim tidak hanya membawa paket kebutuhan dasar, kelambu, atau obat-obatan. Mereka membawa kehadiran—sebuah penanda bahwa warga Dusun Lewar tidak dilupakan oleh dunia luar. Momen paling mengharukan tercipta ketika sambungan telepon satelit dibuka. Sabina Ojang (36), seorang ibu rumah tangga, tak sanggup menahan air matanya saat mendengar suara sang anak yang bekerja di kota Reo.
"Kami di sini tidak ada jaringan telepon sama sekali. Hari ini saya sangat bersyukur akhirnya bisa mendengar suara anak saya lagi di Reo," ungkap Sabina lirih sambil mengusap air mata.
Perwakilan tim peninjau dari Provinsi NTT, Adrianus Jeharum, menegaskan bahwa kemanusiaan tak mengenal batas geografis.
"Bagi kami, jarak bukanlah suatu halangan. Selama Dusun Lewar bisa diakses, kami akan terus hadir melayani saudara-saudara kami karena semangat Siamo Tutti Frateli—kita semua bersaudara—selalu melekat di jiwa relawan," tegas Adrianus menutup pembicaraan.
Post a Comment