460 Warga Masih Bertahan Usai Gempa Manggarai Timur, Dapur Umum Disiapkan

Sebanyak 460 warga masih bertahan di pengungsian gempa Manggarai Timur. Dapur umum dan 20 relawan disiapkan untuk menjaga kebutuhan makanan warga.
Kehidupan 460 pengungsi dan keberlanjutan pemenuhan kebutuhan dasar.

ANEWS.co, MANGGARAI TIMUR – Sebanyak 460 warga masih bertahan di pengungsian setelah gempa mengguncang wilayah Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Di tengah kehidupan yang belum sepenuhnya kembali normal, dapur umum mulai dipersiapkan untuk menjaga kebutuhan makanan warga.

Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai Timur melakukan berbagai persiapan di lokasi pengungsian Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Sabtu (26/9/2026).

Persiapan mencakup lokasi dapur umum, peralatan memasak, bahan makanan, hingga koordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pelayanan kepada masyarakat terdampak.

Kepala Markas PMI Kabupaten Manggarai Timur, Alfred Tuname, mengatakan jumlah warga yang berada di pengungsian bersifat dinamis.

Pada awalnya, menurut Alfred, jumlah pengungsi mencapai sekitar 700 jiwa. Saat ini jumlahnya sekitar 460 jiwa.

“Berdasarkan data, jumlah pengungsi awalnya sebanyak 700 jiwa, tetapi sekarang ada 460 jiwa. Ini fluktuatif atau berubah-ubah tergantung kondisi gempa,” kata Alfred.

Ketika keadaan relatif tenang, sebagian warga memilih pulang untuk sementara. Mereka melihat kondisi rumah, memberi makan ternak, serta memeriksa kebun dan sawah yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarga.

Namun, kepulangan itu belum sepenuhnya berarti mereka merasa aman.

“Tapi kalau ada gempa susulan, para pengungsi akan kembali,” lanjut Alfred.

Situasi tersebut membuat pelayanan dasar harus senantiasa menyesuaikan kondisi warga. Pengalaman di wilayah terdampak lainnya menunjukkan bahwa air bersih juga menjadi kebutuhan penting warga selama berada di pengungsian, termasuk untuk memasak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

20 Relawan Disiapkan Kelola Dapur Umum

Menurut Alfred, pengelolaan dapur umum selanjutnya direncanakan dilakukan PMI berdasarkan permintaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Timur.

Dapur umum sebelumnya ditangani TNI AD. Berdasarkan keterangan Alfred, masa tugas tim tersebut dijadwalkan berakhir pada 29 September 2026.

“Dapur umum rencananya akan dikelola oleh PMI berdasarkan permintaan dari BPBD untuk mengatur manajemen dapur umum,” ujarnya.

Persiapan dilakukan lebih awal agar pergantian pengelolaan tidak memutus pelayanan makanan bagi warga yang masih berada di pengungsian.

Pengelolaan nantinya melibatkan koordinasi dengan BPBD, Dinas Sosial, unsur penanggulangan bencana, serta masyarakat setempat.

Sebanyak 20 relawan disiapkan untuk menjalankan pelayanan dapur umum.

Mereka akan menjalani on the job training atau pelatihan langsung di lokasi pengungsian sebelum bertugas secara bergiliran.

“Jumlah relawan yang akan dimobilisasi sebanyak 20 orang dalam mengelola dapur umum yang akan di-OJT di lokasi pengungsian, dan nanti akan bergulir setiap satu minggu,” jelas Alfred.

Selain itu, tiga personel akan disiagakan untuk membantu administrasi dan melakukan kontrol pelayanan.

Pengaturan tersebut menjadi penting karena dapur umum bukan sekadar tempat memasak. Di tengah pengungsian, keberadaannya menjadi bagian dari upaya memastikan warga tetap mendapatkan makanan secara teratur ketika rutinitas keluarga mereka terputus akibat bencana.

Kebutuhan Warga Tak Berhenti pada Makanan

Di balik persiapan dapur umum, ada kebutuhan lain yang dirasakan warga dari malam ke malam.

Maria Saida (43) mengatakan telah lebih dari satu bulan tinggal di pengungsian.

Ketika keadaan relatif tenang, Maria bersama suaminya sesekali pulang untuk melihat ternak dan memeriksa sawah.

“Saya sudah satu bulan lebih tinggal di posko. Ketika tidak ada gempa, saya kembali ke rumah melihat dan memberi makan ternak dan ke sawah. Setelah itu kembali lagi ke posko pengungsian,” tutur Maria.

Malam menjadi waktu yang tidak mudah bagi keluarganya.

Maria mengatakan banyaknya nyamuk membuat mereka kesulitan tidur. Anak Maria bahkan kerap terbangun dan menangis karena keluarga tersebut masih beristirahat di atas tanah dengan terpal sebagai alas.

“Kami di sini susah tidur karena banyak nyamuk. Apalagi anak saya sering bangun dan menangis tengah malam karena tidur langsung di tanah dengan alas terpal,” ungkapnya.

Maria berharap mendapatkan matras dan kelambu. Ia juga menitipkan harapan agar kebutuhan khusus perempuan dan ibu menyusui mendapatkan perhatian selama berada di pengungsian.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana perlu melihat manusia secara utuh. Di daerah terdampak gempa lainnya, relawan juga menjalankan pendampingan kesehatan dan psikososial bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas. 

Pengungsi lain, Yosefina Herlin (37), menghadapi kenyataan yang lebih berat. Ia mengatakan dua rumah miliknya hancur akibat gempa.

“Saya punya rumah dua buah, hancur semua akibat gempa. Kami tidak kembali ke sana dan memilih tetap di sini karena tidak ada lagi yang bisa kami tinggali,” tutur Yosefina.

Sesekali ia tetap kembali untuk melihat ternak dan sawah. Namun, setelah itu, Yosefina harus kembali ke pengungsian karena tidak lagi memiliki rumah yang dapat ditempati.

Dapur umum karena itu menjadi satu bagian dari kebutuhan warga yang jauh lebih luas.

Makanan harus tersedia, tetapi tempat beristirahat yang layak, matras, kelambu, kesehatan, serta perlindungan bagi perempuan, anak, ibu menyusui, dan kelompok rentan juga menjadi bagian dari perjalanan panjang warga untuk kembali menjalani kehidupan dengan aman.

Penulis: Edho 
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • 460 Warga Masih Bertahan Usai Gempa Manggarai Timur, Dapur Umum Disiapkan
  • 460 Warga Masih Bertahan Usai Gempa Manggarai Timur, Dapur Umum Disiapkan
  • 460 Warga Masih Bertahan Usai Gempa Manggarai Timur, Dapur Umum Disiapkan
  • 460 Warga Masih Bertahan Usai Gempa Manggarai Timur, Dapur Umum Disiapkan
  • 460 Warga Masih Bertahan Usai Gempa Manggarai Timur, Dapur Umum Disiapkan
  • 460 Warga Masih Bertahan Usai Gempa Manggarai Timur, Dapur Umum Disiapkan

Post a Comment