Dari Jember untuk Kemanusiaan Dunia, Saat PMR Tak Lagi Sekadar Ekstrakurikuler



ANEWS.co, JEMBER - Kehadiran relawan Palang Merah Jepang di ABHINAYA 2026 membuka gagasan bahwa pembinaan PMR dapat menjadi pintu bagi pelajar untuk memahami kemanusiaan tanpa batas negara

Apa yang sesungguhnya dicari seorang pelajar ketika mengenakan seragam Palang Merah Remaja (PMR)? Juara dalam perlombaan, pengalaman berorganisasi, keterampilan pertolongan pertama, atau justru kesempatan belajar menjadi manusia yang peduli terhadap manusia lainnya?

Pertanyaan itu menjadi relevan ketika 315 anggota PMR Madya dari berbagai SMP dan MTs se-Kabupaten Jember bertemu dalam Ajang Humanitas dan Inovasi Palang Merah Remaja Madya atau ABHINAYA 2026 di SMKN 1 Jember, Sabtu (12/9/2026).

Di satu sisi, mereka datang membawa nama dan kebanggaan sekolah masing-masing. Ada kompetisi dan gelar juara yang diperebutkan. Namun di sisi lainnya, ratusan remaja itu dipertemukan oleh identitas yang sama, yakni generasi muda yang sedang belajar memahami keterampilan kepalangmerahan dan nilai kemanusiaan.

Dimensi itu semakin terasa ketika ABHINAYA 2026 mendapat kunjungan dua relawan Japanese Red Cross Society (JRCS) atau Palang Merah Jepang, Sena Hasegawa dan Kaori.

Mereka hadir menyaksikan langsung aktivitas para anggota PMR Madya. Bersama jajaran PMI Kabupaten Jember dan pihak SMKN 1 Jember, keduanya meninjau sejumlah perlombaan seperti Simulasi Pertolongan Pertama, Olimpiade Palang Merah, Cipta Tandu, hingga pos travelling.

Pertemuan sederhana tersebut membawa sebuah gagasan besar: pendidikan kemanusiaan yang dimulai dari lingkungan sekolah memiliki bahasa yang dapat dipahami lintas negara.

PMR sebagai Pendidikan Karakter

Selama ini PMR kerap ditempatkan sebagai salah satu pilihan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Padahal, jika pembinaannya dilakukan secara berkelanjutan, kegiatan kepalangmerahan memiliki ruang besar untuk menjadi bagian dari pendidikan karakter generasi muda.

Seorang anggota PMR tidak cukup hanya mengetahui bagaimana memberikan pertolongan pertama. Mereka juga belajar disiplin, mengambil keputusan, bekerja dalam tim, menghargai orang lain, dan yang terpenting, menumbuhkan kepedulian.

Nilai semacam itu sulit dibangun hanya dengan teori di dalam ruang kelas.

ABHINAYA 2026 menunjukkan salah satu model bagaimana keterampilan tersebut diuji melalui pengalaman langsung. Peserta dituntut memadukan pengetahuan, ketangkasan, ketenangan, komunikasi, dan kekompakan menghadapi berbagai tantangan lomba.

Di tengah aktivitas tersebut, Sena Hasegawa melihat sesuatu yang menarik dari para pelajar di Jember.

“Semangat dan profesionalisme yang ditunjukkan para pelajar Indonesia dalam menguasai teknik kepalangmerahan patut diacungi jempol dan memberikan warna tersendiri dalam pertukaran pengalaman kemanusiaan ini,” kata Sena dalam bahasa Inggris.

Pernyataan itu selayaknya tidak berhenti menjadi pujian dari tamu internasional. Justru di sanalah muncul tantangan untuk menjaga semangat para anggota PMR agar terus tumbuh setelah perlombaan berakhir.

Ketika Kemanusiaan Menembus Batas Negara

Kehadiran Sena dan Kaori juga memberikan pesan lain bagi ratusan peserta: dunia kemanusiaan tidak mengenal batas geografis.

Pelajar dari Jember dan relawan dari Jepang memang tumbuh dalam lingkungan, bahasa, dan kebudayaan berbeda. Namun ketika berbicara tentang menolong orang lain, kepedulian menjadi titik temu.

Sekretaris PMI Kabupaten Jember, Ghufron Eviyan Efendi, melihat kunjungan tersebut sebagai momentum memperkuat jejaring persahabatan sekaligus memberikan motivasi kepada anggota PMR.

“Tidak hanya mempererat jejaring persahabatan internasional, tetapi juga memotivasi para peserta PMR Madya untuk tampil maksimal dan mendunia,” ujarnya.

Gagasan untuk “mendunia” tersebut seharusnya tidak semata dimaknai sebagai membawa prestasi hingga tingkat internasional.

Lebih jauh, mendunia dapat dimaknai sebagai tumbuhnya kesadaran sejak muda bahwa persoalan kemanusiaan bisa terjadi di mana saja. Kepedulian kepada orang lain tidak semestinya dibatasi identitas sekolah, daerah, bahasa, maupun kebangsaan.

Sekolah Punya Peran Penting

Karena itu, sekolah memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai kemanusiaan sejak dini.

Waka Kurikulum SMKN 1 Jember, Dwi Wahyuni, S.Sos., M.M., memandang ABHINAYA sebagai ruang pembelajaran sekaligus pembentukan mental generasi muda.

“Keterlibatan tokoh-tokoh penting serta kehadiran relawan asing membuktikan bahwa ABHINAYA 2026 SMKN 1 Jember sukses menjadi ruang belajar dan menempa mental tangguh bagi generasi muda kemanusiaan,” ujar Dwi.

Jika pendekatan tersebut terus dikembangkan, kegiatan PMR tidak lagi dipandang sebatas pelengkap aktivitas siswa di luar jam pembelajaran.

PMR dapat menjadi laboratorium pendidikan karakter. Di dalamnya, pelajar memperoleh kesempatan mempraktikkan secara langsung nilai kedisiplinan, solidaritas, kerja sama, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kepedulian.

Piala Bisa Disimpan, Nilai Kemanusiaan Harus Dibawa Pulang

Setiap perlombaan tentu menghasilkan pemenang. Ada peserta yang pulang membawa gelar juara dan ada pula yang harus menerima hasil penilaian dengan lapang dada.

Namun ABHINAYA memiliki peluang meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada usia sebuah piala.

Ketika 315 anggota PMR Madya pulang ke sekolah masing-masing, tantangan mereka bukan lagi tentang siapa yang mendapatkan nilai tertinggi dalam Simulasi Pertolongan Pertama, siapa paling unggul dalam Olimpiade Palang Merah, atau siapa membuat tandu terbaik.

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana keterampilan dan nilai yang mereka peroleh diwujudkan ketika berhadapan dengan kehidupan nyata.

Apakah mereka lebih peka melihat orang lain membutuhkan pertolongan? Apakah mereka mampu bekerja bersama ketika menghadapi persoalan? Apakah keberanian, disiplin, dan rasa kemanusiaan itu tetap ada ketika tidak sedang memakai seragam PMR?

Di situlah keberhasilan pembinaan relawan muda semestinya diukur.

Pertemuan pelajar Jember dengan Sena Hasegawa dan Kaori dari Jepang pada ABHINAYA 2026 akhirnya menyampaikan pesan sederhana tetapi mendasar: kemanusiaan tidak membutuhkan paspor untuk mempertemukan manusia.

Jika nilai tersebut berhasil ditanamkan kepada generasi muda, ABHINAYA bukan lagi semata panggung untuk mencari siapa yang terbaik.

Ia menjadi ruang untuk menanam sebuah gagasan bahwa dari sekolah, dari organisasi PMR, bahkan dari sebuah kompetisi di Jember, dapat tumbuh generasi yang suatu hari siap bergerak menolong sesama, di mana pun kemanusiaan memanggil. 

Penulis: Amin 
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Dari Jember untuk Kemanusiaan Dunia, Saat PMR Tak Lagi Sekadar Ekstrakurikuler
  • Dari Jember untuk Kemanusiaan Dunia, Saat PMR Tak Lagi Sekadar Ekstrakurikuler
  • Dari Jember untuk Kemanusiaan Dunia, Saat PMR Tak Lagi Sekadar Ekstrakurikuler
  • Dari Jember untuk Kemanusiaan Dunia, Saat PMR Tak Lagi Sekadar Ekstrakurikuler
  • Dari Jember untuk Kemanusiaan Dunia, Saat PMR Tak Lagi Sekadar Ekstrakurikuler
  • Dari Jember untuk Kemanusiaan Dunia, Saat PMR Tak Lagi Sekadar Ekstrakurikuler

Post a Comment