Booming Tas Jali-Jali Ponorogo: Sukses Dobrak Pasar Vietnam di Tengah Liburan Sekolah


ANEWS.co, PONOROGO – Kunci keberhasilan menjaga kualitas produk anyaman ekspor ternyata tidak hanya bertumpu pada mesin modern, melainkan pada suasana hati para pekerjanya. Hal inilah yang dipraktikkan oleh manajemen Kinki Collection, sebuah industri rumahan tas jali-jali asal Desa Campursari, Kecamatan Sambit, Ponorogo. Untuk menjaga ritme kerja dan presisi produk tangan (hand-made), mereka memboyong ratusan pekerjanya berlibur ke Kabupaten Tulungagung pada Sabtu (11/7/2026) pagi.
Sebanyak lebih dari 100 orang yang terdiri dari jajaran manajemen, perajin lokal, hingga anggota keluarga berkumpul di Lapangan Desa Campursari sejak subuh. Agenda rekreasi bersama ini sengaja memanfaatkan momentum akhir libur sekolah untuk menyegarkan kembali fisik dan mental para pekerja wanita pasca-menyelesaikan target produksi yang padat.

Investasi Mental untuk Hasil Rajutan Presisi

Bagi industri kreatif padat karya, kesehatan mental pekerja adalah aset utama. Menatap anyaman plastik berjam-jam setiap hari membutuhkan tingkat konsentrasi dan kesabaran yang sangat tinggi. Sedikit saja suasana hati terganggu, kerapian hasil rajutan tas jali-jali bisa menurun.
Sulamti, pemilik tunggal Balai Latihan Kerja (BLK) Karya Sejahtera sekaligus founder brand Kinki Collection, menegaskan bahwa liburan massal ini adalah agenda wajib tahunan.
"Kami konsisten menggelar rekreasi ini hampir setiap tahun. Tujuannya sederhana tetapi krusial, yaitu memutus kejenuhan ibu-ibu perajin. Setiap hari mereka sudah bekerja keras menganyam di rumah. Jadi, otot dan pikiran mereka butuh relaksasi agar saat kembali bekerja nanti, produktivitasnya tetap terjaga," ungkap Sulamti saat memantau pelepasan armada bus rombongan.

Tiga Pilar Pemberdayaan Ekonomi Perempuan di Sambit

Meskipun rombongan yang berangkat mencapai ratusan orang, mesin utama dari operasional Kinki Collection digerakkan oleh 40 perajin perempuan tangguh yang seluruhnya merupakan warga asli Dusun Bedali, Desa Campursari.
Keberhasilan merek lokal Ponorogo ini bertahan dan berkembang tidak lepas dari penerapan sistem manajemen inklusif yang ramah keluarga. Ada tiga pilar utama yang diterapkan oleh Sulamti dalam mengelola bisnisnya:
  1. Fleksibilitas Ruang Kerja: Para perajin wanita diberikan kebebasan penuh untuk menyelesaikan anyaman tas di rumah masing-masing. Pola domestik ini membuat mereka tetap bisa mengasuh anak dan mengurus rumah tangga tanpa kehilangan penghasilan.
  2. Sistem Setor dan Kendali Mutu Berkala: Setiap tiga hingga empat hari sekali, para pekerja akan membawa hasil anyamannya ke rumah kediaman Sulamti. Di sana, proses quality control dilakukan ketat untuk memastikan standar ekspor tetap terjaga.
  3. Prinsip Kepemimpinan Kolektif: Walaupun kini telah bertransformasi menjadi pengusaha sukses, Sulamti secara konsisten tetap ikut menganyam bersama para anggotanya. Langkah ini dinilai efektif dalam membangun ikatan emosional dan menjaga kesetaraan di dalam komunitas perajin.

Napak Tilas Kinki Collection: Dari Buruh Menjadi Juragan Eksportir

Kisah sukses Kinki Collection menembus pasar internasional memiliki catatan sejarah yang panjang dan inspiratif. Usaha rumahan ini dirintis pertama kali oleh pasangan suami istri, Sulamti dan Sugeng Lenggono, pada tahun 2005 dengan modal awal yang sangat terbatas.
Sulamti sendiri merupakan contoh nyata dari figur pelaku UMKM yang merangkak murni dari bawah. Wanita kelahiran tahun 1979 ini mengawali perjalanannya bukan sebagai pemilik modal, melainkan sebagai buruh penganyam tas jali-jali biasa milik tetangganya di Dusun Bedali.
Berkat ketekunan yang tinggi, kemauan keras untuk terus belajar teknik baru, serta ketahanan mental dalam menghadapi pasang surut ekonomi, Sulamti berhasil menaikkan kelas sosialnya dari sekadar buruh harian menjadi produsen mandiri. Dedikasi tanpa henti ini yang akhirnya sukses mengantarkan Desa Campursari dikenal luas sebagai salah satu episentrum utama sentra kerajinan tas jali-jali di Kabupaten Ponorogo.

Membalik Krisis Pandemi Menjadi Peluang Digital

Ketika pandemi Covid-19 menghantam dunia pada tahun 2020 dan memicu kebangkrutan massal bagi sektor usaha mikro, Kinki Collection justru mencatatkan lompatan bisnis yang masif. Perubahan drastis perilaku pasar digital kala itu justru membuka rantai pasok baru yang sangat menguntungkan di internet.
Sulamti mengenang bagaimana fenomena pembatasan aktivitas fisik (work from home) justru melahirkan banyak mitra penjualan baru secara daring.
"Waktu pandemi dulu, banyak pegawai termasuk PNS yang tidak bisa bekerja penuh di kantor. Untuk mencari penghasilan tambahan, mereka beralih menjadi reseller tas anyaman kami secara online. Permintaan pasar di media sosial langsung meledak tajam karena tren penggunaan tas ramah lingkungan sedang naik daun," kenang Sulamti.

Menembus Pasar Ekspor Vietnam Melalui Koridor Banyuwangi

Keberhasilan pemasaran digital tersebut secara otomatis memperluas jangkauan pasar Kinki Collection keluar dari teritori Karesidenan Madiun. Aliran pesanan mulai datang secara kontinu dari Solo, Bali, hingga Makassar.
Puncak pencapaian bisnis ekspor luar negeri dicatatkan pada tahun 2025 dan terus berlanjut secara masif hingga pertengahan tahun 2026 ini. Pada 10 April lalu, Kinki Collection menerima kontrak dadakan skala besar sebanyak 6.050 pieces tas jali-jali yang wajib diselesaikan dalam kurun waktu dua bulan saja.
Melalui kerja keras komunitas perajin di Dusun Bedali, volume pemesanan ribuan lembar tersebut sukses lolos kurasi tepat waktu. Komoditas kerajinan plastik ini kemudian dikapalkan secara khusus menuju negara Vietnam melalui jaringan logistik strategis yang berbasis di Kabupaten Banyuwangi.

Menjaga Keberlanjutan Industri Kreatif Berbasis Komunitas

Keberhasilan Kinki Collection membuktikan bahwa skema ekonomi padat karya di wilayah pedesaan Ponorogo memiliki daya saing global yang tinggi. Dampak positifnya tidak hanya diukur dari aspek profit materi semata, melainkan dari keberlanjutannya dalam menekan angka pengangguran perempuan di Kecamatan Sambit.
Melalui pendekatan manajemen yang humanis—salah satunya dengan rutin menjaga kesejahteraan mental perajin lewat agenda liburan bersama—Kinki Collection berhasil membuktikan bahwa kebahagiaan pekerja adalah kunci utama di balik terciptanya produk rajutan tangan yang presisi, rapi, dan bernilai jual tinggi di pasar internasional. 
Penulis: Amin 
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Booming Tas Jali-Jali Ponorogo: Sukses Dobrak Pasar Vietnam di Tengah Liburan Sekolah
  • Booming Tas Jali-Jali Ponorogo: Sukses Dobrak Pasar Vietnam di Tengah Liburan Sekolah
  • Booming Tas Jali-Jali Ponorogo: Sukses Dobrak Pasar Vietnam di Tengah Liburan Sekolah
  • Booming Tas Jali-Jali Ponorogo: Sukses Dobrak Pasar Vietnam di Tengah Liburan Sekolah
  • Booming Tas Jali-Jali Ponorogo: Sukses Dobrak Pasar Vietnam di Tengah Liburan Sekolah
  • Booming Tas Jali-Jali Ponorogo: Sukses Dobrak Pasar Vietnam di Tengah Liburan Sekolah

Post a Comment