Dorong Ketahanan Pangan, LPBI dan LAZISNU Ponorogo Sulap Limbah Ban Bekas Jadi Media Tanam Produktif

anews.co, Ponorogo - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) bersama NU Care-Lazisnu PCNU Ponorogo menggelar aksi penanaman pohon massal serentak di dua wilayah, yakni Desa Sukosari (Kecamatan Babadan) dan Desa Tanjungsari (Kecamatan Jenangan), Senin (1/6/2026) pagi. 

Aksi ini menarik perhatian karena mengintegrasikan pengelolaan sampah anorganik dengan konsep kemandirian pangan berbasis komunitas.
Melalui tema "Merawat Bumi, Menjaga Masa Depan Bersama NU", para relawan mengombinasikan gerakan penghijauan konvensional dengan program daur ulang inovatif. 
LPBI NU Ponorogo menginisiasi pemanfaatan limbah ban bekas secara kreatif untuk disulap menjadi pot dan media tanam bibit pohon buah produktif.
Solusi Ganda: Kurangi Sampah Non-Organik dan Perkuat Pangan Lokal
Limbah ban bekas selama ini menjadi persoalan lingkungan yang serius karena sifat materialnya yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk dapat terurai secara alami di dalam tanah. Jika dibakar, ban bekas akan melepaskan gas beracun yang mencemari udara.
Optimalisasi Ban Bekas untuk Sektor Pertanian
Melihat potensi masalah tersebut, LPBI NU Ponorogo melakukan intervensi dengan membalikkan fungsi limbah menjadi barang bernilai guna tinggi. 
Ban-ban bekas dikumpulkan, dibersihkan, dan ditata sedemikian rupa untuk dijadikan wadah pelindung tanah top-soil yang kaya nutrisi.
"Pemanfaatan limbah ban bekas ini tidak sekadar menjadi wadah tanaman biasa, melainkan sebuah gerakan daur ulang untuk media tanam berbasis ketahanan pangan jangka panjang bagi masyarakat desa." Ujar Khusnul Khabib, Ketua LPBI NU Ponorogo
Khusnul Khabib menambahkan bahwa langkah taktis ini terbukti efektif untuk memangkas volume sampah ban di tingkat lokal, sekaligus memberikan estetika visual yang rapi dan terstruktur di sepanjang area penanaman hijau.
Kolaborasi Lintas Sektor di Dua Wilayah Serentak
Gerakan pelestarian alam yang dimulai sejak pukul 06.30 WIB ini berjalan masif berkat adanya mobilisasi relawan gabungan yang terstruktur dengan baik. Totalitas aksi ini terlihat dari eksekusi kegiatan yang berjalan simultan di dua kecamatan yang berbeda.
Komposisi Kekuatan Relawan Lapangan
Keberhasilan penanaman serentak ini didukung oleh kekuatan jaringan struktural dan otonom NU serta masyarakat sipil, meliputi:
  • Nu Care-Lazisnu PCNU Ponorogo (Fasilitator program dan logistik)
  • Karangtaruna Mumpuni Desa Sukosari (Penggerak pemuda Kecamatan Babadan)
  • Sahabat Banser (Barisan Ansor Serbaguna) (Tim teknis penanaman lapangan)
  • Relawan Desa Tanjungsari (Penggerak swadaya Kecamatan Jenangan)
Sinergi ini memastikan pembagian kerja berjalan efisien, mulai dari proses pengangkutan limbah ban, penggalian lubang tanam, hingga penempatan pupuk kompos organik.
Rincian Komoditas Pohon: Fokus pada Buah Bernilai Ekonomi Tinggi
Aksi pelestarian ini tidak sekadar menanam pohon pelindung, melainkan memilih jenis tanaman hortikultura yang dapat dipanen hasilnya oleh warga sekitar dalam beberapa tahun ke depan. Kebijakan pemilihan bibit ini berorientasi pada aspek keberlanjutan pangan dan peningkatan ekonomi domestik.
Berikut adalah rincian jenis dan jumlah bibit tanaman yang berhasil ditanam pada aksi massal tersebut:
  • Bibit Pohon Alpukat: 162 Batang (Fokus pemulihan vegetasi produktif)
  • Bibit Pohon Kakao (Cokelat): 50 Batang (Fokus komoditas perkebunan warga)
  • Bibit Tanaman Bunga: Beberapa Varietas (Fokus estetika lingkungan dan konservasi polinator)


Membangun Ekosistem Udara Bersih untuk Generasi Masa Depan
Perwakilan dari LAZISNU PCNU Ponorogo, Jam'un Haidar, menyatakan kekagumannya atas totalitas para relawan di lapangan. Menurutnya, bergerak di dua titik berbeda dalam waktu yang bersamaan membutuhkan komitmen manajemen kepanitiaan yang matang.
Melalui slogan yang digaungkan, "Dari Bumi, Untuk Bumi, Bersama NU", kegiatan ini diharapkan mampu memicu efek domino bagi desa-desa lain di Ponorogo untuk mereplikasi sistem media tanam dari bahan limbah.
Aksi kecil yang dimulai dari pemanfaatan ban bekas di Sukosari dan Tanjungsari ini membuktikan bahwa perlindungan ekosistem dan penguatan kedaulatan pangan lokal bisa berjalan beriringan tanpa harus mengeluarkan biaya operasional yang tinggi. Ketersediaan suplai buah-buahan dan kualitas udara yang lebih bersih kini menjadi warisan nyata yang dipersiapkan NU untuk masa depan bumi Ponorogo.
Penulis: Amin 
Editor: Redaksi
Baca Juga:
Copied 👍

Latest News

  • Dorong Ketahanan Pangan, LPBI dan LAZISNU Ponorogo Sulap Limbah Ban Bekas Jadi Media Tanam Produktif
  • Dorong Ketahanan Pangan, LPBI dan LAZISNU Ponorogo Sulap Limbah Ban Bekas Jadi Media Tanam Produktif
  • Dorong Ketahanan Pangan, LPBI dan LAZISNU Ponorogo Sulap Limbah Ban Bekas Jadi Media Tanam Produktif
  • Dorong Ketahanan Pangan, LPBI dan LAZISNU Ponorogo Sulap Limbah Ban Bekas Jadi Media Tanam Produktif
  • Dorong Ketahanan Pangan, LPBI dan LAZISNU Ponorogo Sulap Limbah Ban Bekas Jadi Media Tanam Produktif
  • Dorong Ketahanan Pangan, LPBI dan LAZISNU Ponorogo Sulap Limbah Ban Bekas Jadi Media Tanam Produktif

Post a Comment