Tak Hanya Rumah, Rasa Aman Warga Nagekeo Ikut Terguncang Pascagempa
ANEWS.co, NAGEKEO – Guncangan gempa telah berlalu, tetapi dampaknya belum sepenuhnya pergi dari kehidupan masyarakat Desa Olaia, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Di tengah upaya kembali menjalani rutinitas, sebagian warga masih menyimpan ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam proses pemulihan masyarakat pascabencana. Sebab, dampak sebuah gempa tidak selalu terlihat dalam bentuk kerusakan fisik. Ada pula rasa aman yang terguncang dan membutuhkan waktu untuk dibangun kembali.
Pada Selasa, 29 September 2026, Tim Layanan Dukungan Psikososial atau Psychosocial Support Services (PSS) Palang Merah Indonesia (PMI) melakukan asesmen sekaligus pendampingan kepada masyarakat di Dusun 4, RT 007, Desa Olaia.
Sebanyak 57 penyintas mengikuti layanan tersebut. Jumlah itu terdiri atas 25 anak dan 32 orang dewasa. Dari kelompok warga dewasa, tujuh di antaranya merupakan lanjut usia.
Pendampingan dilakukan melalui pendekatan sederhana dan ramah. Tim memberi ruang agar masyarakat dapat menyampaikan pengalaman ketika menghadapi gempa, perasaan yang muncul setelah peristiwa tersebut, hingga kebutuhan yang dirasakan saat memasuki masa pemulihan.
Anak-anak Masih Membutuhkan Rasa Aman
Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak. Tim berusaha memahami berbagai perasaan yang muncul ketika mereka kembali mengingat kejadian gempa.
Rasa takut dan kekhawatiran masih ditemukan dalam proses pendampingan. Beberapa anak membutuhkan dukungan serta keberadaan orang dewasa yang mampu membantu mereka mendapatkan kembali rasa aman di lingkungan tempat tinggalnya.
Bagi anak, bencana tidak selalu mudah dipahami sebagaimana orang dewasa melihat sebuah peristiwa. Karena itu, pendampingan dilakukan tanpa memberikan tekanan, melainkan dengan menyediakan kesempatan untuk mengenali dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan.
Sementara itu, pendekatan terhadap kelompok dewasa diarahkan pada situasi yang mereka hadapi dalam kehidupan keluarga setelah gempa.
Ibu-ibu diajak berbicara mengenai kondisi keluarga, keselamatan anggota keluarga, kekhawatiran yang mereka rasakan, serta bagaimana kehidupan sehari-hari dijalankan selama proses pemulihan.
Salah satu perasaan yang masih muncul adalah kekhawatiran terhadap kemungkinan gempa susulan.
Kondisi emosional tersebut berjalan beriringan dengan perubahan aktivitas masyarakat. Sejumlah rutinitas produktif warga sempat berhenti setelah gempa.
Aktivitas menenun dan bertani menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang terdampak. Sebagian warga lebih banyak menjalankan kegiatan rumah tangga sambil berusaha perlahan menata kembali rutinitas mereka.
Situasi ini menunjukkan bagaimana dampak gempa dapat merambat dari rasa takut menuju aktivitas keseharian. Ketika rasa aman terganggu, masyarakat tidak serta-merta dapat kembali menjalankan rutinitas seperti sebelum bencana.
Lansia Membutuhkan Perhatian
Kelompok lanjut usia menghadapi tantangan tersendiri.
Tujuh lansia termasuk dalam warga dewasa yang menerima layanan psikososial. Selain menghadapi rasa takut, mereka membutuhkan perhatian, pendampingan, serta lingkungan keluarga yang dapat membantu menghadirkan kembali perasaan aman.
Dalam kondisi seperti itu, mendengarkan menjadi bagian penting dari pendampingan.
“Mendengarkan menjadi langkah awal untuk menemani masyarakat dalam proses pemulihan. Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan secara fisik, tetapi juga ruang yang aman untuk bercerita dan merasa didengar,” ungkap Farah dari Tim Layanan Dukungan Psikososial PMI.
Pernyataan tersebut menggambarkan sisi pemulihan pascabencana yang sering kali tidak tampak secara kasatmata.
Setelah keadaan mulai berangsur tenang, pengalaman menghadapi gempa dapat tetap berada dalam ingatan penyintas. Anak-anak dapat kembali merasa takut ketika mengingat guncangan, orang tua mengkhawatirkan keselamatan keluarganya, sedangkan lansia membutuhkan pendampingan untuk kembali merasa nyaman.
Karena itu, proses mendengarkan tidak dimaksudkan sebatas mengumpulkan cerita warga.
Informasi yang diperoleh melalui asesmen menjadi dasar bagi Tim PSS untuk menentukan bentuk dukungan berikutnya sesuai kebutuhan masyarakat.
Bersinergi dengan Relawan Nagekeo
Dalam pelaksanaan layanan di Desa Olaia, Tim PSS PMI Pusat yang terdiri atas El dan Farah bersinergi dengan relawan PMI Kabupaten Nagekeo, Ici dan Risa.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendampingi warga melewati tahapan pemulihan setelah gempa.
Keberadaan relawan di tengah masyarakat juga membuka ruang interaksi yang lebih dekat. Mereka tidak hanya melihat kondisi penyintas berdasarkan angka penerima manfaat, tetapi berhadapan langsung dengan pengalaman dan kebutuhan setiap kelompok masyarakat.
Bagi anak, kebutuhan tersebut dapat berupa keberadaan orang dewasa yang memberikan rasa aman. Bagi ibu-ibu, ruang bercerita dapat digunakan untuk menyampaikan kecemasan tentang keluarga. Sedangkan bagi lansia, perhatian serta pendampingan menjadi bagian penting untuk menghadapi ketakutan setelah bencana.
Pemulihan pada akhirnya tidak sebatas mengembalikan kondisi fisik.
Aktivitas bertani yang sempat terhenti perlu kembali berjalan. Kegiatan menenun yang menjadi keseharian sebagian masyarakat perlu kembali dilakukan. Namun bersamaan dengan itu, warga juga membutuhkan proses untuk mendapatkan kembali keyakinan bahwa mereka bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang.
Di Desa Olaia, proses tersebut dilakukan secara bertahap.
Tidak ada anggapan bahwa kecemasan dapat hilang hanya dalam satu pertemuan. Asesmen justru menjadi awal untuk memahami apa yang dirasakan masyarakat serta menentukan dukungan yang dibutuhkan berikutnya.
Kehadiran layanan psikososial diharapkan membantu warga perlahan membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri setelah menghadapi gempa.
Sebab, setelah bencana, membangun kembali tidak hanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat. Di dalam diri penyintas juga terdapat rasa aman yang mungkin ikut runtuh dan harus disusun kembali.
Bagi 57 penyintas Desa Olaia yang mengikuti pendampingan, kesempatan untuk bercerita dan didengarkan menjadi salah satu langkah menuju proses tersebut.
Penulis: Farah
Editor: Redaksi
Post a Comment