Cello Ar Sabrina Inara SD IT Qurrota A'yun Ponorogo Raih Juara 1 pada Ajang Islamic Child Festival 2025
anews.co, Ponorogo – Taman Wengker Ponorogo mendadak riuh oleh gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai keceriaan anak-anak. Ruang publik hijau yang biasanya tenang itu bertransformasi menjadi panggung megah bagi lahirnya talenta-talenta muda Islam berbakat. Suasana penuh semangat tersebut menandai pelaksanaan Islamic Child Fesival 2025 yang memasuki tahun kedua penyelenggaraannya. Festival berskala daerah ini diinisiasi oleh kolaborasi apik antara Mother and Children Charity (MCC) bersama komunitas Edukids-Parenting Ponorogo. Mengangkat tema besar "Sinergi Generasi Islam Membangun Negeri", acara ini sukses menjadi magnet bagi berbagai sekolah dasar dan komunitas anak di seluruh penjuru Kabupaten Ponorogo. Namun, di antara ratusan peserta yang tampil, perhatian juri dan penonton tertuju pada satu sosok penampil cilik yang luar biasa. Cello Ar Sabrina Inara, seorang siswi yang baru duduk di bangku kelas II SD IT Qurrota A’yun Ponorogo, berhasil mengukir prestasi gemilang. Berbekal keberanian dan kecakapannya dalam mengolah kata, ia sukses menyabet trofi Juara 1 dalam ajang lomba storytelling (bercerita) bertema kemerdekaan. Menggali Potensi Melalui International Flash Program (ICP) Prestasi yang diraih oleh siswi yang akrab disapa Cello atau Selo ini tidak datang secara instan. Keikutsertaannya dalam festival ini didorong oleh program internal sekolah yang adaptif terhadap perkembangan global. Peran SD IT Qurrota A'yun dalam Mengembangkan Bakat SD IT Qurrota A’yun Ponorogo dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar Islam terpadu yang getol menyalurkan minat dan bakat siswanya ke jalur positif. Dalam kompetisi ini, Cello tidak sekadar mendaftar secara mandiri, melainkan dipercaya penuh untuk menjadi delegasi atau wakil resmi dari sekolahnya. Pihak sekolah melihat adanya potensi besar dalam diri Cello, terutama dalam hal kemampuan komunikasi verbal, rasa percaya diri di depan publik, dan daya ingat yang kuat untuk anak seusianya. Mengenal International Flash Program (ICP) Lomba storytelling yang diikuti oleh Cello merupakan bagian integral dari International Flash Program (ICP). Program ini dirancang bukan hanya sebagai ajang perlombaan unjuk bakat biasa, melainkan sebagai instrumen pendidikan modern. Melalui ICP, anak-anak usia dini dilatih untuk berpikir kritis, memahami narasi sejarah yang kompleks, lalu menyajikannya kembali dengan metode bercerita yang interaktif. Program ini berfokus pada pembentukan karakter anak agar memiliki wawasan global namun tetap memegang teguh identitas nasional dan nilai-nilai keislaman. ![]() |
| Selo Arsabrina Inara SD IT Qurrota A'yun Ponorogo saat tampil di acara Islamic Child Festival 2025 (Foto Istimewa) |
Kisah Epik Peristiwa 10 November di Atas Panggung
Saat namanya dipanggil oleh pembawa acara untuk naik ke atas panggung utama di Taman Wengker, tidak tampak gurat ketakutan atau demam panggung di wajah Cello. Langkah kakinya mantap, mencerminkan kesiapan mental yang matang hasil dari latihan yang konsisten.
Alur Penampilan Storytelling Cello Ar Sabrina Inara:
[Pembukaan & Salam] ➔ [Narasi Latar Surabaya 1945] ➔ [Puncak Konflik: Insiden Hotel Yamato] ➔ [Orasi Bung Tomo] ➔ [Pesan Moral & Penutup]Memilih Sosok Bung Tomo sebagai Sentral Perjuangan
Di hadapan dewan juri, siswi kelas II SD IT ini membawakan kisah heroik seputar pertempuran berdarah yang terjadi pada Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Sebuah hari bersejarah yang kelak ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional untuk memperingati perjuangan arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu (Inggris dan Belanda).
Dalam narasi cerita yang dibawakannya, Cello memilih figur Bung Tomo sebagai tokoh sentral perjuangan. Dengan teknik vokal yang tertata, ia meniru gaya orasi Bung Tomo yang membakar semangat lewat pekikan takbir dan seruan merdeka. Penggabungan unsur religi dan nasionalisme ini membuat penampilannya terasa sangat hidup.
Momen Penyobekan Bendera yang Menggugah Semangat
Puncak dari penampilan storytelling Cello yang paling memikat adalah ketika ia mengisahkan kembali insiden penyobekan bendera di atas Hotel Yamato. Dengan ekspresi wajah yang dramatis dan gerakan tubuh (gesture) yang teatrikal, ia menggambarkan bagaimana para pejuang merobek bagian warna biru pada bendera Belanda sehingga menyisakan warna merah dan putih untuk dikibarkan kembali.
“Peristiwa 10 November sangat membangkitkan semangat luar biasa, terutama momen penyobekan bendera yang sangat epic,” ungkap Cello Ar Sabrina Inara dengan mata berbinar penuh antusias seusai turun dari panggung.
Integrasi Nilai Islam dan Nasionalisme di Ruang Publik
Suksesnya penampilan Cello menjadi sebuah contoh nyata (case study) mengenai bagaimana nilai-nilai kebangsaan dapat diinternalisasikan kepada anak-anak gen-alpha dengan cara yang menyenangkan dan tidak kaku.
Taman Wengker sebagai Sarana Edukasi Terbuka
Pemilihan Taman Wengker Ponorogo sebagai lokasi pelaksanaan Islamic Child Festival 2025 ke-2 dinilai sangat tepat. Ruang terbuka hijau ini memberikan atmosfer yang menyegarkan bagi anak-anak sehingga mereka tidak merasa tertekan seperti saat berada di dalam ruangan kelas yang formal. Di tempat ini, proses edukasi berjalan secara natural melalui metode experiential learning, di mana anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan lakukan langsung di lapangan.
Menumbuhkan Karakter Generasi "Sinergi"
Sesuai dengan tema festival, kegiatan ini berhasil memperkuat fondasi karakter generasi muda di Ponorogo. Panitia pelaksana menekankan bahwa generasi Islam masa depan tidak boleh hanya unggul dalam urusan ibadah ritual semata, melainkan harus memiliki rasa kepemilikan dan cinta yang tinggi terhadap negaranya (hubbul wathan minal iman). Melalui kisah sejarah yang dibawakan oleh Cello, para penonton cilik lainnya diingatkan kembali bahwa kemerdekaan Indonesia diraih lewat tetesan darah dan air mata para ulama serta pejuang Muslim terdahulu.
Harapan dan Masa Depan Pahlawan Cilik Ponorogo
Kemenangan Cello Ar Sabrina Inara di ajang Islamic Child Festival 2025 ini diharapkan tidak menjadi titik akhir, melainkan menjadi batu loncatan untuk prestasi-prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang.
Menjadi Inspirasi bagi Teman Sebaya
Melalui torehan prestasi emas ini, Cello menyelipkan sebuah harapan sederhana namun mendalam bagi teman-teman seusianya. Ia ingin penampilannya di panggung tidak sekadar dinilai sebagai tontonan kompetisi, tetapi bisa menjadi pemantik motivasi bagi anak-anak lain di Ponorogo.
“Saya berharap bisa menginspirasi teman-teman seusia saya untuk terus maju, tetap semangat belajar, dan tidak melupakan atau mencintai sejarah bangsa kita sendiri,” tambahnya dengan bijak.
Fondasi Kuat Menuju Masa Depan Gemilang
Penampilan gemilang dari siswi SD IT Qurrota A’yun Ponorogo ini mengonfirmasi sebuah fakta penting: semangat perjuangan, nilai moral, dan cinta tanah air dapat ditumbuhkan sejak usia dini. Ketika nilai-nilai luhur tersebut ditanamkan pada usia emas (golden age), nilai tersebut akan mengakar kuat dan terus mengiringi setiap langkah kaki mereka dalam menyongsong masa depan yang penuh tantangan.
Ratusan peserta yang pulang dari Taman Wengker hari itu membawa pulang pesan penting yang sama. Dengan sinergi generasi Islam yang kreatif, kuat, cerdas, dan berkarakter nasionalis, cita-cita untuk membangun negeri yang berdaulat dan maju bukan lagi sekadar impian di atas kertas.
Penulis: Amin
Editor: Redaksi
Baca Juga:


Post a Comment