Ratusan Anggota Keluarga Besar Bani H. Hasyim Kalirong Gelar Reuni dan Silaturahim di Tulungagung
ANEWS.co, TULUNGAGUNG – Suasana khidmat dan penuh kehangatan menyelimuti Pondok Pesantren Daruttaibin, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Ratusan anggota keluarga besar Bani H. Hasyim Kalirong berkumpul bersama untuk menggelar kegiatan reuni akbar dan silaturahim pada Minggu (07/01/2026).
Acara monumental ini dihadiri oleh sekitar 300 anggota keluarga yang tersebar dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jember, Tulungagung, Nganjuk, Malang, Trenggalek, Pasuruan, hingga Kediri. Momentum setahun sekali ini menjadi sarana penting untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus menjaga keistiqomahan antar-generasi.
Rangkaian Acara Penuh Khidmat dan Nilai Tradisi
Kegiatan diawali sejak pagi hari dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang diikuti secara khusyuk oleh seluruh keluarga besar yang hadir. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Kyai Zainul Fuad.
Sebagai bagian utama dari penguatan spiritual, acara kemudian diisi dengan Mauidhoh Hasanah (ceramah agama) oleh KH. Bahauddin. Sesi ini memberikan siraman rohani yang mendalam mengenai hakikat kehidupan dunia.
Setelah ceramah selesai, panitia membacakan silsilah (silsilah keluarga) Bani H. Hasyim Kalirong. Sesi ini bertujuan agar bibit-bibit generasi muda tetap mengenali garis keturunan, akar sejarah keluarga, serta menjaga hubungan komunikasi yang harmonis meskipun terpisah jarak geografis. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah.
Apresiasi Tuan Rumah dan Pentingnya Konsistensi Silaturahim
Kyai Abdul Kholik selaku tuan rumah, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas kehadiran seluruh keluarga besar. Beliau mengapresiasi pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, serta harta benda yang telah diberikan demi kelancaran acara ini.
"Kehadiran panjenengan sami (Anda semua) menjadi tambahan amal hasanah. Semoga segala pelayanan dan bantuan yang diberikan dicatat sebagai amal jariyah oleh Allah SWT," ujar Kyai Abdul Kholik dalam sambutannya.
Beliau juga menekankan pentingnya menjaga tradisi pertemuan berkala ini.
"Melalui kegiatan yang digelar setahun sekali ini, awake dewe (kita semua) bisa bertemu dan menyambung silaturahim kembali. Semoga kebersamaan ini terus terjaga ke depannya," imbuhnya.
Perwakilan Panitia Reuni juga menambahkan rasa syukur atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan yang diberikan, sehingga seluruh keluarga besar dari penjuru Indonesia bahkan luar negeri dapat dipertemukan dalam keadaan sehat walafiat.
Pesan KH. Bahauddin: Jadilah Pengembara Cerdas yang Fokus Membawa Sangu Akhirat
Dalam ceramahnya, KH. Bahauddin memberikan pesan mendalam yang menyentuh hati para jemaah. Beliau mengutip salah satu pesan dari Baginda Nabi Muhammad SAW yang mendidik umatnya agar menganggap diri di dunia ini seperti seorang pengembara atau orang yang sedang dalam perjalanan.
"Nabi mengajarkan kita untuk menjadi orang yang kreatif dan ekstra hati-hati. Kita di dunia ini ibarat orang yang sedang merantau atau boro, seperti warga kita yang domisili sementara di Malaysia untuk mencari bekal. Tujuan akhir kita masih jauh, dan sewaktu-waktu dipanggil pulang, kita harus sudah membawa bekal," jelas KH. Bahauddin.
Beliau menjabarkan bahwa orang yang cerdas minimal harus mampu mengondisikan hidupnya untuk rutin mempersiapkan bekal utama guna menghadap Allah SWT (sangu akhirat). KH. Bahauddin mengingatkan agar manusia tidak terjebak mengejar urusan duniawi secara berlebihan hingga melupakan akhirat. Sebagai perbandingan, untuk mencari uang Rp50.000 saja manusia rela kepanasan seharian, sementara urusan akhirat yang nilainya jauh melampaui dunia dan isinya sering kali terabaikan.
Di akhir ceramahnya, beliau memberikan sebuah kisah teladan mengenai pentingnya menghargai waktu demi ibadah. Beliau mengisahkan seorang syekh yang lebih memilih langsung menelan tepung dibanding mengolahnya menjadi roti terlebih dahulu.
Alasan syekh tersebut adalah karena jarak waktu untuk mengunyah roti bisa mengorbankan waktu membaca tasbih sebanyak 70 hingga 80 kali.
"Setiap detik yang terlewatkan tanpa nilai ibadah tidak akan ada gantinya. Oleh karena itu, mari gunakan sisa usia dan kesempatan hidup yang hanya sekali ini dengan sebaik-baiknya," pungkas KH. Bahauddin.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:




Post a Comment