HEADLINE
Dark Mode
Large text article

Sejarah Hari Lahirnya NU: Tonggak Kebangkitan Ulama dan Benteng Nusantara

 

Sejarah hari lahir Nahdlatul Ulama (NU). Hari ini NU berusia 94 tahun (Foto: Kantor PBNU/Istimewa)

anews.co, Ponorogo - Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar sebuah organisasi keagamaan, melainkan pilar strategis dalam sejarah peradaban Indonesia. Berdiri kokoh sejak 31 Januari 1926 di Surabaya, NU kini telah bertransformasi menjadi organisasi Islam terbesar di dunia.
Lahirnya NU merupakan respons cerdas para ulama pesantren terhadap pergolakan geopolitik global dan ancaman terhadap tradisi keislaman di tanah air. Berikut adalah penelusuran mendalam mengenai sejarah, dinamika, serta kontribusi nyata NU dari fajar berdirinya hingga peran kebangsaan yang melekat hingga hari ini.
1. Latar Belakang Komite Hijaz: Katalis Utama Lahirnya NU
Membahas sejarah lahirnya NU tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik di Timur Tengah pada awal abad ke-20. Runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani diikuti oleh naiknya Dinasti Saud di Arab Saudi yang menganut paham Wahabi murni.
Ancaman Terhadap Tradisi Kekayaan Islam
Penguasa baru di Tanah Suci saat itu menerapkan kebijakan keagamaan yang sangat ketat. Mereka berencana membongkar berbagai situs sejarah Islam, termasuk makam Nabi Muhammad SAW, karena dinilai berpotensi menimbulkan syirik. Selain itu, praktik bermazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) di sekitar Masjidil Haram mulai dilarang.
Kondisi ini mencemaskan para ulama di Nusantara yang mayoritas mengamalkan Islam dengan pendekatan mazhab Syafi'i serta merawat tradisi ziarah.
Pembentukan Komite Hijaz
Merespons situasi darurat tersebut, KH Abdul Wahab Hasbullah berinisiatif mengumpulkan para ulama terkemuka. Mereka membentuk panitia khusus bernama Komite Hijaz. Tugas utama komite ini adalah mengirimkan delegasi ke Mekkah untuk menemui Raja Ibnu Saud.
Rombongan Komite Hijaz membawa misi diplomatik penting, yaitu meminta jaminan kebebasan bermazhab dan perlindungan terhadap situs-situs bersejarah Islam. Untuk memberikan payung hukum resmi bagi delegasi inilah, para ulama sepakat mendirikan organisasi permanen yang dinamakan Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama).
2. Restu Langit: Isyarat Syaikhona Kholil Bangkalan
Secara struktural, NU digerakkan oleh para kiai muda cerdas seperti KH Abdul Wahab Hasbullah. Namun, secara kultural dan spiritual, organisasi ini membutuhkan legitimasi dari poros ulama tertinggi saat itu, yaitu Hadratussyeikh KH Hasyim Asy'ari.
Tongkat dan Tasbih Misterius
Sebelum menyatakan kesediaannya memimpin NU, KH Hasyim Asy'ari melakukan salat istikharah yang panjang. Legitimasi spiritual akhirnya datang melalui perantara gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan.
  1. Isyarat Pertama (1924): Syaikhona Kholil mengutus santrinya, As'ad Syamsul Arifin (kelak menjadi kiai besar), untuk mengantarkan sebatang tongkat kepada KH Hasyim Asy'ari disertai kutipan Ayat Al-Qur'an surat Thaha tentang mukjizat tongkat Nabi Musa.
  2. Isyarat Kedua (1925): Syaikhona Kholil kembali mengutus Kiai As'ad untuk mengantarkan seuntai tasbih sambil mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar (Wahai Zat Yang Mahaperkasa, Wahai Zat Yang Maha Menundukkan).
Baging KH Hasyim Asy'ari, dua simbol ini adalah instruksi spiritual yang tegas. Tongkat melambangkan komando untuk memimpin umat, sedangkan tasbih melambangkan kekuatan zikir dan keteguhan hati. Segera setelah isyarat tersebut lengkap, NU resmi dideklarasikan.
3. Resolusi Jihad: Kontribusi Nyata Mempertahankan Kemerdekaan
Sejak awal berdiri, NU memegang prinsip bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman (Hubbul Wathan Minal Iman). Prinsip ini diuji secara nyata ketika sekutu mencoba merebut kembali Indonesia pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945.
Fatwa Fardhu 'Ain Melawan Penjajah
Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura di Surabaya. Pertemuan genting ini menghasilkan keputusan monumental yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.
Isi dari Resolusi Jihad menegaskan bahwa membela tanah air dari serangan penjajah adalah kewajiban agama (Fardhu 'Ain) bagi setiap muslim yang berada dalam radius 94 kilometer dari posisi musuh.
[ Garis Waktu Peristiwa Resolusi Jihad 1945 ]
       
   17 Agustus      --->   22 Oktober        --->   10 November
Proklamasi RI             Resolusi Jihad           Pertempuran Surabaya
                                                   (Hari Pahlawan)
Dampak Nyata di Medan Laga
Resolusi ini membakar semangat juang para santri dan masyarakat sipil. Lahirlah milisi-milisi rakyat seperti Laskar Hizbullah yang dipimpin oleh KH Zainul Arifin dan Laskar Sabilillah di bawah komando KH Masykur.
Sinergi antara milisi santri, tokoh pemuda seperti KH Wahid Hasyim, dan tentara resmi inilah yang menjadi motor penggerak utama pertempuran dahsyat 10 November 1945 di Surabaya, yang kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
Selain perlawanan fisik, keteguhan NU juga tercermin dari sikap KH Hasyim Asy'ari yang sempat dipenjara oleh Jepang karena menolak melakukan saikeirei (membungkukkan badan ke arah matahari terbit untuk menghormati Kaisar). Beliau secara tegas mengeluarkan fatwa dilarangnya tindakan tersebut karena termasuk perbuatan syirik.
4. Struktur Karakteristik NU: Benteng Islam Tradisional
Kekuatan utama NU terletak pada jaringannya yang berbasis kultural. Jaringan ini bertumpu pada institusi tradisional yang mandiri dan berakar dalam di tengah masyarakat luas.
Pesantren sebagai Episentrum Organisasi
Berbeda dengan organisasi modern yang bertumpu pada kantor administrasi, roda penggerak NU berada di dalam pondok pesantren. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga berperan aktif sebagai pusat pemberdayaan ekonomi dan perisai sosial bagi masyarakat pedesaan hingga wilayah perkotaan.
Pembagian Struktur Badan Otonom
Guna memperluas jangkauan dan memperkuat pengabdiannya pasca-berdirinya organisasi, NU membentuk berbagai badan otonom (Banom) yang menyasar kelompok spesifik:
  • Gerakan Pemuda (GP) Ansor: Wadah kaderisasi pemuda NU (berdiri resmi pasca-reorganisasi) yang mengawal ulama dan menjaga keutuhan NKRI.
  • Muslimat NU: Organisasi bagi perempuan dewasa NU yang aktif dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi, dan keagamaan.
  • Fatayat NU: Ruang aktualisasi bagi perempuan muda NU di sektor publik.
  • IPNU & IPPNU: Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (Putra & Putri) yang bergerak di basis sekolah dan madrasah.
5. Nilai Strategis NU dalam Menjaga Harmoni Nusantara
Memasuki usianya yang telah melampaui satu abad, NU tetap konsisten merawat keberagaman Indonesia. Kunci dari daya tahan ini adalah kepatuhan penuh terhadap prinsip dasar Ahlussunnah wal Jama'ah yang merangkul realitas lokal.
Empat Pilar Karakter Sikap NU
Dalam interaksi sosial dan politik, warga NU dibekali dengan empat pedoman utama:
Karakter SikapPenjelasan FilosofisAplikasi Nyata
TawassuthSikap tengah-tengahTidak ekstrem kiri (liberal) maupun ekstrem kanan (radikal).
TawazunSikap seimbangMenyerasikan pengabdian kepada Allah, sesama manusia, dan lingkungan hidup.
I'tidalSikap tegak lurusBertindak adil dan konsisten menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu.
TasamuhSikap toleranMenghargai perbedaan pendapat, budaya, serta keyakinan agama lain.
Berkat kombinasi keempat pilar tersebut, NU berhasil menjembatani nilai-nilai keislaman universal dengan kearifan lokal Indonesia. Pendekatan ini melahirkan konsep harmoni sosial yang kokoh, mengikis potensi konflik horizontal, serta memosisikan NU sebagai benteng tangguh dalam memelihara Indonesia yang satu, damai, dan menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama.
Sumber Literasi & Referensi
  1. Ismail, Faisal. The Nahdlatul Ulama: Its Early History and Contribution to the Establishment of Indonesian State. Jurnal: Journal of Indonesian Islam. (Membahas kontribusi kultur pesantren, peran KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, serta slogan-slogan perjuangan kemerdekaan).
  2. Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press. (Menyediakan konteks sejarah dinamika Islam tradisional dan modernis di Indonesia awal abad ke-20).
  3. Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. LP3ES. (Membahas latar belakang berdirinya berbagai organisasi Islam di Indonesia termasuk pertumbuhan awal NU).
  4. Zuhri, Saifuddin. Berangkat dari Pesantren. Gunung Agung. (Catatan sejarah otentik mengenai kehidupan pesantren, dinamika kiai, laskar Hizbullah, dan proses konsolidasi kultural NU).
  5. PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Khittah Nahdlatul Ulama dan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. (Rujukan resmi mengenai empat pilar sikap: Tawassuth, Tawazun, I'tidal, dan Tasamuh).
Post a Comment