Nekat Berenang Saat Mancing, Bocah Asal Pakisaji Meninggal di Embung Babadan Malang
anews.co, Malang - Kabar duka kembali menyelimuti wilayah perairan terbuka di Jawa Timur. Aktivitas akhir pekan yang seharusnya diisi dengan keceriaan mendadak berubah menjadi kepiluan yang mendalam. Sebuah insiden kecelakaan air (laka air) yang merenggut nyawa seorang remaja terjadi di kawasan pedesaan, memicu respons cepat dari tim kemanusiaan demi mengevakuasi korban.
Pada hari Minggu siang, (31/5) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang bergerak cepat menanggapi laporan kedaruratan ini. Peristiwa tragis tersebut menjadi alarm keras bagi kita semua mengenai pentingnya pengawasan aktivitas anak-anak di sekitar area perairan, terutama di lokasi-lokasi yang kerap dijadikan tempat rekreasi mandiri tanpa pengamanan memadai.
Kronologi Insiden Tragis di Embung Babadan Ngajum
Peristiwa naas ini bermula ketika seorang remaja bernama Romadhon yang berusia kurang lebih 13 tahun, berniat menghabiskan waktu luangnya. Korban yang tercatat sebagai warga Dusun Blau, RT 002 RW 006, Desa Permanu, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang ini pergi menuju Embung Babadan. Lokasi embung tersebut berada di Dusun Kapurono, Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.
Niat Memancing yang Berujung Petaka
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari para saksi di lapangan, korban awalnya mendatangi area embung dengan tujuan yang aman, yaitu memancing ikan bersama rekan-rekan sebayanya. Embung Babadan selama ini memang dikenal oleh warga sekitar sebagai area pemancingan favorit karena suasananya yang tenang dan dikelilingi vegetasi pedesaan.
Namun, petaka mulai mendekat ketika jarum jam menunjuk sekitar pukul 12.00 WIB. Diduga karena tergiur dengan kondisi air embung atau sekadar ingin menyegarkan diri di tengah hari, korban memutuskan untuk turun dan mencoba berenang ke area tengah embung.
Gagalnya Upaya Pertolongan di Tengah Air
Kepala Dusun setempat, Saiful Bahri, menyampaikan keterangan saksi bahwa korban sebenarnya tidak memiliki kemampuan berenang yang memadai untuk mengarungi perairan terbuka sedalam embung tersebut. Ketika sudah terlanjur berada di tengah perairan, fisik korban diduga mengalami kelelahan ekstrem hingga kesulitan untuk tetap mengapung.
Melihat korban mulai gelagapan dan meminta tolong, salah satu temannya yang berada di dekat lokasi sempat berusaha memberikan pertolongan materiil dengan meraih korban. Sialnya, karena kondisi fisik sang teman jauh lebih kecil dibandingkan korban, upaya penyelamatan darurat tersebut gagal. Korban yang kehabisan tenaga akhirnya tenggelam dan hilang dari permukaan air, sementara rekan-rekannya yang panik langsung berteriak meminta bantuan warga sekitar.
Aksi Solidaritas Warga dan Proses Evakuasi Bawah Air
Kehilangan waktu berharga (golden hour) di dalam air bisa berakibat fatal. Menyadari hal tersebut, warga Dusun Kapurono tidak tinggal diam menunggu bantuan dari pusat kota yang jaraknya relatif jauh. Solidaritas khas masyarakat pedesaan langsung terbentuk di tepian Embung Babadan secara spontan.
KRONOLOGI PENCARIAN KORBAN
┌────────────────────────────────────────────────────────────────────────┐
│ 12.00 WIB : Korban diduga berenang, kelelahan, lalu tenggelam. │
├────────────────────────────────────────────────────────────────────────┤
│ 13.00 - 15.00 WIB : Penyelaman tahap pertama oleh 5-7 rescue warga. │
├────────────────────────────────────────────────────────────────────────┤
│ 15.43 WIB : Laporan masuk resmi ke posko PMI Kabupaten Malang. │
├────────────────────────────────────────────────────────────────────────┤
│ 16.33 WIB : Penyelaman tahap kedua oleh 4 penyelam lokal setempat. │
├────────────────────────────────────────────────────────────────────────┤
│ 16.41 WIB : Korban berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. │
└────────────────────────────────────────────────────────────────────────
Mobilisasi Penyelam Lokal secara Swadaya
Sejak pukul 13.00 WIB, warga sekitar bersama rekan-rekan korban mulai memetakan titik koordinat tenggelamnya Romadhon. Sebanyak lima hingga tujuh orang warga yang memiliki kecakapan menyelam tradisional tanpa alat tabung oksigen, langsung melompat ke air secara bergantian.
Tim rescue swadaya dari warga ini terus menyisir dasar embung yang berlumpur dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Keterbatasan jarak pandang di dalam air memaksa mereka untuk beristirahat sejenak mengumpulkan tenaga, sebelum akhirnya melanjutkan pencarian gelombang kedua pada sore hari.
Detik-Detik Penemuan Korban di Dasar Embung
Pencarian intensif kembali digalakkan pada pukul 16.00 WIB. Tepat pada pukul 16.33 WIB, empat orang warga yang dikenal sebagai penyelam lokal paling berpengalaman di desa tersebut kembali menyelam di titik krusial tempat korban terakhir kali terlihat berkejaran dengan air.
Kerja keras dan ketulusan warga akhirnya membuahkan hasil. Pada pukul 16.41 WIB, jasad remaja 13 tahun tersebut berhasil disentuh di dasar perairan dan langsung diangkat secara hati-hati ke permukaan. Namun takdir berkata lain, korban ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia akibat terlalu lama kekurangan oksigen (asfiksia).
Gerak Cepat Kemanusiaan Tim PMI Kabupaten Malang
Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang sendiri menerima laporan resmi mengenai laka air ini pada pukul 15.43 WIB. Begitu menerima sinyal darurat, markas PMI langsung menerjunkan satu tim personel darurat untuk bergerak membelah jalur darat menuju Kecamatan Ngajum.
Kaji Cepat dan Koordinasi Lintas Sektor
Setibanya di lokasi kejadian, tim medis dan asesmen PMI langsung melakukan kaji cepat (rapid assessment). Mereka mengumpulkan keterangan mendalam dari para saksi mata di lokasi serta berkoordinasi erat dengan jajaran kepolisian dari Polsek Ngajum yang sudah bersiaga mengamankan tempat kejadian perkara (TKP).
Operasi kemanusiaan ini dipimpin langsung oleh Koordinator Lapangan PMI Kabupaten Malang, Yanuari Yulianto. Ia tidak bekerja sendirian, melainkan dibantu oleh tiga personel tangguh PMI lainnya yang memiliki spesialisasi evakuasi, yaitu:
- Adinda Evazumay Ricixa
- Yusak Khrismanto
- Ahmad Hadi
Pemulangan Jenazah Menuju Rumah Duka
Setelah jasad korban berhasil dievakuasi oleh warga dan diperiksa secara medis luar oleh petugas, pihak Polsek Ngajum menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya unsur tindak pidana maupun kekerasan pada tubuh korban. Kejadian ini murni merupakan kecelakaan air akibat ketidakmampuan berenang.
Pihak keluarga korban yang tiba di lokasi dengan difasilitasi perangkat desa meminta agar jenazah tidak diotopsi di rumah sakit. Menghormati permintaan tersebut, tim PMI Kabupaten Malang langsung mengemas peti jenazah dan melakukan pengantaran menggunakan armada ambulans menuju rumah duka di Desa Permanu, Pakisaji, agar proses pemakaman bisa segera dilaksanakan malam itu juga.
Tantangan Medan dan Imbauan Penting Keselamatan Air
Pelaksanaan evakuasi dan asesmen sore itu berjalan di bawah bayang-bayang cuaca yang kurang bersahabat. Kondisi langit di atas Desa Babadan terpantau mendung pekat dan menyisakan kekhawatiran akan turunnya hujan deras yang bisa mempersulit mobilisasi. Beruntung, akses jalan tanah menuju lokasi kejadian yang melewati kawasan permukiman padat warga serta hamparan perkebunan tebu masih kokoh dan dapat dilalui oleh kendaraan roda empat rescue tanpa kendala slip.
Evaluasi Keamanan Area Perairan Terbuka
Belajar dari tragedi yang menimpa Romadhon di Embung Babadan, keselamatan di perairan terbuka harus menjadi perhatian kolektif yang serius. Kasus seperti ini menambah daftar panjang angka kecelakaan air di lingkungan pedesaan yang melibatkan anak-anak usia sekolah.
Ada beberapa faktor risiko utama yang sering diabaikan di area embung atau waduk:
- Kedalaman yang Tidak Merata: Dasar embung sering kali memiliki ceruk dalam yang curam dan tidak terlihat dari permukaan.
- Arus Bawah dan Lumpur: Adanya tumpukan lumpur hisap di dasar air dapat mengikat kaki perenang yang kelelahan sehingga sulit untuk naik kembali.
- Ketiadaan Pengawas Pantai (Lifeguard): Berbeda dengan kolam renang komersial, perairan terbuka di desa umumnya tidak memiliki petugas penyelamat profesional.
Seruan PMI untuk Pengawasan Ketat Orang Tua
Menutup operasi penanganan laka air ini, Koordinator Lapangan PMI Kabupaten Malang, Yanuari Yulianto, memberikan imbauan keras namun menyentuh kepada seluruh lapisan masyarakat. PMI meminta para orang tua dan tokoh masyarakat untuk memperketat pengawasan terhadap aktivitas anak-anak mereka ketika berada di luar rumah.
"Kami sangat mengimbau masyarakat untuk selalu menempatkan faktor keselamatan sebagai prioritas utama saat beraktivitas di area perairan terbuka. Terutama bagi anak-anak, remaja, atau siapa saja yang belum menguasai teknik berenang dengan matang. Edukasi dini mengenai bahaya pusaran air atau kedalaman embung merupakan benteng utama kita untuk mencegah tragedi memilukan seperti ini terulang kembali di masa depan," pungkas Yanuari sebelum bertolak kembali ke markas.
Penulis: Alfin
Editor: Redaksi
Baca Juga:

Post a Comment