Gedung Retak Pasca-Gempa, Terpal PMI Jadi Kelas


ANEWS.co, NAGEKEO — Pemulihan pascabencana gempa bumi berskala besar di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menuntut penanganan yang komprehensif, khususnya dalam mengamankan hak-hak dasar anak atas akses pendidikan yang aman. Kerusakan struktural pada pilar dan dinding bangunan permanen memicu kekhawatiran besar akan terjadinya keruntuhan bangunan apabila terjadi guncangan susulan. Merespons kondisi kritis ini, sinergi guru dan lembaga kemanusiaan diwujudkan dengan mendirikan ruang kelas darurat memanfaatkan logistik tanggap darurat di area terbuka hijau, demi meminimalisasi bahaya sekaligus memulihkan trauma mental para murid secara bertahap.
Pendirian fasilitas belajar sementara ini memanfaatkan lingkungan alam terbuka di kawasan daratan Flores yang terdampak. Selembar terpal putih terbentang di antara pepohonan. Beberapa batang bambu menjadi penyangga. Di bawahnya, belasan anak duduk berkelompok dengan buku dan alat tulis di hadapan mereka. Keputusan tidak menggunakan bangunan tertutup diambil sebagai bentuk mitigasi kebencanaan taktis guna mengeliminasi risiko cedera fisik bagi komunitas sekolah.
Lingkungan belajar darurat ini sangat jauh dari kata mewah ataupun memenuhi kriteria ruang kelas standar pada umumnya. Tidak ada dinding. Tidak ada pintu. Fasilitasnya pun sangat terbatas. Para siswa terpaksa membiasakan diri menulis dan membaca tanpa ditopang oleh meja kursi kayu yang biasa mereka gunakan. Namun, pagi itu ruang sederhana tersebut kembali dipenuhi suara anak-anak yang belajar, bercanda, dan sesekali tertawa.
Optimalisasi lembaran terpal putih berspesifikasi kedaruratan dari Palang Merah Indonesia menjadi tulang punggung bagi kelangsungan proses pembalutan trauma psikologis para siswa sekolah dasar. Terpal bantuan Palang Merah Indonesia (PMI) itu kini menjadi bagian dari ruang belajar sementara bagi siswa SDK Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.
Langkah intervensi di sektor pendidikan darurat ini memberikan dampak sosiologis yang sangat masif bagi stabilitas emosi anak-anak pengungsi. Bagi anak-anak, ruang belajar itu bukan sekedar tempat untuk mengikuti pelajaran. Di tengah rasa takut yang masih tersisa, terpal tersebut menjadi ruang yang membantu mereka perlahan kembali menjalani rutinitas. Kehadiran sekolah darurat ini mengikis kejenuhan mental yang sempat melanda anak-anak akibat terlalu lama mendekam di posko kedaruratan tertutup.
Komunikasi dan kebersamaan yang terjalin erat di antara sesama teman sebaya terbukti ampuh dalam menurunkan ketegangan biologis anak pascatragedi alam. Mereka dapat kembali bertemu teman, mendengarkan guru, membuka buku, mengerjakan tugas, dan bermain bersama tanpa harus masuk ke bangunan sekolah yang masih membuat sebagian dari mereka merasa khawatir. Guru pengajar secara aktif menyelipkan edukasi kebencanaan dasar agar anak-anak tahu cara menyelamatkan diri secara mandiri.
Florentina Tey, guru SDK Aeramo, memahami bahwa belajar di bawah terpal tentu jauh dari kondisi ruang kelas yang ideal. Namun, dalam situasi pascabencana, kesempatan untuk kembali belajar menjadi sesuatu yang sangat berarti. Dedikasi moral yang ditunjukkan oleh para pendidik lokal ini menjadi pilar utama penopang asa generasi muda agar tetap dapat memetakan masa depan mereka di tengah keterbatasan sarana logistik pascabencana yang ada.
“Walaupun sederhana dan terbatas, lumayan untuk sekadar belajar. Daripada di rumah, sementara di dalam kelas belum bisa masuk,” ujar Florentina.
Upaya membangun kembali mental anak-anak pasca-trauma membutuhkan ketekunan, empati, dan kehadiran ruang yang suportif dari lingkungan sekitar. Gempa tidak hanya mengubah kondisi bangunan sekolah. Bagi anak-anak, bencana juga meninggalkan rasa takut dan ketidakpastian. Karena itu, pemulihan tidak selalu dimulai dari bangunan yang kembali berdiri. Terkadang, pemulihan dimulai dari hal sederhana: menyediakan ruang yang cukup aman bagi anak untuk kembali duduk bersama teman-temannya dan membuka buku.
Bela, salah seorang siswa kelas 5 SDK Aeramo, mengaku senang bisa kembali mengikuti kegiatan belajar. Namun, rasa takut masih ada. Ungkapan tulus ini menjadi catatan penting bagi instansi kedinasan terkait untuk segera menghadirkan tim ahli konseling trauma (trauma healing) guna mendampingi pemulihan psikologis secara berkala bagi anak-anak korban gempa di Nagekeo.
“Senang saya bisa kumpul dan belajar bareng teman-teman saya, tetapi sampai saat ini masih takut kalau belajar di dalam kelas,” katanya.
Proses rekonstruksi semangat literasi anak dijalankan secara teliti dan bertahap di bawah bimbingan langsung para relawan kemanusiaan. Pengakuan sederhana itu menunjukkan bahwa proses kembali pulih membutuhkan waktu. Bagi anak-anak terdampak bencana, kembali belajar adalah bagian dari proses membangun kembali rasa percaya diri dan keberanian. Di bawah terpal PMI, proses itu berlangsung perlahan.
Setiap aktivitas instruksional harian di bawah naungan terpal putih ini diwarnai oleh antusiasme tinggi dari para peserta didik. Ada anak yang serius membaca. Ada yang mengerjakan tugas. Ada yang memperhatikan guru. Ada pula yang bercanda dengan teman di sela-sela pelajaran. Kondisinya memang belum sempurna. Panas matahari masih terasa. Tanah dan dedaunan menjadi bagian dari lantai. Fasilitas belajar pun terbatas.
Tetapi ruang sederhana tersebut memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk tetap mendapatkan haknya untuk belajar sekaligus kembali merasakan suasana sekolah. Kolaborasi yang harmonis ini memastikan bahwa proses transisi menuju fase pemulihan jangka panjang dapat dilalui dengan penuh optimisme.
Bagi PMI, dukungan pascabencana bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dasar. Pemulihan juga berarti membantu masyarakat terdampak untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari secara bertahap. Termasuk memastikan anak-anak memiliki ruang untuk belajar, berinteraksi, dan membangun kembali rasa aman setelah mengalami bencana. Manajemen pengiriman logistik penunjang pendidikan darurat akan terus dimatangkan demi efisiensi penanganan bencana di Flores.
Terpal itu mungkin hanya sementara. Tetapi bagi anak-anak Aeramo, keberadaannya menjadi bagian dari langkah kecil untuk kembali bangkit. Di bawah terpal putih tersebut, sekolah perlahan kembali hidup. Buku-buku kembali terbuka. Guru kembali mendampingi. Teman-teman kembali berkumpul. Dan di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, anak-anak Aeramo kembali belajar bukan hanya tentang pelajaran di dalam buku, tetapi juga tentang keberanian untuk melangkah maju setelah bencana. Karena pemulihan tidak selalu dimulai dari bangunan yang kembali berdiri. Kadang, pemulihan dimulai dari sebuah ruang sederhana yang membuat seorang anak merasa aman untuk kembali belajar.

Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Gedung Retak Pasca-Gempa, Terpal PMI Jadi Kelas
  • Gedung Retak Pasca-Gempa, Terpal PMI Jadi Kelas
  • Gedung Retak Pasca-Gempa, Terpal PMI Jadi Kelas
  • Gedung Retak Pasca-Gempa, Terpal PMI Jadi Kelas
  • Gedung Retak Pasca-Gempa, Terpal PMI Jadi Kelas
  • Gedung Retak Pasca-Gempa, Terpal PMI Jadi Kelas

Post a Comment