67 Warga Nanga Na’e Diperiksa, Petugas Temukan ISPA hingga Diabetes
ANEWS.co, MANGGARAI – Pemeriksaan terhadap 67 warga Nanga Na’e menemukan sejumlah keluhan kesehatan, mulai dari ISPA hingga diabetes melitus, Kamis (24/9/2026).
Pelayanan kesehatan di Dusun Nanga Na’e, Desa Para Lando, tersebut dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai. Lima personel layanan kesehatan yang dikoordinasikan dokter Nugroho Budiawan melakukan pemeriksaan, memberikan edukasi kesehatan, serta penanganan awal sesuai kondisi warga.
Dari pemeriksaan tersebut, petugas menemukan sejumlah keluhan berupa myalgia atau nyeri otot, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dispepsia, gastritis, hipertensi, diabetes melitus, serta sefalgia atau sakit kepala.
Salah seorang warga, Kamarudin Depek Mukhtar, datang dengan luka pada kaki. Ia mengaku luka tersebut dialami setelah terkena hantaman bangunan ketika membersihkan puing rumahnya yang rusak parah.
"Saya memeriksa kaki yang luka dan sudah infeksi karena terlalu lama. Kaki luka karena dihantam bangunan saat membersihkan rumah yang rusak. Tadi kaki saya dibersihkan, diberi salep dan obat supaya cepat sembuh," kata Depek.
Selain menangani keluhan kesehatan fisik, PMI Kabupaten Manggarai memberikan layanan dukungan psikososial atau Psychosocial Support Service (PSS) bagi warga terdampak bencana.
Relawan PMI Kabupaten Manggarai, Lediana Jelihat, mengatakan layanan tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Orang dewasa mengikuti focus group discussion (FGD), sedangkan anak-anak mengikuti kegiatan ekspresif dan kreatif berupa bermain dan bernyanyi.
"Kami dari layanan PSS membagi kelompok menjadi dua, yaitu FGD untuk orang dewasa dan kegiatan ekspresif kreatif berupa bermain dan bernyanyi untuk anak-anak," ujar Lediana.
Pendampingan tersebut turut mengungkap sejumlah persoalan yang masih dihadapi warga. Menurut Lediana, sebanyak 76 kepala keluarga (KK) mengalami kerusakan berat pada rumah mereka.
Tim juga mencatat persoalan sampah yang berserakan di sekitar posko, banjir akibat luapan Kali Wae Kuli, serta kecemasan terhadap gempa susulan.
"Kami menemukan ada 76 KK yang rumahnya rusak berat, sampah yang berserakan di sekitar posko, sering terjadi banjir yang disebabkan oleh luapan air Kali Wae Kuli, serta tingkat kecemasan guru saat gempa susulan masih tinggi yang terlihat dari tingkat stresnya," kata Lediana.
Persoalan sampah turut disoroti Komandan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Desa Para Lando, Viviani Astri. Ia mengatakan belum tersedianya wadah penampungan sampah dan tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi salah satu persoalan di Nanga Na’e.
"Di sini memang sampah berserakan karena tidak adanya tempat sampah dan TPA. Apalagi kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan terkait sampah masih kurang. Saya berharap PMI Kabupaten Manggarai bisa memberikan solusi terkait hal ini dengan memberikan bantuan berupa plastik sampah," ujar Viviani.
Temuan di lapangan menunjukkan kebutuhan warga pascabencana tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan. Kerusakan rumah, kondisi psikososial, banjir, dan persoalan pengelolaan sampah juga menjadi bagian dari situasi yang masih dihadapi masyarakat Nanga Na’e.
Penulis: Edho
Post a Comment