Ironi di Balik Bukit Kapur Pasuruan: Berjuang Melawan Krisis Air, Warga Sibon Bertahan Hidup Lewat Selang Kemanusiaan



ANEWS.co, PASURUAN — Ketika musim kemarau mencengkeram kawasan perbukitan karst di bagian selatan Kabupaten Pasuruan, bentang alam berubah menjadi monokrom. Ladang-ladang jagung yang biasanya hijau kini kering meranggas, menyisakan batang-batang cokelat patah yang berderit pilu ditiup angin kencang berdebu. Di atas tanah yang merekah lebar bagai garis-garis luka geologis, air bukan lagi sekadar elemen hidrologi. Bagi warga Dusun Karangpocok, Desa Sibon, Kecamatan Pasrepan, setiap liter air bersih yang berhasil didapatkan adalah simbol martabat, ketabahan, dan napas kehidupan yang menolak tunduk pada kerasnya alam.
Desa Sibon secara topografis berada di zona kering yang didominasi batuan sedimentasi kapur. Struktur tanah seperti ini memiliki kemampuan yang sangat rendah dalam mengikat atau menyimpan cadangan air tanah dalam (aquifer). Akibatnya, begitu intensitas hujan menyentuh titik nol selama berbulan-bulan, sumur-sumur gali milik warga sedalam belasan hingga puluhan meter langsung berubah menjadi lubang udara kering yang gersang. Krisis air bersih ini memicu efek domino yang tidak hanya mengeringkan tenggorokan, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi domestik warga.
Siasat Ketat di Dapur Maulita: Menakar Air Menggunakan Logika Matematika
Di sebuah rumah panggung sederhana berdinding anyaman bambu yang mulai rapuh, seorang ibu rumah tangga berusia muda bernama Maulita harus memikul beban psikologis yang berat setiap pagi. Rumah tersebut dihuni oleh enam anggota keluarga, termasuk anak-anak kecil yang membutuhkan perlindungan sanitasi prima. Bagi Maulita, setiap jeriken air bersih di dalam rumahnya harus dikelola dengan tingkat disiplin yang menyerupai rumus matematika ketat.
"Alokasi air di rumah benar-benar dihemat. Kita harus tahu persis berapa gayung yang keluar untuk menanak nasi, mencuci sayur, dan menyeka badan anak-anak. Tidak boleh ada satu tetes pun air yang terbuang sia-sia ke tanah," ujar Maulita sembari merapikan barisan jeriken plastiknya yang kosong.
Untuk keperluan sanitasi sekunder seperti mencuci pakaian kerja atau mandi harian, sungai yang melintasi lembah dusun menjadi satu-satunya tumpuan yang tersisa. Namun, kondisi sungai tersebut saat ini sudah berada di tahap yang sangat memprihatinkan. Aliran airnya terputus-putus, menyisakan kubangan-kubangan kecil berair keruh, berlumut, dan mengeluarkan aroma tidak sedap akibat pembusukan material organik tanah.
"Kalau mandi ya masih di sungai. Airnya sedikit dan baunya tidak enak," tutur Maulita dengan tatapan mata yang kosong menatap ke arah lembah.
Warga terpaksa menyiasati kondisi air sungai yang tercemar itu dengan menggunakan kain jarik bekas sebagai filter darurat saat mengambil air. Dampak klinis berupa penyakit gatal-gatal pada kulit dan iritasi mata menjadi menu harian yang harus diterima warga dengan lapang dada demi mengamankan sisa air bersih yang ada di rumah mereka.
Namun, untuk urusan konsumsi utama seperti minum dan memasak, Maulita sama sekali tidak berani berkompromi dengan air sungai. Setiap beberapa hari sekali, ia harus menempuh perjalanan melelahkan menuju desa tetangga yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya demi mendapatkan air layak minum. Membelah jalanan perbukitan berliku yang terjal dan berdebu di bawah sengatan terik matahari kemarau merupakan rutinitas harian yang sangat menguras energi fisik dan waktu produktifnya.
Di tengah kelelahan yang mendera, harapan warga sering kali digantungkan pada bantuan sosial. Namun, distribusi bantuan di masa lalu kerap tidak menentu akibat keterbatasan unit armada pengangkut air. "Biasanya kami menunggu truk tangki air datang, tapi sering kali tidak ada yang datang," ungkapnya, menggambarkan perasaan cemas yang terus membayangi hari-hari mereka.
Ketenangan Masa Tua yang Terenggut: Jeritan Hati Pak Andar
Kisah perjuangan melawan gersangnya alam tidak hanya dialami oleh kelompok usia produktif. Beberapa puluh meter dari rumah Maulita, Pak Andar, seorang lansia yang rambutnya telah memutih seluruhnya, juga harus merasakan getirnya dampak kemarau panjang. Di masa senjanya, Pak Andar tinggal bersama lima orang anggota keluarga lainnya di bawah satu atap rumah yang sederhana.
Sebelum bantuan air bersih dari lembaga kemanusiaan masuk secara intensif, keterbatasan fisik memaksa Pak Andar untuk tetap berpikir keras bagaimana mencukupi kebutuhan air keluarganya. Anak dan cucunya sering kali harus pulang terlambat dari ladang atau sekolah karena harus mengantre berjam-jam di titik-titik mata air terpencil yang debitnya terus mengecil. Untuk kebutuhan mandi, keluarga lansia ini pun terpaksa pasrah menggunakan air sungai yang sudah tidak layak pakai.
Ketika sirine khas dari mobil tangki air bersih milik Palang Merah Indonesia (PMI) akhirnya berbunyi melintasi jalanan Dusun Karangpocok, suasana seketika berubah riuh rendah. Bagi Pak Andar, kedatangan truk tangki berwarna putih-merah tersebut bagaikan oase yang nyata di tengah padang pasir.
"Kami sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih dari PMI. Sekarang tidak perlu mencari air terlalu jauh untuk kebutuhan sehari-hari," kata Pak Andar dengan suara bergetar menahan haru, sesaat setelah petugas KSR PMI mengalirkan air jernih ke dalam bak penampungan kayu miliknya.
Bagi Pak Andar, seember air bersih yang mengalir dari selang tangki PMI memiliki makna spiritual dan psikologis yang sangat mendalam. Bantuan ini tidak hanya menghilangkan dahaga fisik keluarganya, tetapi juga memberikan jaminan keselamatan kesehatan serta mengembalikan ketenangan batin yang sempat hilang akibat ancaman krisis air yang berkepanjangan.
Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Ironi di Balik Bukit Kapur Pasuruan: Berjuang Melawan Krisis Air, Warga Sibon Bertahan Hidup Lewat Selang Kemanusiaan
  • Ironi di Balik Bukit Kapur Pasuruan: Berjuang Melawan Krisis Air, Warga Sibon Bertahan Hidup Lewat Selang Kemanusiaan
  • Ironi di Balik Bukit Kapur Pasuruan: Berjuang Melawan Krisis Air, Warga Sibon Bertahan Hidup Lewat Selang Kemanusiaan
  • Ironi di Balik Bukit Kapur Pasuruan: Berjuang Melawan Krisis Air, Warga Sibon Bertahan Hidup Lewat Selang Kemanusiaan
  • Ironi di Balik Bukit Kapur Pasuruan: Berjuang Melawan Krisis Air, Warga Sibon Bertahan Hidup Lewat Selang Kemanusiaan
  • Ironi di Balik Bukit Kapur Pasuruan: Berjuang Melawan Krisis Air, Warga Sibon Bertahan Hidup Lewat Selang Kemanusiaan

Post a Comment