Banjir dan Longsor Tempursari Isolasi Ratusan KK, PMI Jatim Minta Penanganan Darurat Dipercepat
ANEWS.co, LUMAJANG — Banjir dan longsor Tempursari yang dipicu hujan berintensitas tinggi menyebabkan kerusakan infrastruktur, memutus akses jalan, mengisolasi ratusan kepala keluarga (KK), serta mengancam puluhan rumah warga di Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang. Kondisi tersebut terungkap dalam assessment yang dilakukan Pengurus Bidang Penanggulangan Bencana (PB) PMI Provinsi Jawa Timur bersama PMI Kabupaten Lumajang pada Senin (2/11/2026).
Tim assessment yang dipimpin Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edy Purwinarto, melakukan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi terdampak untuk memetakan kondisi lapangan, kebutuhan darurat, serta langkah-langkah percepatan penanganan yang diperlukan.
Bencana hidrometeorologi yang terjadi tidak hanya menimbulkan genangan banjir di berbagai desa, tetapi juga memicu longsor, pohon tumbang, jebolnya tanggul sungai, dan rusaknya jalur penghubung antardusun yang selama ini menjadi akses utama masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tidak hanya berdampak pada aktivitas harian warga, tetapi juga mengganggu distribusi logistik, layanan kesehatan, pendidikan, hingga roda perekonomian masyarakat di wilayah terdampak.
Puluhan Titik Bencana Teridentifikasi
Assessment lapangan diawali dengan koordinasi antara PMI Jawa Timur, PMI Lumajang, dan Pemerintah Kecamatan Tempursari untuk memperbarui data perkembangan situasi pascabencana.
Kepala Markas PMI Kabupaten Lumajang, Nurhadi Santoso, mengatakan hasil assessment menunjukkan adanya berbagai titik kerusakan yang membutuhkan penanganan segera.
"Dari hasil assessment hari ini, terdapat beberapa titik longsor, tanggul jebol, luapan sungai, hingga akses jalan yang terputus. Sebagian warga juga masih terisolasi akibat hilangnya akses penghubung antarwilayah," kata Nurhadi Santoso.
Salah satu lokasi terdampak berada di Dusun Tamansari RT 01 RW 06 Desa Kaliuling. Longsor yang terjadi menutup jalan penghubung Tamansari-Iburaja sehingga menghambat mobilitas masyarakat. Hingga kini proses normalisasi dan pembukaan jalur masih dilakukan.
Di lokasi lain, tepatnya di Desa Purorejo, tanggul Wareng dilaporkan jebol akibat derasnya luapan Sungai Glidik. Jebolnya tanggul tersebut menyebabkan jalan penghubung Purorejo menuju Tamansari Bawah sepanjang sekitar 200 meter hilang tergerus aliran sungai.
Kerusakan itu menjadi salah satu yang paling serius karena menyebabkan akses warga menuju kawasan lain tidak dapat digunakan.
"Kerusakan paling serius saat ini berada di wilayah yang akses jalannya hilang akibat tergerus banjir. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa RT masih terisolasi," ujar Nurhadi.
Berdasarkan data sementara, terdapat 33 KK di RT 03 RW 07 dan 84 KK di RT 02 RW 07 wilayah Tamansari Bawah yang masih mengalami keterisolasian akibat putusnya akses penghubung.
Permukiman dan Lahan Pertanian Ikut Terdampak
Selain merusak infrastruktur, luapan sungai juga mengancam keselamatan warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
Di Desa Purorejo, gerusan Sungai Glidik dilaporkan mengancam sedikitnya 10 rumah warga. Tiga rumah di antaranya telah mengalami kerusakan pada bagian teras akibat abrasi yang terus berlangsung.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru karena jika aliran sungai terus berubah dan menggerus daratan, risiko kerusakan bangunan diperkirakan semakin besar.
Tidak hanya itu, luapan Sungai Rawaan menyebabkan banjir di wilayah Desa Tempursari. Genangan terjadi di RT 01 sampai RT 04 RW 02 Dusun Krajan serta RT 01 RW 04 Dusun Tempursari.
Jumlah warga yang terdampak di kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 600 kepala keluarga.
Sementara itu, banjir akibat meluapnya Sungai Dol juga berdampak terhadap sekitar 100 KK di Dusun Umbulrejo, Desa Purorejo dan 100 KK di Dusun Umbulsari, Desa Bulurejo.
Dampak bencana turut dirasakan sektor pertanian yang menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat Tempursari.
Lahan pertanian di Desa Bulurejo, Tempurejo, Tempursari, Purorejo, hingga Tegalrejo dilaporkan terendam akibat meluapnya Sungai Glidik. Jika kondisi genangan berlangsung lama, petani berpotensi mengalami kerugian karena tanaman yang rusak dan terganggunya masa tanam.
Secara tidak langsung, kondisi tersebut juga akan mempengaruhi ketahanan ekonomi keluarga yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian.
Longsor dan Ancaman Infrastruktur Vital
Tim assessment juga menemukan sejumlah kejadian longsor dan pohon tumbang di berbagai titik wilayah Tempursari.
Di kawasan Halimo, Dusun Iburaja, Desa Kaliuling, longsor dan pohon tumbang mengakibatkan material tanah mengenai dapur rumah milik warga bernama Misinyem.
Longsor juga terjadi di Jalan Raya Tempursari RT 03 RW 01 Desa Pundungsari yang menyebabkan sebagian badan jalan kabupaten mengalami kerusakan.
Di jalur Kalirejo menuju Kalitiri, longsoran tanah mengancam keberadaan tiang jaringan listrik PLN serta merusak bahu jalan.
Sementara itu, pohon tumbang di Jalan Raya Tempursari Dusun Krajan Desa Pundungsari dilaporkan telah berhasil ditangani petugas sehingga arus lalu lintas kembali normal.
Meski demikian, dampak cuaca ekstrem masih dirasakan masyarakat karena sejumlah wilayah masih mengalami pemadaman listrik akibat gangguan jaringan dan kerusakan sarana pendukung.
Kondisi tersebut menyulitkan warga melakukan aktivitas sehari-hari, terutama pada malam hari dan saat membutuhkan akses informasi maupun komunikasi.
PMI Jatim Dorong Penanganan Cepat
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edy Purwinarto, yang meninjau langsung lokasi jebolnya tanggul Sungai Glidik menilai penanganan harus segera dilakukan agar kerusakan tidak semakin meluas.
Menurut Edy, perubahan aliran sungai akibat tanggul yang jebol berpotensi menimbulkan ancaman baru bagi permukiman warga.
"Jebolnya tanggul yang mengikis jalan dan beberapa bangunan rumah penduduk menjadi aliran sungai baru perlu segera penanganan dengan membangun kembali tanggul sehingga aliran sungai dikembalikan ke aliran semula," kata Edy Purwinarto.
Ia juga menekankan pentingnya langkah cepat untuk melindungi rumah-rumah warga yang berada di sepanjang bantaran sungai.
"Sementara rumah yang berada di pinggir kali sepanjang sekitar 200 meter segera ditangani agar risiko yang lebih besar dapat dicegah," ujarnya.
Menurut Edy, percepatan penanganan tidak hanya penting untuk memulihkan kondisi infrastruktur, tetapi juga untuk mengurangi dampak sosial yang timbul akibat terisolasinya warga.
Pemulihan akses jalan menjadi prioritas karena berhubungan langsung dengan distribusi bantuan, layanan kesehatan, serta mobilitas masyarakat.
Fokus Keselamatan dan Mitigasi
Hingga saat ini PMI Lumajang bersama PMI Jawa Timur terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, PLN, relawan, dan berbagai pihak terkait untuk mempercepat respons darurat.
Selain pemetaan dampak dan kebutuhan warga, pemantauan terhadap wilayah rawan longsor susulan dan potensi banjir lanjutan juga terus dilakukan.
Nurhadi Santoso menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah keselamatan masyarakat serta pemulihan akses yang terputus.
"Prioritas saat ini adalah keselamatan warga, pemulihan akses yang terputus, serta pemantauan wilayah yang masih berpotensi mengalami longsor susulan maupun banjir lanjutan," tegasnya.
Masyarakat di sekitar aliran sungai dan kawasan perbukitan juga diimbau meningkatkan kewaspadaan mengingat curah hujan masih tinggi dan berpotensi memicu bencana susulan.
Peristiwa yang terjadi di Tempursari menjadi pengingat penting bahwa mitigasi bencana harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari penguatan tanggul, pemeliharaan saluran air, pengawasan kawasan rawan longsor, hingga peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.
Ketika cuaca ekstrem terus terjadi, kesiapsiagaan seluruh elemen menjadi kunci untuk mengurangi risiko korban jiwa dan mempercepat proses pemulihan pascabencana.
