Mendekati Awal Musim Kemarau tapi Hujan Tetap Deras? Ini Penjelasannya
0 minutes read
anews.co, Nganjuk - Memasuki awal musim kemarau, masyarakat di Pulau Jawa mungkin bertanya-tanya mengapa hujan deras masih sering terjadi meskipun Monsun Australia yang membawa angin timuran kering sudah mulai memasuki wilayah tersebut.
Menurut Yaris, Forecaster BMKG Nganjuk, fenomena ini merupakan bagian dari proses transisi musim yang berlangsung secara bertahap dan kompleks.
Beberapa faktor yang menyebabkan hujan masih dapat terjadi di masa transisi musim antara lain adalah aktivitas konveksi lokal. Pemanasan permukaan yang kuat pada siang hari memicu arus naik (updraft) yang membentuk awan konvektif. Selama atmosfer masih cukup labil, hujan tetap bisa terbentuk meskipun monsun timur sudah mulai aktif. Selain itu, gangguan atmosfer skala regional seperti gelombang ekuatorial, Madden-Julian Oscillation, dan sirkulasi siklonik juga dapat meningkatkan pembentukan awan hujan.
Yaris menambahkan,
Kesimpulannya, Monsun Australia adalah sinyal awal datangnya musim kemarau, bukan saklar yang langsung mematikan hujan. Selama faktor lokal dan regional masih mendukung, hujan deras tetap berpotensi terjadi.
Masyarakat diimbau untuk tetap memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan selalu waspada terhadap perubahan cuaca selama periode transisi musim ini.
“Monsun Australia memang membawa udara kering yang menghambat pembentukan awan, namun kekuatannya saat ini belum stabil. Sirkulasi lokal dan gangguan atmosfer lain masih bisa ‘melawan’ pengaruh angin kering tersebut,” jelas Yaris.
Beberapa faktor yang menyebabkan hujan masih dapat terjadi di masa transisi musim antara lain adalah aktivitas konveksi lokal. Pemanasan permukaan yang kuat pada siang hari memicu arus naik (updraft) yang membentuk awan konvektif. Selama atmosfer masih cukup labil, hujan tetap bisa terbentuk meskipun monsun timur sudah mulai aktif. Selain itu, gangguan atmosfer skala regional seperti gelombang ekuatorial, Madden-Julian Oscillation, dan sirkulasi siklonik juga dapat meningkatkan pembentukan awan hujan.
Yaris menambahkan,
“Transisi musim itu bertahap, bukan instan, dan tidak terjadi dalam satu hari. Pada fase ini, karakter atmosfer masih campuran antara angin baratan dan timuran sehingga hujan masih muncul, meskipun frekuensinya mulai berkurang secara bertahap.”
Kesimpulannya, Monsun Australia adalah sinyal awal datangnya musim kemarau, bukan saklar yang langsung mematikan hujan. Selama faktor lokal dan regional masih mendukung, hujan deras tetap berpotensi terjadi.
Masyarakat diimbau untuk tetap memantau informasi cuaca resmi dari BMKG dan selalu waspada terhadap perubahan cuaca selama periode transisi musim ini.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
