Kisah Sifa: Dari Benci Mengajar Jadi Juara
Namun,
siapa sangka, jalan yang semula ingin ia hindari justru membawanya pada
sebuah pengalaman yang mengubah banyak hal dalam dirinya.
“Dulu
saya tidak suka mengajar. Saya juga tidak terlalu suka dengan guru dan
merasa tidak sabar kalau harus menghadapi anak-anak kecil,” kenang Sifa.
Kini,
cerita itu terasa seperti bagian dari masa lalu. Sifa justru menjadi
sosok yang dengan sabar mendampingi anggota PMR Mula. Ia mengajarkan
keterampilan, menemani latihan, memahami karakter setiap anak, sekaligus
belajar untuk menjadi pembina yang tidak hanya mengajar, tetapi juga
memberi teladan.
Perlahan, rasa tidak suka itu berubah menjadi
kepedulian. Ketidaksabaran berubah menjadi kesabaran. Dan aktivitas yang
dahulu terasa berat, kini justru menjadi bagian yang ia nikmati.
“Semakin
lama saya bersama anak-anak, saya semakin belajar memahami mereka.
Ternyata bukan hanya saya yang mengajarkan mereka, tetapi mereka juga
banyak mengajarkan saya tentang kesabaran dan keikhlasan,” ujarnya.
Perjalanan
itu kemudian membawa Sifa dan anak-anak binaannya pada sebuah
pencapaian. PMR Mula MI NU Lumpur berhasil meraih juara dalam Jumbara di
Gresik.
Bagi Sifa, keberhasilan tersebut bukan sekadar tentang
piala. Ada proses panjang yang menjadi bagian paling berharga—latihan,
kebersamaan, rasa lelah, kegembiraan, hingga melihat anak-anak tumbuh
menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan peduli terhadap sesama.
“Rasanya
terharu dan bangga. Saya melihat sendiri bagaimana mereka berproses.
Ketika akhirnya mereka bisa meraih juara, saya merasa semua perjuangan
bersama mereka tidak sia-sia,” ungkapnya.
Dari perjalanan itu pula Sifa menemukan sebuah pelajaran sederhana tentang kehidupan.
“Kadang
apa yang tidak kita suka justru Allah dekatkan kepada kita. Mungkin
karena Allah tahu, di balik sesuatu yang kita tidak suka itu ada
kebaikan, pelajaran, dan kebahagiaan yang belum kita lihat,” tutur Sifa.
Kini,
setiap kali berdiri di hadapan anggota PMR Mula, Sifa tidak lagi
melihat mereka hanya sebagai anak-anak yang harus diajari. Ia melihat
mereka sebagai teman belajar dalam perjalanan kemanusiaan.
Menjadi
pembina PMR membuatnya memahami bahwa mendidik bukan hanya tentang
memberikan ilmu. Ada kesabaran yang harus dilatih, ada ketulusan yang
harus dijaga, dan ada proses panjang untuk membantu anak-anak menemukan
keberanian serta kepedulian terhadap sesama.
Jalan yang dahulu tidak pernah ia pilih, ternyata menjadi jalan yang mempertemukannya dengan banyak pelajaran.
Dari
tidak suka mengajar, Sifa menemukan arti kesabaran. Dari tidak sabar
menghadapi anak kecil, ia menemukan kebahagiaan bersama mereka. Dan dari
mendampingi PMR Mula, ia menemukan bahwa jalan pengabdian terkadang
datang dari arah yang tidak pernah kita bayangkan.
Karena bisa
jadi, sesuatu yang hari ini tidak kita sukai, justru merupakan jalan
yang sedang Allah dekatkan untuk membawa kita menuju kebaikan.
Penulis: Teddy
Editor: Redaksi
Post a Comment