Bukan Santri Biasa! Ratusan Siswa Baru MBS Jetis Ponorogo Digembleng Jadi Relawan Medis Darurat!
ANEWS.co, PONOROGO – Paradigma lama yang mengidentikkan santri hanya dengan aktivitas mengaji kini telah bergeser secara masif. Di era modern ini, ketahanan fisik, kepedulian sosial, serta kecakapan tanggap darurat menjadi indikator utama dalam pembentukan karakter santri yang utuh. Melalui terobosan terbaru, Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Jetis Ponorogo secara resmi menggembleng ratusan santri barunya untuk menjadi garda terdepan penanganan medis darurat di lingkungan asrama.
Program edukasi taktis ini dikemas secara matang melalui agenda Pekan Orientasi Santri Ma’had Muhammadiyah (PORTASIMU) untuk tahun ajaran baru 2026/2027. Bertempat di Kampus 1 Pondok Pesantren MBS Jetis, Jalan Nasional Ponorogo-Trenggalek (Jenderal Sudirman, Jetis), pelatihan maraton ini berlangsung selama tiga hari penuh, mulai dari Senin, 6 Juli 2026 hingga Rabu, 8 Juli 2026. Langkah ini menjadi babak baru bagi dunia pesantren dalam melahirkan generasi yang mandiri dan tangguh bencana.
Transformasi Karakter: Komitmen Mencetak Pemimpin Masa Depan
Pelaksanaan PORTASIMU tahun 2026 ini diikuti secara antusias oleh 83 orang santri baru (85 kurang 2) yang datang dari berbagai latar belakang daerah dan status sosiologis. Bagi anak-anak usia remaja tersebut, hidup komunal di dalam asrama (ma'had) tanpa didampingi orang tua adalah fase krusial yang memerlukan adaptasi moral serta pembentukan kebiasaan harian (habit) yang baru.
Membentuk Mindset Santri yang Tangguh dan Prestasi
Manajemen MBS Jetis menegaskan bahwa orientasi awal tahun ajaran baru tidak boleh terjebak pada aktivitas pengenalan kampus yang monoton. Lembaga pendidikan Islam yang konsisten beroperasi sejak tahun 2016 ini mendesain kurikulum orientasi agar mampu merombak mentalitas santri menjadi lebih kokoh dan disiplin.
Drs. Purnomo, M.Pd. Wakil Direktur III di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, menjelaskan bahwa visi besar pondok adalah menyelaraskan kompetensi akademik dengan kepekaan nurani di lapangan sosial.
"Tujuan kegiatan seluruhnya ini adalah dalam rangka memang untuk memantapkan jiwa santri. Biar mereka memiliki suatu pola pikir (mindset) yang baru, mereka memiliki semangat baru untuk menjadi seorang santri yang harus tekun dan bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu untuk bekal masa depan mereka," urai Purnomo di sela-sela pemantauan materi kelas.
![]() |
| Drs. Purnomo, M.Pd. Wakil Direktur III di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Jetis, Ponorogo, Jawa Timur |
Purnomo menggarisbawahi bahwa tuntutan zaman saat ini bukan lagi sekadar mencari figur yang unggul di satu bidang, melainkan sosok pemimpin multidimensi yang berakhlak mulia.
"Harapan kami mengadakan masa orientasi santri ma'had ini adalah agar para santri nanti betul-betul memiliki karakter-karakter yang baik, mereka disiplin, juga berkarakter akhlakul karimah, dan juga menjadi santri yang tertib, tekun, serta berprestasi. Masa depan membutuhkan pemimpin-pemimpin yang berakhlak, berkarakter, serta memiliki kapasitas intelektual dan keagamaan yang memadai," lanjut Purnomo menegaskan.
Diklat Medis PMI: Penguasaan Teori First Aid dan Praktis Asrama
Guna mewujudkan profil "Santri Bukan Biasa" tersebut, pihak pesantren berkolaborasi secara strategis dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Ponorogo. Sebanyak dua instruktur ahli medis diterjunkan langsung untuk menggembleng santri baru melalui visualisasi data kasus dan praktik simulasi.
Penanganan Cepat Kasus Cedera Fisik Sekolah
Sesi pembekalan pertama diisi dengan kurikulum Pertolongan Pertama (first aid). Materi ini sangat krusial mengingat tingginya mobilitas santri di area sekolah dan asrama, yang rawan menimbulkan kecelakaan fisik minor atau gangguan klinis akibat kelelahan.
Humas sekaligus Pemateri dari PMI Kabupaten Ponorogo, Rika Dwi Nurkhasanah, memaparkan jenis-jenis cedera harian yang wajib dimitigasi secara mandiri oleh para santri tanpa harus menunggu kedatangan tim medis rumah sakit.
"Materi pertolongan pertama tadi kami sampaikan secara umum. Bagaimana mengatasi kalau terjadi cedera-cedera atau luka yang umum terjadi di sekolah sehari-hari. Contoh nyata seperti menangani teman yang pingsan, mengatasi cedera fisik, luka sobek, luka sayat, luka robek, persendian keseleo, hingga penanganan pertama saat terjadi mimisan," jelas Rika Dwi Nurkhasanah.
Implementasi Kurikulum Perawatan Keluarga (PK)
Tantangan riil kehidupan ma'had muncul ketika salah satu santri terjangkit penyakit demam atau influenza di dalam kamar asrama. Mengingat ketiadaan figur ibu dan ayah di lokasi, para santri baru dilatih menggunakan modul Perawatan Keluarga (PK) agar asrama tetap menjadi lingkungan yang aman dan higienis.
"Materi perawatan keluarga itu kami sampaikan secara umum juga, kemudian dikaitkan karena mereka bertempat tinggal di ma'had. Kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi misal mereka itu merawat atau membantu merawat teman-teman mereka ketika sakit di ma'had," tambah Rika.
![]() |
| Antusiame peserta |
Beberapa materi keperawatan dasar (basic care) yang disimulasikan secara berpasangan oleh para santri meliputi:
- Tata cara menyuapi atau memberikan makan secara perlahan kepada rekan yang lemas.
- Prosedur pemberian obat-obatan oral sesuai instruksi asatidz.
- Teknik mendampingi rekan yang sakit saat harus bermobilisasi ke kamar mandi agar tidak tergelincir.
- Protokol kebersihan lingkungan, seperti mengganti sprei tempat tidur pasien secara berkala.
"Harapan kami dengan materi hari ini, mereka bisa langsung mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga membawa manfaat minimal pada saat mereka di ma'had. Karena kan mereka waktu di ma'had itu tidak di bawah pengawasan orang tua, jadi wajib bisa merawat diri dengan baik dan saling membantu kepada teman-temannya," pungkas Rika.
Sinergi Struktural Lembaga dan Resonansi dari Gerakan Santri
Pelatihan gabungan berbasis kepesantrenan ini mendapat pengawalan dan monitoring penuh dari jajaran pengurus markas besar PMI di tingkat kabupaten. Penyelerasan program dinilai menjadi role model yang ideal bagi institusi pendidikan berbasis asrama lainnya di Ponorogo.
Komitmen PMI Ponorogo Mewujudkan Pesantren Siaga
Sekretaris PMI Kabupaten Ponorogo, Sumani, menyatakan dukungannya terhadap visi MBS Jetis yang berani memasukkan kurikulum kesehatan darurat dalam masa orientasi siswa baru. Sinergi ini memperkuat fondasi gerakan kemanusiaan di tingkat akar rumput.
"Kami dari jajaran pengurus dan sekretariat PMI Kabupaten Ponorogo mengapresiasi dan berkomitmen penuh untuk mendukung keberlanjutan program edukasi kesehatan serta ketangguhan bencana di MBS Jetis ini. Melatih santri menjadi relawan medis darurat adalah langkah konkret dalam membangun ekosistem siap siaga di lingkungan pesantren," urai Sumani secara terpisah.
Sumani menambahkan, keterpaduan antara materi kesehatan PMI dan simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dari MDMC akan membuat MBS Jetis tumbuh sebagai salah satu pesantren percontohan yang mandiri dan tanggap darurat.
Testimoni Santri Baru: Mengikis Ketakutan di Kamar Asrama
Dampak dari pelatihan intensif ini dirasakan langsung sebagai sebuah pengalaman berharga oleh para santri baru. Salah satu peserta PORTASIMU yang menolak disebutkan identitas namanya, mengaku bahwa pelatihan medis ini memberikan rasa aman yang tinggi selama masa studinya ke depan.
"Awalnya saya merasa cemas dan bingung, bagaimana kalau nanti saya atau teman satu kamar jatuh sakit sementara orang tua jauh di rumah. Namun, setelah diajari langsung oleh kakak-kakak dari PMI cara merawat orang sakit dan menangani luka, ketakutan saya hilang. Sekarang kami merasa seperti tim relawan kecil di asrama yang siap saling menjaga," aku salah satu peserta santri baru tersebut dengan jujur.
![]() |
| Penyerahan Piaganm Pengharagaandari MBS Jetis Ponorogo kepada PMI |
Melalui kesuksesan pelaksanaan PORTASIMU tahun ajaran 2026/2027 ini, MBS Jetis Ponorogo tidak hanya membuktikan diri sebagai tempat menimba ilmu agama yang kompeten. Lebih dari itu, pesantren ini telah sukses mentransformasikan ratusan siswa barunya untuk siap mengabdi, responsif terhadap krisis, serta terampil dalam menyelamatkan sesama manusia di sekitarnya.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:




Post a Comment