Kisah Yayak Donor Darah 75 Kali Sejak SMK hingga Gandeng Difabel di Lumajang
ANEWS.co, Lumajang, Jawa Timur — Setetes darah mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi jemaah pasien yang sedang berjuang di ambang maut, cairan merah tersebut adalah harapan hidup yang sesungguhnya. Dalam rangka memperingati Hari Donor Darah Sedunia (HDDS) 2026, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lumajang mengangkat sebuah narasi humanis yang berpusat pada konsistensi, empati, dan inklusivitas. Bukan sekadar angka statistik pemenuhan target kantong darah, melainkan tentang jiwa-jiwa hebat yang mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan.
Tepat pada hari Jumat, 26 Juni 2026, sebuah dialog interaktif mengudara melalui stasiun Radio Gloria FM Lumajang. Di dalam studio yang hangat, tiga narasumber duduk bersama untuk membedah esensi dari aksi donor darah sukarela. Mereka adalah Wakil Ketua PMI Lumajang Bidang Pelayanan Darah Didik Supribadio, Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI Lumajang dr. Halimi Maksum MMRS, serta sosok relawan teladan, Yayak Ari Kurniawan. Dari ruang siaran inilah, sebuah kisah inspiratif tentang perjuangan mendonor puluhan kali dan gerakan merangkul kelompok difabel mulai terkuak ke publik.
Mengenal Sosok Yayak Ari Kurniawan: Mengalirkan Kebaikan Sejak Remaja
Di tengah pergeseran gaya hidup modern yang cenderung individualistis, figur seperti Yayak Ari Kurniawan menjadi bukti bahwa kepekaan sosial masih tumbuh subur di Bumi Semeru. Sosok pria bersahaja ini mendadak menjadi pusat perhatian dalam momen HDDS 2026 karena rekam jejak kemanusiaannya yang luar biasa: ia telah mendonorkan darahnya sebanyak 75 kali secara sukarela.
Awal Mula Ketertarikan di Bangku Sekolah
Perjalanan luar biasa Yayak tidak dimulai dari momentum besar atau paksaan orang lain. Langkah pertamanya justru diayunkan saat ia masih berstatus sebagai pelajar remaja di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ketika sebagian besar remaja seusianya merasa ngeri melihat jarum suntik, Yayak muda justru memberanikan diri mendekat ke mobil unit donor darah yang sedang mengadakan kegiatan sosial di sekolahnya.
"Waktu itu awalnya hanya ingin mencoba membantu sesama lewat apa yang saya miliki, yaitu darah saya sendiri. Rasanya ada kepuasan dan kebahagiaan batin yang sangat luar biasa setelah berhasil melewati donor pertama," kenang Yayak dengan mata berbinar di depan mikrofon studio Radio Gloria FM.
Efek 'Ketagihan' Positif yang Membawa Kebugaran
Konsistensi selama bertahun-tahun hingga mencapai angka 75 kali donor tentu melahirkan tanda tanya bagi masyarakat awam. Banyak yang penasaran, apakah tubuh tidak menjadi lemas atau jatuh sakit akibat terlalu sering diambil darahnya? Yayak dengan tegas mematahkan mitos medis tersebut berdasarkan studi kasus pada dirinya sendiri.
Secara medis, setiap kali darah diambil, tubuh akan merespons dengan memproduksi sel darah merah baru yang jauh lebih sehat dan segar. Hal inilah yang dirasakan langsung oleh Yayak. "Efeknya ke badan itu rasanya enak sekali, ringan, dan jauh lebih bugar. Bahkan, kalau sudah masuk waktunya siklus donor tapi saya belum sempat berangkat ke kantor UDD, badan rasanya seperti ketagihan. Ada alarm alami tubuh yang menagih untuk segera berbagi," tambah Yayak sembari tersenyum rileks.
Estafet Kemanusiaan: Merangkul dan Menggandeng Generasi Z
Bagi Yayak, mencatatkan angka 75 kali donor bukanlah garis akhir dari misinya. Ia memikul tanggung jawab moral untuk menularkan kebiasaan mulia ini kepada generasi penerus. Dalam talkshow tersebut, Yayak secara khusus melemparkan ajakan persuasif kepada anak-anak muda yang tergolong dalam Generasi Z (Gen Z) di Lumajang. Ia ingin para remaja masa kini menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus bentuk kontribusi sosial yang nyata, persis seperti pengalaman berharga dirinya saat masih mengenakan seragam SMK dulu.
Sinergi PMI Lumajang: Membangun Kesadaran Sukarela Tanpa Batas
Aksi hebat dari individu seperti Yayak tentu membutuhkan wadah dan sistem yang suportif. Di sinilah peran krusial PMI Kabupaten Lumajang dalam menjembatani ketulusan hati para pendonor dengan kebutuhan riil di berbagai fasilitas kesehatan.
Suara Kemanusiaan dari Didik Supribadio
Wakil Ketua PMI Lumajang Bidang Pelayanan Darah, Didik Supribadio, menekankan bahwa donor darah sukarela adalah bentuk tertinggi dari rasa cinta kasih antarsesama manusia. Beliau menjelaskan bahwa pasokan darah di rumah sakit tidak boleh hanya bergantung pada pendonor pengganti atau pendonor keluarga yang baru bergerak saat ada kerabatnya yang kritis.
"Semangat kemanusiaan untuk berbagi dalam donor darah ini harus terus kita gaungkan. Langkah sukarela dari jemaah pendonor akan sangat membantu menyambung nyawa orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan darurat di ruang-ruang perawatan," tegas Didik Supribadio, mengapresiasi ketulusan para relawan.
Gerakan Inklusi dr. Halimi Maksum: Saat Keterbatasan Menjadi Sumber Kehidupan
Bagian paling menyentuh dari realitas pelayanan darah di Lumajang adalah terciptanya ekosistem donor yang sepenuhnya inklusif. Kepala UDD PMI Lumajang, dr. Halimi Maksum MMRS, membagikan sebuah data dan fakta lapangan yang mampu membuat siapa saja merinding karena haru.
Grafik Partisipasi yang Merata dan Menjanjikan
Dokter Halimi menyampaikan bahwa tingkat partisipasi warga Lumajang dalam mendonorkan darah secara sukarela sebenarnya sudah berada pada tren yang cukup bagus. Namun, pihak UDD tidak mau terlena dan terus memanfaatkan momentum HDDS 2026 ini untuk mendorong angka tersebut naik secara signifikan agar stok darah daerah selalu berada pada zona aman.
Sahabat Difabel: Pahlawan Kemanusiaan di Garis Depan
Hal yang paling membanggakan bagi dr. Halimi adalah hilangnya sekat-sekat sosial di dalam ruang pelayanan UDD PMI Lumajang. Keterbatasan fisik terbukti tidak membatasi seseorang untuk menjadi pahlawan bagi orang lain. PMI Lumajang sukses menggandeng dan merangkul kelompok penyandang disabilitas untuk aktif menjadi pendonor tetap.
"Alhamdulillah, sebuah kebahagiaan luar biasa bagi kami karena di Lumajang ini, pendonor inklusi juga ada dan sangat konsisten. Di antara barisan pendonor sukarela kita, terdapat rekan-rekan dari tuna netra, tuna wicara, serta kawan-kawan difabel lainnya. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk mengalirkan kebaikan," tutur dr. Halimi Maksum dengan nada bergetar penuh rasa syukur.
Kemeriahan Event HDDS 2026: Apresiasi untuk Jiwa-Jiwa Penolong
Sebagai wujud timbal balik dan bentuk penghargaan setinggi-tingginya kepada para pendonor sukarela, PMI Lumajang tidak hanya berhenti pada kegiatan edukasi lewat udara. Di bawah komando dr. Halimi dan pengurus PMI, serangkaian acara luring (offline) yang menarik dan bertabur hadiah telah dipersiapkan secara matang di pusat kota.
Berikut adalah tiga pilar kegiatan utama yang diselenggarakan untuk menyemarakkan Hari Donor Darah Sedunia tahun 2026:
1. Gebyar Donor Darah dengan Door Prize Menarik
Untuk memicu antusiasme jemaah pendonor pemula sekaligus mengapresiasi para pendonor rutin, PMI Lumajang menyediakan ratusan paket hadiah hiburan (door prize). Setiap warga yang berhasil menyumbangkan darahnya pada periode perayaan ini akan mendapatkan kupon undian langsung sebagai bentuk tanda terima kasih dari panitia kemanusiaan.
2. Layanan Skrining Pemeriksaan Gula Darah Gratis
PMI Lumajang juga menunjukkan kepedulian nyata terhadap kesehatan preventif para pahlawan darah. Fasilitas stan pemeriksaan gula darah gratis dibuka lebar untuk umum, memberikan kesempatan bagi jemaah masyarakat untuk memantau kondisi metabolisme tubuh mereka secara dini dan mencegah risiko diabetes melitus.
3. Kompetisi Konten Kreatif Lomba Videografi
Guna menangkap semangat zaman dan merangkul potensi estetika anak muda, panitia menyelenggarakan lomba videografi bertema donor darah. Melalui kompetisi ini, Gen Z di Lumajang ditantang untuk mengemas pesan-pesan kemanusiaan, kisah inklusivitas difabel, serta kesaksian tokoh seperti Yayak menjadi video pendek yang persuasif, viral, dan mengedukasi di platform media sosial.
Perpaduan antara keteladanan personal dari Yayak Ari Kurniawan, keterbukaan sistem inklusif bagi kaum difabel, serta inovasi program dari PMI Lumajang menjadi potret indah dari nilai gotong royong yang sesungguhnya. Kisah dari Lumajang ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: untuk menjadi penolong sesama, kita hanya butuh satu hal, yaitu ketulusan hati yang mengalir tanpa batas.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment