Dari Kaburea Pascagempa, Solidaritas Menjadi Modal Sosial dalam Masa Pemulihan
ANEWS.co, NAGEKEO - Pemulihan pascabencana bukan hanya persoalan bangunan, logistik dan infrastruktur. Di dalamnya terdapat kehidupan masyarakat yang berusaha mempertahankan keseharian setelah menghadapi guncangan besar.
Situasi tersebut terlihat di Dusun Kaburea, Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowawe, Kabupaten Nagekeo. PMI Kabupaten Nagekeo menyalurkan 15.000 liter air bersih kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan MCK, memasak, mencuci, dan keperluan sehari-hari lainnya.
Gempa yang melatarbelakangi kondisi itu terjadi pada 15 Agustus 2026. BMKG mencatat gempa M7,7 tersebut merupakan gempa dangkal, berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay pada kedalaman 15 kilometer, dan berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust. [content.bmkg.go.id], [content.bmkg.go.id]
Surrianto, salah seorang warga Kaburea, menggambarkan arti bantuan tersebut dari perspektif sederhana kehidupan sehari-hari.
"Bantuan air bersih dari PMI sangat membantu masyarakat. Air ini kami gunakan untuk MCK, memasak, dan kebutuhan sehari-hari. Kami berterima kasih kepada PMI yang terus membantu masyarakat," katanya.
Ungkapan tersebut menunjukkan aspek sosial dalam penanggulangan bencana. Bantuan bukan berhenti pada serah-terima barang, melainkan menjadi hubungan antara orang yang membutuhkan dan mereka yang bergerak memberikan pelayanan.
Operasi kemanusiaan serupa berlangsung di berbagai bagian Nagekeo. Hingga 3 September, PMI dilaporkan telah mendistribusikan sedikitnya 120.000 liter air bersih. Distribusi dilakukan ke permukiman dan lokasi pengungsian dengan perhatian terhadap kelompok rentan. [metroglobalnews.id], [metroglobalnews.id]
Kolaborasi juga berlangsung lintas lembaga. CARE Indonesia, PMI Nagekeo, pemerintah kabupaten dan jaringan kemanusiaan terlibat dalam respons air bersih yang dirancang berlangsung selama 60 hari. [careindonesia.or.id], [careintern...nal.org.uk]
Dari sudut budaya, pengalaman tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk melihat modal sosial masyarakat ketika bencana terjadi.
Namun, penting memberikan batas yang jelas. Belum terdapat informasi dalam bahan yang tersedia mengenai ritual adat, mekanisme gotong royong tradisional, peran lembaga adat, ataupun praktik budaya spesifik masyarakat Kaburea dalam menghadapi gempa. Karena itu, hal tersebut tidak sepatutnya direka menjadi fakta.
Liputan budaya lanjutan justru dapat diarahkan untuk merekam pengalaman itu langsung dari masyarakat.
Bagaimana keluarga berbagi air ketika pasokan terbatas? Apakah tokoh adat ikut mengatur komunitas selama masa pemulihan? Bagaimana pengetahuan lokal membantu warga menghadapi bencana? Apakah terdapat nilai atau tradisi masyarakat setempat yang menjadi sumber daya sosial?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan memperlihatkan sisi Nagekeo yang lebih luas dari sekadar statistik bencana.
Sementara itu, distribusi air di Kaburea menunjukkan satu hal yang sudah nyata: kehidupan masyarakat perlu terus berjalan. Setelah guncangan berhenti, proses pemulihan dibangun melalui pelayanan, kerja bersama, dan perhatian terhadap kebutuhan orang lain.
Post a Comment