Penuhi Amanah Permendagri, BPBD Ponorogo Susun Renkon Kekeringan dan Cuaca Ekstrem
ANEWS.co, Ponorogo – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo mengambil langkah taktis untuk memperkuat sistem pertahanan wilayah dalam menghadapi potensi bencana musiman. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pelaksanaan agenda penyusunan Dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon) Kabupaten Ponorogo Tahun 2026 yang digelar di Ndalem Katong Guest House Ponorogo, Kamis (25/6).
Langkah taktis ini diambil bukan sekadar rutinitas, melainkan pemenuhan mandat wajib bagi pemerintah kabupaten/kota dalam menjamin pelayanan dasar kedaruratan. Dokumen ini dirancang sebagai skenario sekaligus panduan operasional taktis yang responsif, cepat, dan terukur saat status siaga atau darurat ditetapkan di wilayah tersebut.
Memenuhi Mandat Mutlak Regulasi dan Permendagri
Penyusunan dokumen Renkon ini bukan sekadar urusan internal BPBD, melainkan kewajiban mutlak Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) urusan kebencanaan. Langkah nyata ini mengacu pada regulasi ketat Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 101 Tahun 2018.
"Dokumen Rencana Kontinjensi ini sebetulnya bukan dokumen milik internal BPBD semata, melainkan dokumen sah milik daerah Kabupaten Ponorogo. Berdasarkan acuan Permendagri 101/2018, uraian dari rencana penanggulangan kedaruratan bencana ini sifatnya mutlak dan harus diuraikan secara spesifik per jenis bencana yang dominan di wilayah kita." Ungkap Masun, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ponorogo
Selain Permendagri, landasan hukum penyusunan dokumen strategis kedaruratan ini mengacu pada hierarki regulasi yang diperbarui, antara lain:
UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
PP No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.
Perka BNPB No. 2 Tahun 2023 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kontinjensi.
Perda Kabupaten Ponorogo No. 3 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Daerah.
Perda Kabupaten Ponorogo No. 9 Tahun 2025 tentang APBD (terkait alokasi dana kedaruratan/Belanja Tidak Terduga).
Fokus Dua Ancaman Musiman: Kekeringan dan Cuaca Ekstrem
Secara geografis dan topografis, Kabupaten Ponorogo memiliki sedikitnya 11 potensi ancaman bencana alam teridentifikasi. Namun, menyiasati keterbatasan anggaran daerah serta kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada, BPBD mengambil kebijakan taktis untuk memprioritaskan penanganan pada 5 bencana paling dominan.
Sebelum melangkah ke penyusunan tahun 2026, Kabupaten Ponorogo baru mengantongi dua dokumen rencana kontinjensi, yaitu skenario untuk bencana tanah longsor dan bencana banjir. Melalui lokakarya kali ini, BPBD Ponorogo melengkapi instrumen kesiapsiagaan daerah dengan merumuskan dua jenis dokumen baru sekaligus untuk mengantisipasi dua ancaman krusial:
1. Dampak Krisis Kekeringan
Saat musim kemarau tiba, krisis air bersih menjadi masalah klasik yang rutin melanda sejumlah wilayah di Ponorogo. Dokumen Renkon ini berfokus memetakan desa-desa kritis yang menjadi langganan kekeringan, khususnya yang tersebar di beberapa kecamatan rawan seperti Slahung, Pulung, dan Kasiman. Poin utamanya adalah memvalidasi data kelompok rentan serta menginventarisasi kekuatan logistik armada truk tangki air bersih.
2. Terjangan Cuaca Ekstrem
Fenomena angin kencang dan puting beliung kerap kali merusak pemukiman warga serta melumpuhkan sektor pertanian lokal. Lewat dokumen mitigatif ini, skenario disiapkan agar jalur logistik, pembersihan pohon tumbang, pemetaan pos kendali komunikasi, serta perlindungan lahan tani bisa dieksekusi dengan cepat oleh desa terdampak yang sudah memiliki pengalaman empiris di lapangan.
Kolaborasi Pentahelix: Hapus Ego Sektoral di Lapangan
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan darurat di lapangan adalah koordinasi antarsektor. Melalui forum yang direncanakan berlangsung sebanyak tiga kali pertemuan berkala ini, BPBD melibatkan sekitar 48 peserta aktif dari berbagai unsur Pentahelix (Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media).
Peserta yang terlibat meliputi lintas jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan TNI, Kepolisian (Polres), Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB), serta instansi teknis terkait. Tak kalah penting, kelompok relawan kemanusiaan seperti PMI, Baznas, hingga Disabilitas Motor Indonesia (DMI) Ponorogo turut dilibatkan secara inklusif.
BPBD juga menghadirkan perwakilan kecamatan dan kepala desa dari wilayah yang selama ini menjadi langganan bencana. Keterlibatan pihak desa sangat krusial agar penyusunan skenario penanganan berbasis pada realitas riil dan pengalaman empiris mereka.
Tiga Target Output yang Ingin Dicapai:
Alur Kerja Sinergis (Who Does What): Menghapus ego sektoral. Saat status siaga atau darurat ditetapkan, tiap instansi (TNI, Polri, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, PDAM, dll) sudah paham detail tugas masing-masing.
Basis Data Klaster yang Valid: Memetakan topografi wilayah, jumlah penduduk rentan (lansia, ibu hamil, anak-anak, disabilitas), serta kesiapan armada logistik (truk tangki air bersih, tenda, dan obat-obatan).
Standardisasi Operasional: Menjadi panduan cepat agar penanganan bencana berjalan efisien, memotong rantai birokrasi yang berbelit-belit saat kondisi darurat.
Pengaruh Besar Terhadap Indeks Ketahanan Daerah (IKD)
Penyusunan Renkon memiliki dampak domino yang sangat positif bagi penilaian kinerja makro daerah. Dokumen ini menjadi salah satu indikator penting dalam mendongkrak capaian Indeks Ketahanan Daerah (IKD) yang masuk ke dalam indikator target RPJMD Kabupaten Ponorogo.
Selain itu, keberadaan dokumen ini menjadi syarat krusial dalam penilaian verifikasi Kabupaten Kota Sehat (KFS). Namun, Masun mengingatkan bahwa dokumen ini memiliki masa berlaku yang terbatas, yaitu hanya 3 tahun, mengingat karakteristik iklim dan alam yang terus dinamis sehingga memerlukan pembaruan berkala.
| Jenis Bencana Dominan | Status Dokumen | Target Mitigasi Lapangan |
| Tanah Longsor | Sudah Tersedia | Zonasi lereng rawan, jalur evakuasi warga, shelter komunal. |
| Banjir | Sudah Tersedia | Normalisasi sungai, penyiapan tempat pengungsian dan dapur umum. |
| Kekeringan | Penyusunan (2026) | Distribusi air bersih, klaster logistik, validasi data kelompok rentan. |
| Cuaca Ekstrem | Penyusunan (2026) | Penanganan angin kencang, pembersihan pohon tumbang, perlindungan tani. |
| Bencana Kelima | Tahap Perencanaan | Memenuhi target minimal 5 dokumen bencana dominan di daerah. |
Wajib Uji Simulasi dan Aturan Komando Terbaru
Satu poin krusial yang ditekankan dalam forum ini adalah bahwa dokumen Renkon tidak boleh sekadar berakhir sebagai tumpukan kertas arsip. Di bagian akhir proses, terdapat kewajiban bagi daerah untuk menguji keandalan dokumen ini melalui simulasi nyata atau gladi lapang (simulasi fisik). Dokumen yang tidak pernah digladikan atau disimulasikan akan memangkas nilai evaluasi daerah dalam penilaian Kabupaten Kota Sehat secara signifikan.
Di samping itu, Masun juga meluruskan pemahaman mengenai struktur komando kedaruratan terbaru berdasarkan regulasi Peraturan Kepala (Perka) BNPB Nomor 10 Tahun 2023.
Apabila terjadi eskalasi status darurat bencana di tingkat kabupaten, maka tongkat komando tertinggi dipegang langsung oleh Kepala Daerah (Bupati) dengan dibantu oleh Sekretaris Daerah (Sekda). Sementara itu, Kepala BPBD bertindak sebagai pembantu utama atau komandan pelaksana teknis operasi di lapangan, penyedia logistik terpusat, serta koordinator satu data melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops).
Dengan dimulainya penyusunan Renkon Kekeringan dan Cuaca Ekstrem ini, Kabupaten Ponorogo optimis melangkah menjadi daerah yang lebih tangguh dan siap siaga (mitigatif) alih-alih hanya sekadar responsif saat bencana sudah melanda.

Post a Comment