Hati-hati Hoaks! Ini Fakta dan Mitos Seputar Donor Darah yang Wajib Kamu Tahu
![]() |
| Ilustrasi donor darah. /Pixabay/Michellegordon2 |
anews.co, Ponorogo - Maraknya informasi salah atau hoaks sering membuat ragu untuk mendonorkan darah. Padahal, kebutuhan transfusi darah di Indonesia sangat tinggi. Menurut Palang Merah Indonesia (PMI), setiap delapan detik ada satu orang yang membutuhkan transfusi darah. Inilah salah satu alasan pentingnya kita melakukan donor darah.
Untuk meluruskan simpang siur informasi tersebut, anews.co merangkum beberapa mitos dan fakta seputar donor darah. Informasi ini berdasarkan penjelasan PMI, buku Questions & Answers Donor Darah karya Rachman dan Aditya, serta Buku Saku Mitos dan Fakta Seputar Donor Darah yang diterbitkan Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah.
Berikut adalah poin-poin yang perlu Anda ketahui agar tidak lagi ragu berbagi kehidupan:
1. Ibu hamil dan menyusui tidak bisa melakukan donor darah.
• FAKTA. Perempuan yang sedang hamil dan menyusui tidak diperbolehkan donor darah karena dalam kondisi tersebut kebutuhan zat gizi, terutama zat besi, mereka meningkat pesat. Donor darah berpotensi menambah beban peningkatan kebutuhan nutrisi sehingga, apabila tidak diimbangi dengan asupan yang kuat, maka ibu hamil dan menyusui dapat menderita anemia.
2. Orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau darah rendah tidak boleh melakukan donor darah.
• FAKTA. Orang dengan tekanan darah lebih tinggi atau lebih rendah dari normal tidak boleh melakukan donor darah. Kondisi ini dapat mengganggu perfusi atau penyerapan oksigen di dalam jaringan tubuh, khususnya otak. Tekanan darah normal yang diperbolehkan untuk donor darah adalah systole 100-180 mmHg dan diastole 60-100 mmHg.
3. Orang yang mengonsumsi obat tidak boleh melakukan donor darah.
• FAKTA. Orang yang mengonsumsi obat apa pun, terutama aspirin dan antibiotik, tidak diperbolehkan untuk melakukan donor darah. Aspirin dapat mengganggu zat yang berfungsi dalam pembekuan darah. Antibiotik dan obat-obatan lain juga tidak diperbolehkan karena saat kita mengonsumsi obat-obatan berarti kondisi tubuh kita sedang tidak sehat, termasuk kualitas darah yang beredar di dalam tubuh. Orang baru diperbolehkan untuk mendonorkan darahnya setelah minimal tiga hari berhenti mengonsumsi obat. Kondisi ini tidak berlaku bagi yang hanya mengonsumsi vitamin.
4. Vegetarian tidak bisa melakukan donor darah karena kurang zat besi.
• MITOS. Pada tahap seleksi donor, dilakukan berbagai pemeriksaan antara lain pemeriksaan kadar hemoglobin dalam darah. Kadar hemoglobin dapat digunakan sebagai salah satu indikator status zat besi dalam tubuh. Apabila kadar hemoglobin lebih dari 12,5 g/dL dan semua persyaratan lain terpenuhi, status vegetarian tidak menjadi penghalang untuk mendonorkan darah.
5. Donor darah hanya boleh dilakukan satu kali dalam setahun.
• MITOS. Interval donor darah minimal 12 minggu atau tiga bulan sejak donor darah sebelumnya, dan maksimal lima kali dalam setahun. Jadi, Anda bisa mendonorkan darah lebih sering dari yang Anda kira!
6. Berat badan kurang dari 45 kilogram tidak boleh donor darah.
• FAKTA. Berat badan minimal untuk bisa donor darah adalah 45 kilogram. Namun demikian, berat badan juga akan disesuaikan dengan tinggi badan. Hitungan toleransi maksimal untuk banyaknya darah yang boleh diambil adalah maksimal 10,5 cc darah per berat badan.
7. Wanita yang sedang menstruasi tidak boleh donor darah.
• FAKTA. Seperti halnya pada wanita yang sedang hamil dan menyusui, wanita yang sedang menstruasi tidak diperbolehkan melakukan donor darah. Pada saat haid, tubuh wanita sedang "kehilangan darah" (sekitar 60-80 cc per hari), sehingga jika melakukan donor darah dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatannya. Oleh sebab itu, seorang wanita dianjurkan mendonorkan darah minimal tujuh hari setelah selesai haid.
Dengan memahami fakta-fakta ini, diharapkan masyarakat tidak lagi ragu untuk ikut serta dalam aksi kemanusiaan donor darah. Setetes darah kita bisa menyelamatkan banyak nyawa. Jadi, jangan biarkan hoaks menghentikan niat baik Anda untuk berbagi.
Penulis: amin
Editor: Redaksi
Further Reading:
.jpeg)
Post a Comment