Bawa Misi Kemanusiaan, M. Nur Amin Zabidi Ikuti Seleksi Calon Pimpinan BAZNAS Ponorogo
anews.co, Ponorogo - M. Nur Amin Zabidi, S.H., seorang profesional berdedikasi asal Desa Slahung, telah menegaskan mimpinya untuk mengubah wajah pengelolaan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) di Kabupaten Ponorogo melalui pencalonannya sebagai Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Ponorogo periode 2026-2031.
Tahapan seleksi melalui administrasi tanggal 29 April 2026, CAT dan Penulisan Makalah 4 Mei 2026, Wawancara 6 Mei 2026, dan dengan hasil akhir seleksi dijadwalkan diumumkan pada 13 Mei 2026.
Dengan jalur pendidikan yang kuat dan didukung oleh komitmen sosial yang mendalam, Amin berusaha untuk mengejawantahkan visi mewujudkan BAZNAS sebagai lembaga pengelola zakat yang terpercaya, modern, dan terdepan dalam upaya kemanusiaan.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, M. Nur Amin Zabidi menyatakan,
"Pengelolaan ZIS bukan hanya tentang menghimpun dana, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral untuk membentuk kembali struktur sosial yang lebih mandiri dan empatik melalui distribusi yang adil dan tepat sasaran."
Visi yang dibawa oleh M. Nur Amin Zabidi adalah membentuk BAZNAS Ponorogo sebagai institusi yang tidak hanya sekadar mengelola, tetapi juga memodernisasi ekosistem zakat melalui inovasi teknologi dan digitalisasi.
Tidak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya optimalisasi tanggap bencana, sebuah langkah strategis yang jarang diterapkan namun sangat penting dalam konteks darurat seperti bencana alam.
Melalui misinya, Amin mengusulkan aspek transformasi digital dalam manajemen pengelolaan ZIS dengan tujuan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.
"Dengan sistem informasi digital, kami yakin dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap BAZNAS," jelas Amin.
Program strategis yang diusulkan oleh Amin di antaranya adalah pembentukan unit BAZNAS Tanggap Bencana (BTB), serta program KATANA & MAB (Kampung & Madrasah Aman Bencana) untuk meningkatkan mitigasi dan kesiapan masyarakat terhadap risiko bencana.
Dalam situasi bencana, kesiapan dan kecepatan respons adalah kunci.
"BTB diharapkan mampu memberikan respon maksimal dalam waktu 1x24 jam," paparnya.
Sebagai bagian dari analisis SWOT, Amin menunjuk kekuatan BAZNAS Ponorogo saat ini, yaitu tren pertumbuhan positif dalam realisasi penerimaan ZIS. Namun ia juga menyoroti adanya kelemahan dalam penggalangan dana dari sektor non-ASN, yang menunjukkan kebutuhan mendesak untuk diversifikasi sumber dana.
Melihat peluang besar dari lebih dari 2.000 ASN Cabdin Ponorogo-Magetan dan potensi pasar dari sektor swasta, strategi digitalisasi pembayaran zakat diarahkan menjadi prioritas.
"Dengan memanfaatkan platform digital dan QRIS, kami ingin membuat zakat bisa diakses dengan mudah oleh semua kalangan," jelasnya.
Meski demikian, Amin sadar akan ancaman seperti krisis kepercayaan publik akibat isu pengelolaan dana filantropi secara nasional dan persaingan dari lembaga amil zakat swasta.
Dengan adanya rencana penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, Amin percaya sinergi ini dapat meminimalkan ancaman yang ada.
Untuk menggapai visi ini, M. Nur Amin Zabidi menegaskan komitmennya terhadap integritas dan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan organisasi sosial lokal untuk menjamin keberlanjutan program dan pencapaian misi.
"Saya berkomitmen untuk mewujudkan pengelolaan zakat yang tidak hanya mengatasi kemiskinan, tetapi juga mendukung kemandirian ekonomi masyarakat Ponorogo," pungkas Amin penuh keyakinan.
Dengan dedikasi dan strategi yang terukur, M. Nur Amin Zabidi siap membawa BAZNAS Ponorogo menuju era baru yang lebih inovatif dan berdaya saing tinggi dalam pengelolaan filantropi demi kemaslahatan umat.
Baca Juga:

Post a Comment