Pascabencana, Memulihkan Fasilitas Kesehatan Sama Pentingnya dengan Membangun Kembali Rumah
ANEWS.co, MANGGARAI – Ketika bencana terjadi, kerusakan rumah dan infrastruktur biasanya menjadi pemandangan yang paling mudah terlihat. Bangunan rusak dapat didata, kebutuhan pengungsian dapat dihitung, sementara bantuan pangan dan perlengkapan darurat dapat segera disalurkan.
Namun, pemulihan pascabencana mempunyai tantangan lain yang tidak kalah penting: bagaimana memastikan layanan dasar masyarakat tetap berjalan ketika fasilitas yang biasa digunakan belum sepenuhnya pulih.
Pelayanan kesehatan merupakan salah satunya.
Situasi di Puskesmas Ketang, Kabupaten Manggarai, memberikan gambaran mengenai tantangan tersebut. Pascagempa pada 15 Agustus 2026, pelayanan kepada masyarakat tetap harus berlangsung meskipun fasilitas yang tersedia mengalami keterbatasan.
Tenda dan terpal akhirnya menjadi bagian dari ruang pelayanan sementara.
Dalam kondisi seperti itu, pertanyaannya bukan hanya bagaimana memperbaiki sebuah bangunan puskesmas.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagaimana memastikan masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan selama proses pemulihan berlangsung?
Bencana Tidak Menghentikan Kebutuhan Berobat
Salah satu persoalan dalam penanganan pascabencana adalah kebutuhan masyarakat tidak ikut berhenti ketika fasilitas mengalami gangguan.
Orang tetap membutuhkan pemeriksaan.
Pasien tetap membutuhkan perawatan.
Tenaga kesehatan tetap harus bekerja.
Kebutuhan rawat jalan maupun rawat inap juga tetap ada.
Di Puskesmas Ketang, data pelayanan mencatat sebanyak 111 pasien, terdiri atas 36 laki-laki dan 75 perempuan, masih mendapatkan pelayanan kesehatan.
Angka tersebut memberikan pesan penting bahwa mempertahankan keberlangsungan pelayanan kesehatan perlu berjalan beriringan dengan pemulihan infrastruktur.
Sebab di balik sebuah bangunan puskesmas terdapat fungsi yang jauh lebih penting, yakni pelayanan kepada masyarakat.
Tenda Darurat Bukan Sekadar Tempat Berteduh
Pascabencana, fasilitas sementara sering dipandang sekadar sebagai solusi darurat.
Padahal, sebuah tenda dapat mengambil fungsi yang sangat penting ketika bangunan pelayanan belum dapat digunakan secara optimal.
Kepala Puskesmas Ketang, Ignasius M. Hurint, A.Md.Kep, menjelaskan bahwa pada awal penanganan, dua unit terpal dari PMI Kabupaten Manggarai digunakan sebagai sarana pelayanan kesehatan di luar gedung.
Puskesmas juga mendapatkan bantuan tenda dari BNPB. Namun, keterbatasan kapasitas membuat sejumlah kebutuhan pelayanan harus menggunakan fasilitas sementara secara bersamaan.
Tambahan satu tenda yang kemudian disalurkan PMI digunakan untuk mendukung ruang rawat inap sehingga pelayanan dapat dipisahkan dari rawat jalan.
Dalam konteks pemulihan, keberadaan fasilitas tersebut mempunyai fungsi lebih besar daripada sekadar menyediakan ruang tambahan.
Pemisahan fungsi ruangan membantu pelayanan menjadi lebih tertata sekaligus memberikan ruang yang lebih sesuai bagi pasien maupun petugas kesehatan.
Fasilitas Kesehatan Harus Masuk Prioritas Pemulihan
Pemulihan pascabencana sering membutuhkan prioritas karena kerusakan terjadi pada banyak sektor dalam waktu bersamaan.
Rumah warga perlu diperbaiki. Sekolah harus kembali digunakan. Jalan dan fasilitas umum membutuhkan penanganan. Kebutuhan air, sanitasi dan tempat tinggal juga harus dipenuhi.
Di tengah banyaknya kebutuhan tersebut, fasilitas kesehatan seharusnya mendapatkan perhatian tersendiri.
Alasannya sederhana.
Layanan kesehatan merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang tidak dapat menunggu hingga seluruh proses rekonstruksi selesai.
Ketika puskesmas mengalami keterbatasan ruang, kapasitas pelayanan ikut menghadapi tekanan. Ketika pelayanan terganggu, dampaknya langsung dirasakan masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan atau perawatan.
Karena itu, pemulihan puskesmas bukan hanya persoalan pembangunan gedung.
Pemulihan juga berkaitan dengan bagaimana fungsi pelayanan dapat dipertahankan sejak fase darurat hingga fasilitas permanen kembali optimal.
Kolaborasi Menjadi Penting
Pengalaman Puskesmas Ketang juga memperlihatkan bahwa pemulihan layanan dasar tidak dapat hanya dibebankan kepada satu lembaga.
Puskesmas menyediakan tenaga dan pelayanan kesehatan. Pemerintah serta lembaga kebencanaan mempunyai peranan dalam penyediaan sarana. Organisasi kemanusiaan dapat membantu memenuhi kebutuhan yang masih terdapat di lapangan.
Dalam pendirian tenda tambahan di Puskesmas Ketang, tujuh personel PMI bekerja bersama jajaran puskesmas.
Kolaborasi semacam ini penting bukan hanya karena mempercepat pekerjaan di lapangan, tetapi juga membantu menutup kesenjangan kebutuhan selama masa transisi.
Bencana dapat menyebabkan kebutuhan berubah dengan cepat.
Sarana yang cukup pada hari pertama belum tentu mencukupi ketika jumlah layanan meningkat atau ketika fasilitas sementara harus digunakan dalam waktu lebih panjang.
Karena itu, pemantauan kebutuhan secara berkala menjadi sama pentingnya dengan distribusi bantuan itu sendiri.
Jangan Ukur Pemulihan Hanya dari Bangunan
Ada kecenderungan melihat keberhasilan pemulihan melalui indikator yang mudah dihitung.
Berapa rumah telah dibangun?
Berapa sekolah telah diperbaiki?
Berapa kilometer jalan kembali bisa digunakan?
Berapa fasilitas kesehatan selesai direhabilitasi?
Indikator tersebut tentu penting. Namun, pembangunan fisik seharusnya tidak menjadi satu-satunya ukuran.
Untuk fasilitas kesehatan, pertanyaannya perlu diperluas:
Apakah masyarakat sudah mendapatkan kembali akses pelayanan yang memadai?
Apakah pelayanan rawat jalan dan rawat inap dapat dilakukan dengan baik?
Apakah tenaga kesehatan mempunyai ruang yang mendukung pelayanan?
Apakah kelompok masyarakat yang membutuhkan perawatan dapat menjangkau fasilitas kesehatan?
Dengan perspektif tersebut, pemulihan menjadi berorientasi kepada fungsi dan manusia, bukan sekadar bangunan.
Dari Respons Darurat Menuju Ketahanan Layanan
Tenda rawat inap di Puskesmas Ketang merupakan solusi sementara.
Namun, situasi tersebut dapat menghasilkan pelajaran untuk penanganan bencana berikutnya.
Setiap daerah yang mempunyai risiko bencana membutuhkan kesiapan untuk mempertahankan fungsi layanan dasar ketika bangunan permanen tidak dapat digunakan.
Kesiapan itu dapat mencakup pemetaan fasilitas alternatif, sarana pelayanan sementara, tenaga kesehatan, logistik, sistem rujukan hingga koordinasi antarinstansi.
Artinya, pengalaman bencana tidak seharusnya hanya menghasilkan proses rekonstruksi.
Pengalaman tersebut juga perlu menjadi bahan evaluasi untuk membangun sistem pelayanan yang lebih tangguh menghadapi keadaan berikutnya.
Pemulihan pada Akhirnya Tentang Manusia
Rumah, sekolah, puskesmas dan jalan merupakan bagian penting dari sebuah wilayah.
Namun, seluruh infrastruktur itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Karena itu, pemulihan pascabencana seharusnya mempunyai tujuan yang lebih luas daripada mengembalikan kondisi fisik seperti sebelum bencana.
Pemulihan harus memastikan masyarakat dapat kembali tinggal dengan aman, anak-anak dapat belajar, aktivitas ekonomi berjalan, dan mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan tetap mendapatkan pertolongan.
Pengalaman Puskesmas Ketang memberikan gambaran sederhana mengenai prinsip tersebut.
Ketika ruang permanen menghadapi keterbatasan, pelayanan tidak bisa ikut berhenti.
Tenda mungkin hanya menjadi solusi sementara. Kelak, ketika fasilitas permanen kembali berfungsi, tenda tersebut akan dibongkar.
Namun, ada satu prinsip yang semestinya tetap dipertahankan:
Dalam setiap pemulihan pascabencana, yang terutama dipulihkan bukan hanya bangunan, melainkan fungsi pelayanan dan kehidupan masyarakat yang bergantung di dalamnya.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Post a Comment