PMI Lumajang Latih 30 Warga Desa PandanArum Jadi Relawan Siaga Bencana
anews.co, Lumajang – Ancaman bencana alam, khususnya di sepanjang garis pantai selatan Jawa Timur, menuntut kesiapsiagaan yang tidak bisa ditawar lagi. Menyadari posisi geografisnya yang rentan, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lumajang kembali mengambil langkah taktis untuk memperkuat benteng pertahanan paling awal dalam menghadapi bencana, yaitu masyarakat itu sendiri.
Pada Senin (8/6/2026), PMI Kabupaten Lumajang resmi membuka program pelatihan Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat (KBBM). Tahun ini, program krusial tersebut dipusatkan di Desa PandanArum, Kecamatan Tempeh, sebuah wilayah yang secara geografis berhadapan langsung dengan potensi risiko tinggi bencana tsunami.
Desa PandanArum bukan tanpa alasan dipilih sebagai episentrum pelatihan kali ini. Terletak di kawasan pesisir pantai selatan Lumajang, desa ini menyimpan potensi keindahan alam sekaligus risiko geologis yang nyata. Ketika gempa bumi berskala besar memicu gelombang di lautan, warga lokal adalah orang pertama yang harus tahu cara menyelamatkan diri sebelum bantuan eksternal tiba.
Ketua PMI Kabupaten Lumajang, H. Budi Santoso, SH, M.Si, menekankan bahwa sebagian besar wilayah Lumajang memang berada di zona rawan bencana. Oleh karena itu, pasif menunggu instruksi saat situasi darurat adalah risiko yang terlalu besar.
> "Karena Kabupaten Lumajang sebagian besar wilayahnya berada di daerah rawan bencana, pelatihan KBBM ini dinilai akan sangat membantu pengembangan kapasitas masyarakat. Warga harus dibekali pengetahuan kebencanaan yang matang dan paham betul apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana," jelas Budi Santoso saat membuka acara secara resmi.
Melalui program KBBM ini, PMI Lumajang menargetkan terbentuknya tim SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat)di Desa PandanArum. Tim inilah yang nantinya akan menjadi motor penggerak evakuasi, penyusunan peta risiko desa, hingga jalur koordinasi utama dengan pihak berwenang saat status darurat ditetapkan.
Sebuah langkah mitigasi bencana dianggap berhasil jika tidak meninggalkan satu orang pun di belakang. Prinsip inklusivitas inilah yang menjadi warna utama dalam pelatihan KBBM di Desa PandanArum. Sebanyak 30 peserta yang ikut serta sengaja dipilih secara selektif dari berbagai elemen masyarakat, bukan hanya dari kalangan pemuda.
Ketua Panitia Pelatihan KBBM PMI Lumajang, Nurhadi Santoso, SP, memaparkan bahwa komposisi peserta dirancang sedemikian rupa agar seluruh lapisan sosial di desa terwakili.
"Daerah rawan bencana, kita siapkan masyarakat yang tangguh bencana dengan pelatihan KBBM ini. Tujuannya adalah meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas sumber daya manusia di desa agar benar-benar tangguh," ujar Nurhadi dalam laporan kepanitiaannya di Balai Desa PandanArum, Senin (8/6/2026).
Pelatihan intensif ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 8 hingga 10 Juni 2026.
Selama periode tersebut, para peserta tidak hanya duduk mendengarkan materi di dalam ruangan, melainkan akan dihadapkan pada simulasi situasi darurat yang dirancang mendekati kondisi aslinya.
Untuk memastikan kualitas pengetahuan yang diberikan berada pada standar tertinggi, PMI Lumajang berkolaborasi dengan fasilitator lintas sektor yang kompeten di bidangnya.
Para pemateri didatangkan langsung dari: PMI Provinsi Jawa Timur, PMI Kabupaten Lumajang dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang
Selama tiga hari, 30 calon relawan SIBAT ini akan mengupas tuntas berbagai materi krusial, seperti teknik membaca tanda-tanda alam, sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal, pertolongan pertama pada kecelakaan (PPGD), hingga pemetaan jalur evakuasi desa yang aman dari jangkauan gelombang tsunami.
Senada dengan visi PMI Kabupaten, Ketua PMI Kecamatan Tempeh yang juga menjabat sebagai Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Tempeh, Lalu Indra Jaya, menaruh harapan besar pada keseriusan para peserta.
Menurutnya, waktu tiga hari harus dimanfaatkan seoptimal mungkin agar ilmu yang didapat bisa ditularkan ke warga desa lainnya.
"Kami berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan secara tekun. Output yang kami inginkan sederhana namun berdampak besar: masyarakat mengetahui, memahami, dan secara refleks tahu apa yang harus dilakukan tanpa panik jika sewaktu-waktu bencana melanda," tegas Lalu Indra Jaya.
Pentingnya keberadaan tim SIBAT seperti yang sedang dibentuk di PandanArum ini berkaca pada berbagai catatan sejarah bencana di pesisir selatan Jawa. Berdasarkan data historis kebencanaan, wilayah pantai selatan memiliki potensi gempa megathrust yang dapat memicu tsunami.
Dalam skenario bencana nyata, keterlambatan evakuasi mandiri dalam 10 hingga 20 menit pertama pasca-gempa dapat berakibat fatal. Di sinilah tim SIBAT memegang peran vital. Ketika jaringan komunikasi seluler terputus akibat gempa, relawan SIBAT yang sudah terlatih akan mengaktifkan alat komunikasi alternatif atau membunyikan kentongan/sirine manual untuk mengarahkan warga ke titik kumpul aman (titik elevasi tinggi) yang telah disepakati selama pelatihan.
Dengan adanya 30 relawan baru yang terlatih di Desa PandanArum, mata rantai kesiapsiagaan bencana di Kecamatan Tempeh kini semakin kuat. Langkah PMI Lumajang ini menjadi bukti nyata bahwa investasi terbaik dalam menghadapi bencana bukanlah sekadar membangun infrastruktur fisik yang megah, melainkan membangun kapasitas dan ketangguhan mental manusianya.


Post a Comment