Bupati Kudus Apresiasi Sunatan Massal 50 Anak
anews.co, Kudus - Kabupaten Kudus kembali menyaksikan aksi nyata kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada Minggu (7/6/2026), PT Jaleca Sanjaya (Jaleca Tritunggal) menggelar aksi sosial sunatan massal ceria yang diikuti oleh 50 anak dari berbagai wilayah di Kudus.
Kegiatan yang diinisiasi sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) ini mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris. Kehadiran orang nomor satu di Kudus tersebut menegaskan bahwa kepedulian dunia usaha memiliki dampak instan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat akar rumput.
Bupati Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa kegiatan khitanan massal ini tidak boleh dilihat sebagai agenda seremonial belaka. Menurutnya, program ini membawa dua dampak besar sekaligus, yaitu intervensi kesehatan sejak dini dan penguatan jaring pengaman sosial bagi keluarga kurang mampu.
“Ini adalah bentuk CSR yang sangat baik dari Jaleca Sanjaya. Kami berterima kasih karena telah membantu masyarakat melalui kegiatan sunatan massal ceria ini,” ujar Sam’ani di sela-sela memantau jalannya acara, Minggu (7/6/2026).
Dari sudut pandang medis, khitan merupakan langkah krusial untuk mencegah berbagai risiko penyakit infeksi dan menjaga higienitas reproduksi anak laki-laki. Bupati berharap anak-anak yang menjadi peserta hari ini dapat tumbuh optimal.
“Anak-anak yang mengikuti khitanan diharapkan tumbuh menjadi generasi yang sehat, kuat, dan berakhlak baik sebagai harapan keluarga serta bangsa,” tambah Sam'ani.
Sementara itu, Wakil Direktur PT Jaleca Sanjaya, Leon Rudi, menjelaskan bahwa agenda ini dirancang secara inklusif untuk menyasar masyarakat umum, khususnya mereka yang tinggal di sekitar area operasional pabrik.
Leon menekankan bahwa program ini murni lahir dari komitmen moral perusahaan untuk berbagi, tanpa ditumpangi oleh momentum perayaan tertentu atau kepentingan politik praktis.
“Ini murni CSR. Tujuannya memberikan kontribusi positif kepada lingkungan sekitar pabrik dan masyarakat Kudus,” jelas Leon Rudi.
Ia menjabarkan bahwa kuota 50 anak langsung terpenuhi dengan cepat lantaran tingginya antusiasme warga.
"Pesertanya ada 50 anak dari berbagai wilayah di Kudus. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut," imbuhnya.
Aksi sosial yang dilakukan oleh PT Jaleca Sanjaya memicu diskusi yang lebih luas mengenai peran krusial sektor industri dalam menjaga stabilitas makroekonomi daerah.
Saat ini, situasi ekonomi global dan nasional masih menghadang pelaku usaha dengan berbagai ketidakpastian, mulai dari fluktuasi harga bahan baku hingga pergeseran daya beli masyarakat.
Bupati Sam’ani menyoroti bahwa kontribusi perusahaan tidak hanya diukur dari seberapa besar bantuan sosial yang mereka gelontorkan, melainkan dari konsistensi mereka dalam menjaga napas bisnis dan kesejahteraan karyawan.
Salah satu poin krusial yang digarisbawahi Bupati adalah komitmen industri untuk meminimalkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sektor manufaktur dan industri di Kudus selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja lokal.
“Perusahaan ini juga berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja dan pendapatan daerah. Kita harapkan tidak terjadi pemutusan hubungan kerja, sehingga ekonomi tetap stabil,” urai Sam’ani.
Secara tidak langsung, program khitanan gratis ini memotong pengeluaran domestik keluarga (pos household expenditure). Biaya khitan mandiri di klinik swasta saat ini berkisar antara Rp500.000 hingga Rp1.500.000 per anak, tergantung metode yang digunakan.
Dengan adanya program gratis ini, 50 keluarga di Kudus dapat mengalihkan anggaran tersebut untuk kebutuhan pokok lain yang lebih mendesak, seperti pemenuhan gizi anak atau biaya persiapan menyambut tahun ajaran baru sekolah. Ini adalah contoh nyata bagaimana CSR taktis mampu memperkuat daya beli masyarakat di tingkat lokal.
Keberhasilan acara yang diinisiasi oleh PT Jaleca Sanjaya ini menjadi contoh sukses dari penerapan konsep Triple Helix versi daerah, yaitu kolaborasi erat antara Pemerintah (Government), Dunia Usaha (Private Sector), dan Masyarakat (Community).
Ketika tiga elemen ini berjalan beriringan, akselerasi pembangunan daerah akan jauh lebih cepat dibanding hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang jumlahnya terbatas.
Bupati Sam’ani mengajak seluruh pelaku usaha di Kabupaten Kudus—baik skala makro, menengah, hingga industri rokok dan manufaktur besar yang menjadi ciri khas kota ini—untuk meniru langkah nyata PT Jaleca Sanjaya.
“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Kudus menyatakan siap mempermudah proses birokrasi dan perizinan bagi perusahaan-perusahaan yang menunjukkan komitmen tinggi terhadap pembangunan lingkungan dan sosial mereka
Bagi masyarakat Kudus, kehadiran korporasi yang peduli seperti PT Jaleca Sanjaya memunculkan optimisme baru. Hubungan antara pihak pabrik dan warga sekitar tidak lagi dipandang sebagai hubungan transaksional-industrial semata, melainkan hubungan bertetangga yang saling mendukung (simbiosis mutualisme).
Pihak manajemen PT Jaleca Sanjaya sendiri berjanji akan melakukan evaluasi berkala terhadap program-program CSR mereka agar terus tepat sasaran. Kegiatan sunatan massal ini diharapkan menjadi pemantik untuk program-program lingkungan hidup, pendidikan, dan pemberdayaan UMKM perempuan di masa-masa mendatang.
Melalui konsistensi program seperti ini, potret Kudus sebagai kota industri yang humanis, religius, dan sejahtera secara merata bukan lagi sekadar visi di atas kertas, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakatnya.
Penulis: Ahmed Delano
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment