Saat Air Bersih Sulit Didapat, Bantuan Ini Menjadi Harapan Warga Nagekeo
ANEWS.co, NAGEKEO – Akses air bersih warga terdampak gempa menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak dalam proses pemulihan pascabencana di Kabupaten Nagekeo. Ketika sebagian masyarakat masih berupaya menata kembali kehidupan setelah gempa bumi mengguncang wilayah Flores, kebutuhan dasar seperti air minum, sanitasi, dan kebersihan keluarga menjadi perhatian utama.
Dalam situasi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nagekeo terus menjalankan berbagai layanan kemanusiaan untuk membantu masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah distribusi air bersih melalui sektor Water, Sanitation and Hygiene (WASH).
Pada Selasa, 20 Oktober 2026, PMI Kabupaten Nagekeo kembali menyalurkan air bersih ke dua wilayah yang terdampak, yaitu Desa Aeramo dan Desa Marapokot. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pelayanan kemanusiaan yang terus dilakukan selama masa pemulihan pascagempa.
Distribusi berlangsung sejak pukul 09.30 hingga 18.00 WITA menggunakan kendaraan operasional PMI bernomor polisi B 9553 SFA. Air bersih yang didistribusikan berasal dari sumur bor Lape dan diangkut menuju lokasi-lokasi yang membutuhkan pasokan air tambahan.
Di Desa Aeramo, layanan dilakukan di Gereja Paroki YKI Aeramo untuk memenuhi kebutuhan umat paroki serta masyarakat sekitar. Sementara di Dusun I Marapokot, distribusi dilakukan langsung kepada warga yang membutuhkan pasokan air untuk keperluan rumah tangga sehari-hari.
Air Bersih Menjadi Kebutuhan Dasar yang Tidak Bisa Ditunda
Dalam kondisi normal, masyarakat sering kali menganggap ketersediaan air bersih sebagai sesuatu yang biasa. Namun ketika bencana terjadi, akses terhadap air bersih dapat menjadi persoalan serius.
Kerusakan fasilitas, terganggunya jaringan distribusi, hingga perubahan kondisi lingkungan dapat menyebabkan masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air yang layak digunakan.
Padahal air merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Air dibutuhkan untuk minum, memasak, menjaga kebersihan diri, mencuci pakaian, membersihkan peralatan rumah tangga, hingga menjaga sanitasi lingkungan.
Kurangnya akses terhadap air bersih juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama pada kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
Karena itu, layanan distribusi air bersih tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan masyarakat pascabencana.
Menjangkau Masyarakat yang Membutuhkan
Di Dusun I Marapokot, distribusi air bersih menjangkau 53 kepala keluarga dengan total 203 jiwa penerima manfaat.
Masyarakat penerima manfaat terdiri atas berbagai kelompok usia dan kondisi sosial.
Data lapangan menunjukkan terdapat 17 lanjut usia, 120 orang dewasa, 30 anak usia 5 hingga 17 tahun, 21 balita, tiga penyandang disabilitas, tiga ibu hamil, dan enam ibu menyusui.
Keberadaan kelompok rentan ini menjadi alasan penting mengapa layanan air bersih perlu terus dilakukan selama masa pemulihan.
Bagi balita misalnya, kualitas air sangat berkaitan dengan kesehatan dan pertumbuhan. Begitu pula bagi ibu hamil dan ibu menyusui yang membutuhkan kondisi kesehatan yang baik selama masa kehamilan dan perawatan anak.
Sementara bagi lansia dan penyandang disabilitas, keterbatasan akses sering membuat mereka membutuhkan dukungan lebih besar dibanding kelompok masyarakat lainnya.
Melalui distribusi air bersih, PMI berupaya memastikan seluruh kelompok masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan yang mendasar.
Warga Merasakan Manfaat Langsung
Bagi masyarakat penerima manfaat, bantuan air bersih yang diberikan PMI memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pasokan air.
Hawaniah, salah seorang warga penerima manfaat, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran layanan tersebut.
“Kami sangat berterima kasih kepada PMI Nagekeo yang sudah datang membantu kami dengan air bersih. Air merupakan kebutuhan utama untuk memasak, minum, mandi, dan keperluan keluarga sehari-hari. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama dalam kondisi seperti sekarang. Kami berharap PMI terus hadir membantu masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan situasi nyata yang dihadapi warga pascabencana.
Dalam kondisi ketika sebagian aktivitas belum sepenuhnya pulih, hadirnya bantuan yang tepat sasaran mampu mengurangi beban masyarakat dan memberikan rasa tenang bagi keluarga yang sedang berusaha bangkit.
Tantangan Distribusi di Lapangan
Meski distribusi berjalan lancar, tim PMI masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaannya.
Salah satu kendala utama adalah belum tersedianya tandon air yang dapat digunakan secara bersama oleh masyarakat di beberapa lokasi.
Kondisi ini menyebabkan distribusi harus dilakukan langsung ke wadah penampungan milik warga.
Selain itu, jarak antara sumber air dan lokasi distribusi tergolong cukup jauh sehingga membutuhkan waktu operasional yang lebih panjang.
Tantangan tersebut berdampak pada kebutuhan bahan bakar, tenaga, serta waktu distribusi yang lebih besar dibanding kondisi normal.
Namun demikian, PMI Nagekeo tetap berupaya menjaga layanan agar masyarakat tetap memperoleh air bersih yang dibutuhkan.
Bagi PMI, pelayanan kemanusiaan bukan hanya tentang kehadiran pada saat bencana terjadi, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh dukungan selama proses pemulihan berlangsung.
Komitmen PMI dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar
Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat merupakan bagian penting dari misi kemanusiaan yang dijalankan PMI.
“Bagi PMI, pelayanan kemanusiaan bukan hanya tentang hadir saat bencana terjadi, tetapi juga memastikan masyarakat tetap mendapatkan kebutuhan dasar untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Air bersih merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kesehatan dan kehidupan. Karena itu, PMI Nagekeo terus berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Menurut Kristianus, dukungan berbagai pihak juga sangat diperlukan agar pelayanan kemanusiaan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang masih membutuhkan bantuan selama masa pemulihan pascabencana.
Dampak yang Terus Bertambah
Layanan distribusi air bersih yang dilakukan pada 20 Oktober 2026 merupakan bagian dari rangkaian pelayanan yang telah berlangsung sebelumnya.
Berdasarkan rekapitulasi layanan WASH PMI Kabupaten Nagekeo, distribusi air bersih yang telah dilakukan mencapai 80 ret dengan total volume sebanyak 405.000 liter air bersih.
Pelayanan tersebut telah menjangkau 12.342 penerima manfaat di berbagai wilayah terdampak.
Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih masih menjadi salah satu fokus utama dalam respons kemanusiaan pascabencana.
Melalui layanan yang berkelanjutan, PMI berupaya memastikan masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar selama masa pemulihan berlangsung.
Menjaga Martabat dan Kesehatan Masyarakat
Bagi sebagian orang, air mungkin hanya dipandang sebagai kebutuhan harian biasa. Namun dalam situasi bencana, air memiliki makna yang lebih luas.
Air bersih menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat, mencegah penyebaran penyakit, mendukung kebersihan lingkungan, sekaligus mempertahankan martabat manusia.
Karena itulah distribusi air bersih tidak sekadar kegiatan logistik.
Di balik setiap liter air yang disalurkan, terdapat upaya untuk memastikan masyarakat tetap dapat menjalani kehidupan secara layak di tengah masa-masa sulit.
PMI Kabupaten Nagekeo berharap layanan WASH yang terus berjalan dapat membantu mempercepat proses pemulihan masyarakat terdampak gempa bumi Flores. Dengan akses air bersih yang lebih baik, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk menjaga kesehatan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik pascabencana.

Post a Comment